Monday , July 27 2026

Dikotomi Pendidikan, corak sekularisme

Pelajaran Hadist Hari Ini :
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.”(HR.Bukhari-Muslim).

Note : Assalamu’alaikum Wr.wb. Saudaraku seiman, Pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok yang mendasar bagi manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa mengiringi peradaban kehidupan manusia, mulai dari peradaban yang primitif, peradaban emas Islam hingga peradaban modern materalisme ala kapitalisme. Dengan adanya ilmu manusia menempati posisinya sebagai makhluk yang mulia dan dengan adanya ilmu manusia mengenal siapa sesungguhnya dirinya dan siapa sebenarnya Tuhannya. Sebaliknya tanpa ilmu manusia memiliki derajat yang rendah sebab tindakan dan prilakunya tak ubahnya seperti makhluk binatang.
Didalam Islam pendidikan menempati posisi yang mulia karena tidak akan ada amal ibadah tanpa didasari dengan ilmu, tidak akan ada ridho Allah ta’ala tanpa adanya amal ibadah dan tidak dapat diperoleh ilmu tanpa dicari dan dituntut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”.(HR.Ibnu Majah).

Menuntut ilmu dapat ditempuh dengan jalur pendidikan formal maupun informal.
Dalam lembaga pendidikan formal tidak terlepas dari kurikulum sebagai acuan materi ajar peserta didiknya. Kurikulum pendidikan di Indonesia berubah – ubah seiring dengan perubahan kepentingan penguasa mulai dari kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA), kurikulum berbasis kompetensi (KBK), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan terakhir kurikulum 2013 yang disebut K-13. Dapat dikatakan hampir seluruh kurikulum pendidikan Indonesia didominasi oleh corak ide liberalisme yang bersumber dari sekularisme yang lebih menitik beratkan pada nilai sebagai standart hasil pendidikan dari pada ilmu dan akhlaq kepribadian Islam. Disadari ataupun tidak sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan Sekuler materialistik. Hal ini dapat dibuktikan dengan UU Sisdiknas No.20 Thn 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan dan khusus.

Buah dari sistem pendidikan sekularisme adalah menempatkan peserta didik sebatas disiplin keilmuannya. Tak heran seseorang yang menempuh pendidikan agama hanya menguasai ilmu agama semata dan minus IPTEK atau sebaliknya seseorang yang menempuh pendidikan ilmu sains dan teknologi semata minus memahami agama. Pada akhirnya agama dapat dimonopoli oleh sepihak orang – orang tertentu saja atau sains dan teknologi juga dapat dimonopoli tanpa melibatkan unsur – unsur religius. Pada hal Islam tidak pernah mengajarkan hal yang demikian, keahlian dan profesionalisme memang harus dikuasai tapi bukan berarti memisahkan diantara keduanya. Maka saat ini dianggap aneh seorang bergelar sarjana Teknik bicara agama sekaligus sebagai mubaligh atau seorang bergelar sarjana agama bicara IPTEK.

Sejarah peradaban Islam telah mencatat bagaimana seorang saintis sekaligus juga seorang ulama. Ibnu Sina dikenal oleh ilmuwan eropa bernama Avicienna (lahir thn 370 H/985 M) di Bukhara. ia adalah Bapak pelopor ilmu kedokteran dunia ahli bedah.
Di usia 10 tahun Ibnu Sina telah berhasil menghafal isi Al-Qur’an dan mendalami berbagai karya sastra. Usia 16 thn. Ia sudah sanggup menerangkan kembali pada gurunya isi dari buku Isagoge (ilmu logika), buku al-Mages (ilmu astronomi kuno), buku Ecludis (ilmu arsitektur) dan ia menguasai ilmu kedokteran.

Al-khawarijmi lahir thn 780 M di Baghdad, Beliau telah menciptakan pemakaian Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Buku pertama yang ditulisnya berjudul Suratul Ardhi (peta dunia). Al-Khawarizmi menulis buku matematika yang berjudul Hisab Aljabar wal Muqabala. Buku ini berisi tentang persamaan linear dan kuadrat. Dalam bukunya ini ia menjelaskan cara menyederhanakan suatu persamaan kuadrat. Misalnya persamaan:
x + 5x + 4 = 4 – 2x + 5x³
dengan aljabar, persamaan ini menjadi :
x + 7x + 4 = 4 + 5x³
dengan al-muqabala, persamaan ini menjadi lebih sederhana:
x + 7x = 5x³
Karya Al-Khawarizmi telah diterjemahkan oleh Gerhard of Gremano dan Robert of Chaster ke dalam bahasa Eropa pada abad ke-12. sebelum munculnya karya yang berjudul ‘Hisab al-Jibra wa al Muqabalah yang ditulis oleh al-Khawarizmi pada thn 820M. Sebelum ini tak ada istilah aljabar.(Dikutip dari berbagai sumber).

Masih begitu banyak ilmuwan Islam sebagai pelopor perkembangan sains dan IPTEK dunia yang tidak ekspos seperti Ibnu Firnas yang pertama kali memdesaign pesawat terbang, Al-farabi seorang ahli matematika dan logika, Al-battani atau disebut Albattenius ahli astronomi dsb. Sistem pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dengan sistem politik Islam. Selama politik yang dianut adalah Demokrasi sekuler yang memisahkan kehidupan dengan agama sangat sulit dapat mewujudkan ouput pendidikan sebagaimana para ulama dan ilmuwan Islam terdahulu dilahirkan.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Tentang Tim Jalan Dakwah