Saturday , June 20 2026

Fiqh Shalat : Perbedaan Duduk Ifthirasy Dengan Duduk Tawarruk

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Hadist Hari Ini :

” عن عامر بن عبد الله بن الزبير عن أبيه قال: (كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قعد في الصلاة جعل قدمه اليسرى بين فخذه وساقه وفرش قدمه اليمنى, ووضع يده اليسرى على ركبته اليسرى ووضع يده اليمنى على فخذه اليمنى وأشار بإصبعه “.

Artinya: “Dari Amir bin Abdullah bin az-Zubair dari bapaknya ia berkata: bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika duduk di dalam shalat beliau menjadikan telapak kakinya yg kiri berada diantara paha dan betisnya dan membentangkan telapak kakinya yg kanan, dan beliau meletakkan tangannya yg kiri di atas lututnya yg kiri dan meletakkan tangannya yg kanan di atas pahanya yg kanan dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya.(HR. Muslim No.579).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kpd para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang fiqh shalat yaitu perbedaan antara duduk ifthirasy dengan duduk tawarruk.

Ibadah shalat termasuk perkara tauqifi dimana kaifiyat atau tata cara pelaksanaannya tlh ditetapkan oleh Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW maka kita selaku ummatnya dpt mengikuti sesuai dgn petunjuknya. Rasulullah SAW bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Artinya : Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.(HR.Bukhari No.6705).

Namun dlm praktek pengamalan ibadah shalat banyak kita dapati perbedaan pendapat sesuai dgn pendapat Imam Mazhab yg diikutinya. Diantaranya adl perbedaan antara duduk ifthirasy dgn duduk tawaruk pd tahiyyat awal atau tahiyyat akhir.

Utk shalat yg berjumlah 3 rakaat atau 4 rakaat terdiri dari 2 tasyahud yaitu tasyahud awal & tasyahud akhir. Tasyahud Awal adl duduk setelah sujud kedua pd raka’at kedua. Sedangkan Tasyahud Akhir adl duduk sebelum salam pd raka’at terakhir.

Pada tasyahud awal, duduknya adl secara Iftirasy, yaitu duduk dgn menegakkan kaki kanan & membentangkan kaki kiri kemudian menduduki kaki kiri tsb. Sedangkan duduk tawarruk adl duduk dgn menegakkan kaki kanan & menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai.(Ref : Kitab Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, Al Maktabah At-taufiqiyah, 1/347).

Dlm perkara duduk tasyahud ini para ulama mazhab berbeda pendapat terutama yg masyhur terbagi menjadi 4 pendapat yaitu :

Pertama: Duduk didlm shalat adl mutlak Iftirasy, baik duduk diantara dua sujud, tasyahud awal, maupun tasyahud akhir.

Yaitu pendapat Imam Abu hanifah rahimahullahu & yg sepaham dengannya bhw duduk didlm shalat adl mutlak iftirasy, baik duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, maupun tasyahud akhir. Pendapatnya ini berdalil dgn beberapa hadits, diantaranya yaitu :

Perkataan Aisyah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Beliau Rasulullah mengucapkan tahiyyat pd setiap dua rakaat/rakaat kedua, saat itu beliau hamparkan kaki kirinya & menegakkan kaki kanannya.” (HR.Muslim No.498).

Kedua : Duduk didlm shalat adl Tawarruk, baik pd tasyahud awal atau akhir, maupun diantara dua sujud

Hal ini menurut pendapat Imam Malik bin anad rahimahullahu & yg sepaham dengannya, bhw duduk didlm shalat adl tawaruk, baik pd tasyahud awal, atau akhir maupun di antara dua sujud. Pendapat ini didasarkan atas hadits diantaranya :

Perkataan Abdullah Ibnu Umar r.a :
”Bahwasanya sunnah shalat (ketika duduk) adl engkau tegakkan telapak kaki kananmu & melipat yg kiri.” (HR.Bukhari No.793).

Perkataan Abdullah Ibnu Mas’ud r.a :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan tasyahud kepadaku dipertengahan shalat dan di akhirnya.

Katanya lagi,

”Beliau mengucapkan (tasyahud tersebut) jika duduk di pertengahan shalat & di akhirnya di atas warik (bagian atas paha/pantat)-nya yg kiri…” (HR.Ahmad No. 4369).

Hadits2 diatas menyebutkan adanya duduk tawaruk dalam shalat, baik di tengah maupun akhirnya.

Ketiga: Duduk akhir didlm shalat yg memiliki satu tasyahud, yakni duduk Iftirasy & jika memiliki dua tasyahud, tasyahud awal dgn Iftirasy & yg Akhir dgn tawaruk

Pendapat Imam Ahmad bin hambal rahimahullahu & yg sepaham bhw shalat yg memiliki satu tasyahud dgn yg memiliki 2 tasyahud cara duduknya berbeda. Shalat yg memiliki satu tasyahud, duduk akhirnya sama dgn cara duduk di antara 2 sujud, yakni iftirasy. Sementara bila shalatnya memiliki 2 tasyahud, maka tasyahud awal dengan cara iftirasy, sedangkan yg kedua dgn cara tawaruk. Ini merupakan pendapat yg masyhur dari Imam Ahmad. (Kitab Fathul Bari, Ibnu Rajab al-Hambali V/164).

Dalilnya adl hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha yg mengisahkan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat dgn takbir & membaca dgn Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Bila beliau rukuk, beliau tdk menegakkan kepalanya & tdk pula menundukkannya, namun antara keduanya. Bila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau tdk langsung sujud hingga tegak lurus. Apabila beliau bangun dari sujud, beliau tdk langsung sujud lagi hingga duduk sempurna. Serta tiap dua rakaat, beliau mengucapkan tahiyat & duduk iftirasy.” (HR.Muslim)

Keempat: Duduk yg bukan duduk akhir adl Iftirasy, sedangkan duduk yg dilakukan pd tasyahud akhir dgn tawaruk.

Hal ini adl pendapat Imam Syafi’i bin idris rahimahullahu & yg sepaham dgn nya. Mrk berpandangan bhw duduk yg bukan duduk akhir adl iftirasy, sedangkan duduk yg dilakukan pd tasyahud akhir dgn tawaruk. Tdk dibedakan antara shalat yg memiliki 2 tasyahud ataupun satu tasyahud.

Imam Syafi’i berpandangan bhw asal duduk dalam shalat adl tawaruk. Dikecualikan sebagaimana perkataan Muzani bhw Imam Syafi’i berkata, Duduk pd rakaat kedua di atas kanannya.(Kitab Al-Hawi al-Kabir hal.171).(Ref :
http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/fiqh/594-posisi-duduk-dalam-sholat).

Dgn memahami beragamnya pendapat para ulama mazhab dlm kaifiyat ibadah termasuk ibadah shalat maka kita dituntut utk dpt saling menghargai & menghormati perbedaan pendapat yg satu dgn pendapat yg lainnya. Perbedaan ini
masuk dlm wilayah ikhtilaf furu’iyyah bukan tafarruq ushuluddin yg dibenarkan dlm pandangan hukum syara’. Kemudian jgn  sampai kita merasa bhw pendapatnya yg paling benar sendiri sebab setiap pendapat adl benar selama hujjah dalil sbg landasannya dpt dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Tentang Tim Jalan Dakwah