Tuesday , May 26 2026

Berpuasa dengan waktu

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.(QS.Al-baqarah:187)

Note : Assalamu’alaikum Wr.Wb. Saudaraku seiman, Wajib kita bersyukur kepada Allah SWT diberi ni’mat dapat menunaikan ibadah puasa Ramadhan di Indonesia dengan waktu normal yaitu sekitar 13 jam. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya perjuangan keimanan saudara – saudara kita kaum muslimin yang ada dibelahan bumi lainnya dengan menjalani waktu siang lebih panjang dari pada waktu malam seperti negara Skandinavia. Negara – negara yang masuk bagian Skandinavia adalah Swedia, Finlandia dan Norwegia Tengah. Negara – negara ini memiliki jangka waktu puasa selama 21 jam karena memasuki musim panas dan waktu matahari yang terbit sangat lama. Hal ini menjadikan puasa di wilayah ini menjadi puasa terlama di dunia. Berikutnya adalah Rusia adalah negara yang terletak di bagian paling utara bumi ini. Kaum muslimin di Rusia menunaikan ibadah puasa selama hampir 19 jam, yakni dari imsak jam 03:15 sampai waktu berbuka puasa pukul 21:37. Kaum muslimin di Inggris melaksanakan ibadah puasa selama 18 jam 5 menit. Sementara kaum muslimin di Negara Amerika 7 Jepang menunaikan ibadah puasa selama 16 Jam. Bagaimana hukumnya kita berpuasa dengan waktu terbit dan terbenamanya matahari yang tidak normal?

Allah SWT sebagai Al-khaliq atau sang pencipta telah menetapkan aturan beribadah sesuai dengan ketentuan-Nya termasuk ibadah shaum Ramadhan. Sesuai dengan definisi puasa secara istilah yang disepakati para ulama adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, disertai dengan niat  berpuasa dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jadi mengawali ibadah puasa standartnya adalah mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari diufuk barat. Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan QS.Al-baqarah ayat 187 diatas,  Allah SWT membolehkan makan, minum dan juga menggauli isteri pada malam hari kapan saja seorang yang berpuasa menghendaki sampai tampak jelas sinar pagi dari gelapnya malam. Dan hal itu Dia ungkapkan dengan benang putih dan benang hitam. Kemudian kesamaran ini dijelaskan dengan, firman-Nya yaitu fajar. Imam Ahmad meriwayatkan, dari asy-Sya’abi, dari Adi bin Hatim katanya; Ketika ayat:  “Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadalahu minal khaithil aswadi” ini turun aku sengaja mengambil 2 ikat tali, satu berwarna putih dan satu lagi berwarna hitam, lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Setelah itu aku melihat keduanya, dan ketika sudah tampak olehku secara jelas antara tali yang putih dari yang hitam, maka aku langsung menahan diri (tidak makan, minum dan berjima’). Dan keesokan harinya aku pergi menemui Rasulullah dan kuberitahukan kepada beliau apa yang telah aku lakukan itu. Maka beliau pun bersabda,  Kalau demikian tentulah bantalmu itu sangat lebar, sebenarnya yang dimaksud adalah terangnya Siang dari gelapnya malam.”(HR.Bukhari dan Muslim.)

Para ulama kontemporer memberikan penjelasan untuk masalah satu wilayah negeri yang memiliki rentang waktu siang yang panjang diantaranya : Pertama, mereka harus melakukan perkiraan hari, malam dan bulan mereka dengan perhitungan waktu yang berlaku di negara yang dekat dengan negara mereka. Negara tersebut memiliki keseimbangan waktu, antara siang dan malamnya memiliki kelapangan waktu  karena Allah telah mewajibkan shalat dan puasa.

Kedua, sebagian berpendapat bahwa mereka hanya perlu memperkirakan waktunya berdasarkan pada negara yang syari’at diturunkan padanya, yaitu Makkah atau Madinah sebab yang demikian itu lebih mudah bagi mereka, khususnya karena mereka menghadapkan diri ke Ka’bah dalam shalat mereka pada setiap harinya.

Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan, Orang – orang yang mempunyai waktu (malam) yang singkat sejak matahari terbenam dari mereka, maka mereka tetap wajib berpuasa dengan melihat negara yang terdekat dengan mereka.(Ref : kitab Tafsir Al-Manaar (Jilid II hal 162).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Tentang Tim Jalan Dakwah