Jumat , April 4 2025

Memakan Hasil Usaha Riba Sang Ayah

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Semoga ustadz selalu sehat dan diberikan kekuatan oleh Allah untuk berdakwah dengan optimal. Saya ingin bertanya tentang hukum memakan hasil usaha riba orang tua, khususnya ayah saya. Mohon pencerahannya ustadz.

Hamba Allah

Wassalam

Waalaikum salam Warahmautllahi Wabarakatuh,

Amiin. Syukran Kastiran atas doanya saudaraku. Semoga Allah Swt. selalu memberikan kita hidayah dan taufikNya.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang meng-ulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:275)

Hadist Bukhari ke 2238

 حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَوْنُ بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: رَأَيْتُ أَبِي اشْتَرَى حَجَّامًا، فَأَمَرَ بِمَحَاجِمِهِ، فَكُسِرَتْ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ قَالَ: «إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ، وَثَمَنِ الكَلْبِ، وَكَسْبِ الأَمَةِ، وَلَعَنَ الوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ، وَآكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَلَعَنَ المُصَوِّرَ»

” Sesungguhnya rasulullah melarang harga dara, harga anjing, ekploitasi budak, melaknat wanita yang bertato dan diminta tatokan, pemakan riba, mewakili riba, dan melaknat orang yang penggambar manusia atau hewan”

untuk pertanyaan saudaraku tentang memakan hasil usaha riba ayahnya, maka dalam hal ini ada dua kondisi sesuai yang disampaikan oleh para ulama:

1. jika saudara lemah dan tidak mampu mendapatkan harta yang halal karena sakit, masih kecil di bawah tanggungan orang tua atau tidak ada orang yang bisa menafkahi anda. maka dibolehkan memakan harta atau hasil usaha itu karena darurat dan sampai bisa terlepas dari keadaan tersebut. Tapi anda harus berusaha terus untuk menasihatkan orang tau anda.

2. Jika kamu mampu dan sanggup untuk bekerja sehingga tidak ada halangan seperti penjelasan di atas, maka tidak boleh anda melakukan hal itu dan haram hukumnya memakan hasil riba tersebut.

Jika usaha orang tua anda lebih banyak haramnya dan tidak semuanya haram, maka jumhur ualama membolehkan anda memakannya dengan hukumnya makruh.

seperti yang dikatakan oleh Imam Sayuthi mahzhab Syafi’i dalam kitab Alasybah wa nazhoir :”harta yang berasal dari usaha yang haram dan tidak jelas, maka hukumnya boleh dimakan dan makruh”.

dan kebanyakan pengikut Maliki, di antaranya Khrsyi melarang dan mengharamkan memakan harta yang hasil usahanya kebanyakan haram, meskipun dia tidak mampu seperti kondisi yang pertama.

Kesimpulannya:

Jika semua hartanya dari usaha yang haram, maka haram untuk memakannya. Dan jika harta itu kebanyakan dari usaha yang haram, maka makruh memakannya. Wallahu’ alam.

Tentang Tim Jalan Dakwah