Selasa , September 29 2020
JalanDakwah.info

Yang Perlu Diamalkan di Kala Jiwa Malas dan Lemah

Adakalanya kita mengalami kenaikan dan penurunan dalam hal ibadah. Terkadang hati menyinarkan cahaya dan terkadang meredup sehingga menyebabkan aktivitas yang seharusnya dlakukan seorang muslim menggalami kemunduran.

Meninggalkan rutinitas dan ikatan-ikatan ibadah lebih disukai oleh jiwa dan lebih mudah untuk dilupakan, maka seharusnya seorang muslim tidak mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu kecuali yang disyari’atkan oleh yang maha pembuat Syari’at yang maha Agung.

Memanfaatkan waktu untuk memenuhi jiwa yang malas dan lemah merupakan petunjuk yang sangat mulia nan bermanfaat, misalnya:

  1. Membaca al-quran dengan memilih waktu yang bervariatif dan disukai. Maka terkadang kita membaca dengan cepat, terkadang membaca dengan tartil, terkadang menghafal, membaca dengan suara lirih dan terkadang membaca dengan suara keras. Terkadang membaca pada malam hari maupun siang hari, tatkala usai menunaikan sholat fardlu dengan memperhatikan kekuatan dan keistiqomahan, serta sedikit dan banyaknya jumlah ayat yang dibaca.
  2. Menunaikan sholat pada waktu-waktu tertentu disertai dengan amalan-amalan yang menyertainya seperti khusyu’. Tatkala jiwa ini sedang giat dalam beribadah harus dimanfaatkan secara maksimal akan sebaliknya ketika jiwa sedang mengalami kemunduran maka diarahkan ke jalan yang benar agar cahaya semangat muncul dan bergegas untuk memohon pertolongan kepada Allah. Terkadang memperbanyak ibadah nafilah pada waktu luang, giat dan sehat.
  3. Mendirikan Qiyamul Lail, di saat jiwa bersih dan giat seakan-akan Qiyamul Lail merupakan malam terakhir bagi kita sehingga hal-hal yang positif terbentuk pada tabiat jiwa yang bersih. Demikian juga melantunkan dzikir, doa baik dari segi kualitas maupun kuantitas, yang umum maupun khusus dan memperhatikan waktu-waktu yang berkualitas.
  4. Waktu-waktu luang dan giat dimanfaatkan untuk mempelajari dan memperdalam ilmu-ilmu penting, seperti: hadits, fiqh, dan tafsir. Akan tetapi pada waktu-waktu bosan dan istirahat sebaiknya dimanfaatkan untuk membaca sejarah, adab, humor dan lain sebagainya.
  5. Bergaul dengan orang lain hendaklah dipergunakan dalam kebaikan, seperti: berdakwah, mengajak kepada kebaikan, sholat berjama’ah, mengurus jenazah serta amalan baik lainnya. Adapun di saat sendiri dimanfaatkan untuk berdzikir, bertafakur, muhasabah diri.

Sebagian hari memiliki keistimewaan dan keutamaan atas sebagian yang lain dan hendaknya jiwa tetap kuat dan bersih di saat melewati hari-hari yang terus berjalan. Kehidupan yang fana ini hanyalah mengumpulkan kekuatan, menyatukan potensi, meninggikan angan-angan dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan.

Hidup tidak terlepas dari masa-masa mudah dan sulit, kesucian dan kekeruhan, kesusahan dan kegembiraan tertawa dan tangis, kesuksesan dan kegagalan, sehat dan sakit. Dalam semua keadaan tersebut hendaknya tetap dilaksanakan karena seorang musafir yang sedang mengembara mencari kebaikan ingin mendapatkan hak-haknya tatkala hari pembalasan pun tiba.

“Berlepas dirilah dari dunia, karena kita datang ke dunia pun tidak membawa suatu apa pun”.

Sumber : bersamadakwah.net

Tentang Tim Jalan Dakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *