Monday , May 25 2026

Berbuat Baik kepada Orang Tua

Assalamu’alaikum Wr. Wb,

Afwan ustadz, ana sering mengikuti pengajian seputar berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Tapi ana merasa ada yang perlu disampaikan tentang kedua orang tua ana, kayaknya mereka tidak berhak untuk mendapatkan kebaikan dari ana. Kerena mereka selalu berbuat yang tidak baik, seperti mengadu domba, menggunjing, dan melakukan perbuatan jelek lainnya. Bagaimana menurut ustadaz? mohon pendapatnya!

Syukran, wassalam

Andika

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

Akhi Andika yang saya banggakan. Dalam QS. Al ahqaf : 15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا …

“kami pesankan kepada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya…..”

Ayat di atas menunjukkan pesan Allah kepada orang muslim maupun non muslim dengan lafal “al insan (manusia)” untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Hal ini adalah hak Allah Swt. yang harus ditunaikan tentang berbakti kepada orang tua dan tidak dikaitkan dengan kelakuan orang tua. Sehingga hak Allah Swt. ini juga dibarengkan dengan akidah tauhid, seperti yang disampaikanNya dalam QS. Annisa’ : 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

Dan bahkan jika mereka pun musyrik, harus berbuat baik kepadanya sebagaimana dalam QS. Lukman :15,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَÈ

“15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”

Akhi Andika, ayat dengan jelas memerintahkan kita untuk berbuat kepada orang tua yang musyrik. Dalam hadist juga disebutkan

“…Dari Asma’ binti Abi Bakar, pernah didatangi oleh ibunya yang musyriki, kemudian dia meminta pendapat kepada rasulullah untuk bersilataurrahim kepada ibu nya itu dan berkata,” apakah saya boleh bersilaturrahim dengan ibu saya sementara ia musyrik, ya rasulullah?”. Rasulullah pun menjawab, “bersilaturrimlah dengannya”. ( HR. Bukhari).

Maka yang dituntut bagi seorang anak adalah tetap untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun orang tuanya itu berbuat maksiat. Dan kewajiban si anak selalu menasihatkan orang tuanya dan memohon dengan penuh kerendahan hati kepada Allah agar diampuni dosa dan kesalahannya. Hal ini dilakukan tidak hanya pada shalat lima waktu, tapi juga pada waktu pertengahan malam di waktu shalat tahajjud. Wallau’alam

Tentang Tim Jalan Dakwah