Pelajaran Hadist Hari Ini :
Allah ‘azza wa jalla berfirman didalam hadist qudsi : “Setiap amal perbuatan manusia adalah untuknya kecuali puasa, ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila salah seorang diantara kalian berpuasa maka hendaknya tidak berucap dengan perkataan yang kotor, tidak berteriak – teriak dan tidak berlaku dzolim. Apabila seseorang mencelanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaknya dia mengatakan, sungguh aku sedang berpuasa (sebanyak 2 kali). Demi dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik dari wangi aroma misik disisi Allah pada hari kiamat kelak. Bagi orang yang berpuasa ada 2 kebahagiaan yang akan dia raih : Apabila berbuka ia berbahagia dengan bukanya dan apabila berjumpa dengan Tuhannya maka ia berbahagia dengan puasanya.”(Hr.Bukhari dan Muslim).
Note : Assalamu’alaikum Wr.wb. Saudaraku seiman, pembahasan tausiyah BBM pada pagi ini dan beberapa hari kedepan masih akan membahas seputar puasa Ramadhan. Allah SWT telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang mulia bagi orang – orang yang beriman. Dampak bulan Ramadhan dapat meraih perubahan baik perubahan individu menjadi mukmin yang bertaqwa, menjadi masyarakat yang bertaqwa bahkan negara yang bertaqwa. Sungguh spektakuler, Bulan Ramadhan memang sangat berbeda dengan bulan – bulan yang lain. Pada hal dalam bulan lain, kaum muslimin juga melaksanakan sholat, sedekah, umrah, dan tilawah Al-Qur’an. Namun, kenapa dampaknya tidak sehebat bulan Ramadhan? Apa yang membedakan Ramadhan dengan sebelas bulan lainnya?
Keistimewaan bulan Ramadhan adalah milik Allah SWT dan Allah SWT pula yang akan memberikan balasannya secara langsung karena pahalanya begitu besar yang tidak dapat dihitung oleh manusia. Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata, Lafadz Aku sendiri yang akan membalasnya merupakan sebuah penjelasan tentang besarnya keutamaan dan banyaknya pahala shaum. Karena orang yang mulia jika memberitahukan bahwa ia sendiri yang akan memberi balasan maka hal itu menunjukkan keluasan dan besarnya balasan yang akan dia berikan.(Kitab Syarh Shahih Muslim, jilid 8 hal 29).
Al-imam Qadhi ‘Iyadh Al-Maliki rahimahullahu berkata: tidak ada yang mampu menghitung besarnya pahala puasa selain Allah SWT oleh karena itu Allah SWT sendiri yang menyerahkan balasannya. Allah SWT tidak mewakilkannya kepada malaikat. Hal yang menyebabkan shaum memiliki keistimewaan ini 2 perkara:
- Seluruh bentuk ibadah lainnya bisa diketahui oleh hamba, sedangkan shaum adalah rahasia antara pelakunya dengan Allah SWT. Ia mengerjakannya ikhlas demi mencari wajah Allah semata, maka Allah pun memberi perlakuan yang istimewa ini selama ia tulus mencari ridha-Nya.
- Inti seluruh amal kebaikan adalah mencurahkan badan atau harta di jalan yang diridhoi oleh Allah. Adapun puasa menundukkan hawa nafsu, menyebabkan kelemahan dan kepayahan badan, ditambah pedihnya rasa lapar dan mencekiknya rasa haus. Maka antara kedua jenis ibadah ini terdapat perbedaan yang mencolok. Puasa terus berlanjut tanpa ada putusnya, dilakukan semata – mata karena Allah, atau dengan taufiq dari Allah SWT. (Kitab Faidhul Qadir Syarh Jami’ Shaghir, penjelasan hadits no. 1970).
Wallahu a’lam
By : Tommy Abdillah
Jalan Dakwah Belajar Islam Bersama