Pelajaran Hadist Hari Ini :
Dalam Hadits Qudsi, dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda : Allah SWT berfirman :
Aku ini menurut prasangka hamba-Ku dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR.Bukhori, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Note : Assalamu’alaikum Wr.wb. Saudaraku seiman, pembahasan tausiyah group BBM pagi ini masih membahas tentang kemuliaan amalan zikir dan dilakukan bersama majelis zikir. Melakukan zikir kepada Allah apakah secara sirr/perlahan atau jahr/bersuara, dilakukan sendiri atau berjama’ah menjadi ikhtilaf/perbedaan dikalangan ulama. Sebahagian ada yang membid’ahkan dan sebahagiaan lainnya membolehkan bahkan menjadi bagian dari amal kebajikan. Tausiyah yang terbatas ini tidak ingin memperdebatkan masalah hal itu kecuali ingin menyampaikan tentang dalil – dalil keutamaan majelis zikir. Diterima ataupun tidak dikembalikan kepada individu kita masing – masing sebab dalam perkara fiqh yang sifatnya furu’iyah perlu bersikap tasamuh/toleransi.
Al-‘alamah Imam Al-Jazari didalam kitabnya Miftaahul Hishnil Hashin berkata : Hadits diatas ini terdapat dalil tentang bolehnya berdzikir dengan jahar/agak keras. Imam Suyuthi rahimahullahu juga berkata: Dzikir dihadapan orang – orang tentulah dzikir dengan jahar, maka hadits itulah yang menjadi dalil atas kebolehannya. Kemudian Hadits Qudsi dari Mu’az bin Anas secara marfu’ Allah SWT berfirman ;
Tidaklah seseorang berdzikir kepada-Ku dalam hatinya kecuali Akupun akan berdzikir untuknya dihadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berdzikir kepada-Ku dihadapan orang – orang kecuali Akupun akan berdzikir untuknya ditempat yang tertinggi.(HR.Thabrani).
Didalam kitab At-Targib wat-tarhib 3/202 dan Majma’uz Zawaid 10/78. Al Mundziri berkata : Isnad hadits diatas ini baik (hasan). Sama seperti pengambilan dalil yang pertama bahwa berdzikir dihadapan orang – orang maksudnya adalah berdzikir secara jahar.
Imam al-Hafidz Al-Maqdisiy dalam kitabnya ‘Al-Umdah Fi Al-Ahkaam’ hal.25 berkata: Abdullah bin Abbas r.a menyebuntukan bahwa berdzikir dengan mengangkat suara dikala para jamaah selesai dari sholat fardhu adalah diamalkan senantiasa dizaman Rasullullah SAW. Ibnu Abbas r.a berkata : Saya memang mengetahui keadaan selesainya Nabi SAW dari sholatnya (ialah dengan sebab saya mendengar) suara takbir (yang disuarakan dengan nyaring).” (HR. Imam Al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Juraij).
Hadits yang sama dikemukakan juga oleh Imam Abd Wahab Asy-Sya’rani dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah hal.110, demikian juga Imam Al-Kasymiriy dalam kitabnya Fathul Baari hal. 315 dan As-Sayyid Muhammad Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya Nuzul Al-Abrar hal.97; Imam Al-Baghawiy dalam kitabnya Mashaabiih as-Sunnah 1/48 dan Imam as-Syaukani dalam Nail al-Authar.
Dan masih banyak lagi dalil mengenai keutamaan kumpulan berdzikir. Hadits diatas cukup jelas bagi kita dan bisa ambil kesimpulan bahwa (kumpulan) berdzikir baik dengan lirih maupun jahar/agak keras itu tidaklah dimakruhkan atau dilarang bahkan didalamnya justru terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya.(Ref : Dikutip dan disarikan dari tulisan Ust.Arifin Ilham).
Jalan Dakwah Belajar Islam Bersama