Warning: DOMDocument::loadXML() [domdocument.loadxml]: Start tag expected, '<' not found in Entity, line: 1 in /home/jalandakwah/public_html/wp-content/plugins/premium-seo-pack/modules/title_meta_format/init.social.php on line 481
Senin , Juli 22 2019

Recent Posts

Tausiyah senja

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Segala sesuatu itu ada tempat dan haknya sebab Allah SWT telah menciptakan makhluk2-Nya sedemikian rupa sempurnanya. Tubuh manusia yang berhak memilikinya adalah yang menciptakan yakni Allah SWT. Manusia hanya sebatas menjaga dan memanfaatkan amanah tubuh untuk dipergunakan dengan sebaik – baiknya. Organ tubuh manusia disamping memiliki fungsi juga memiliki hak. Mata tidak hanya berfungsi untuk melihat tapi ia juga mempunyai hak untuk istirahat. Perut tidak hanya berfungsi mengolah makanan dan minuman menjadi darah dan energi tapi ia juga memiliki hak untuk disupply makanan dan minuman agar seluruh organ tubuh manusia berfungsi secara normal. Walaupun begitu ada saja diantara manusia yang tidak adil terhadap dirinya sendiri. Disaat mata menuntut dipejamkan diwaktu malam hari untuk tidur tapi ia pergunakan untuk bergadang. Perut menuntut haknya agar diisi dengan makanan dan minuman yang halal lagi baik tapi ia mengabaikannya dengan berbagai macam alasan. Disinilah awal dan pangkal manusia tidak amanah dan tidak adil terhadap dirinya sendiri. Dari sini pula awal manusia tidak mensyukuri ni’mat sehat yang pada akhirnya ia merasakan akibatnya yaitu jatuh sakit. Semoga kita mampu menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dan adil terhadap diri sendiri.

Allah SWT berfirman :    Dan Kami (Allah) jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami (Allah) jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami (Allah) jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami (Allah) jadikan siang untuk mencari penghidupan.(QS.An-naba’:8-11). Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Zheng He: Penjelajah Terbaik China yang Seorang Muslim

Saat orang-orang memikirkan penjelajah hebat, yang ada dalam angan-angan mereka adalah nama-nama yang sudah umum: Marco Polo, Ibnu Batutah, Evliya Celebi, Christopher Colombus, dsb.

Tapi tidak banyak yang tahu tentang salah satu penjelajah paling menarik dan berpengaruh dalam sejarah ini. Di China, namanya cukup terdengar, namun tidak banyak yang mengenalinya atau mengaguminya. Dialah Zheng He, pria Muslim yang menjadi laksamana, penjelajah, serta diplomat paling hebat di China.

Asal Mula

Zheng He lahir pada tahun 1371 di selatan China, tepatnya di daerah Yunnan di tengah-tengah keluarga Hui, etnis China yang memeluk Islam. Nama lahirnya adalah Ma He. Di China, nama marga disebut terlebih dahulu sebelum nama lahir. “Ma” diketahui di China sebagai kependekan dari “Muhammad”, menunjukkan akar Zheng He sebagai seorang muslim. Baik ayah maupun kakeknya mampu untuk pergi haji ke Mekah, jadi Zheng He sudah pasti datang dari keluarga Muslim taat.

Saat masih kecil, kotanya diserbu oleh tentara Dinasti Ming. Dia ditangkap dan dipindahkan ke ibukota Dinasti, Nanjing, dimana dia bekerja untuk keluarga kerajaan. Meski tertindas dan berada dalam situasi sulit, Zheng He mampu berteman dengan salah satu pangeran, Zhu Di. Dan saat Zhu Di diangkat menjadi kaisar, Zheng He naik ke tingkatan tertinggi dalam pemerintahan. Saat inilah dia mendapatkan gelar kehormatan ‘Zheng’, dan Ma He pun kini meyandang nama Zheng He. Di Indonesia, dia lebih dikenal sebagai Cheng Ho.

Ekspedisi

Pada 1405, saat Kaisar Zhu Di memutuskan untuk mengirim sepasukan besar kapal untuk eksplorasi dan perdagangan dengan seluruh dunia, dia memilih Zheng He untuk memimpin ekspedisi. Skala ekspedisi ini amatlah masif. Secara keseluruhan, hampir 30.000 pelaut berangkat untuk setiap pelayaran, dan Zheng He memimpin mereka semua. Antara 1405 hingga 1433, Zheng He memimpin tujuh ekspedisi ke daerah-daerah yang kini menjadi Malaysia, Indonesia, Thailand, India, Sri Lanka, Iran, Oman, Yaman, Arab Saudi, Somalia, Kenya, dan negara-negara lainnya. Bisa jadi dalam salah satu perjalanannya, Zheng He mampir ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.

Zheng He bukan satu-satunya Muslim dalam ekspedisi ini. Banyak dari penasehatnya juga Muslim China, seperti Ma Huan, seorang penterjemah yang dapat berbicara dalam Bahasa Arab hingga dirinya mampu untuk bercakap-cakap dengan para Muslim yang mereka temui sepanjang perjalanan. Dia menulis sebuah jurnal tentang petualangannya, berjudul Ying-yai Sheng-lan, yang kini merupakan referensi penting untuk memahami peradaban di sekitar Samudera Hindia pada abad ke-15.

Melihat ukurannya, ekspedisi ini adalah suatu kejadian yang tidak akan mudah dilupakan orang. Kapal-kapal yang dikomando Zheng He berukuran hingga 400 kaki (sekitar 122 meter) panjangnya, jauh lebih besar dari kapal-kapal Colombus yang berlayar membelah Samudera Atlantik. Selama ratusan tahun, orang-orang mengira proporsi kapal yang terlalu besar ini adalah hal yang dilebih-lebihkan. Akan tetapi, bukti arkeologis dari galangan kapal dimana mereka membangun kapal-kapal tersebut, yang berada di Sungai Yangtze, membuktikan bahwa kapal-kapal ini memang lebih besar daripada lapangan sepak bola modern.

Kemanapun mereka berlayar, mereka mendapatkan rasa hormat (terkadang rasa takut) dari orang-orang lokal, yang kemudian menawarkan hadiah untuk Kekaisaran China. Karena hadiah-hadiah serta perdagangan yang dilakukan dengan orang-orang inilah, Zheng He selalu pulang ke China dengan berbagai macam barang, seperti gading, unta, emas, dan bahkan seekor jerapah dari Afrika. Ekspedisi-ekspedisi ini dilaksanakan untuk membawa satu pesan untuk dunia: bahwa China adalah kekaisaran superpower dalam hal ekonomi dan politik.

Penyebaran Islam

Tidak hanya ekonomi dan politik yang diurus oleh Zheng He dalam petualangannya. Dia dan para penasehatnya yang beragama Islam secara reguler menyebarkan Islam kemanapun mereka pergi. Di pulau-pulau yang termasuk dalam wilayah Indonesia, seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan lainnya, Zheng He bertemu dengan komunitas-komunitas Muslim di sana. Islam telah tersebar di Asia Tenggara beberapa ratus tahun sebelumnya melalui saudagar dari Arab dan India. Zheng He secara aktif mendukung bertumbuhnya Islam di daerah-daerah itu.

Zheng He bahkan mendirikan komunitas Muslim keturunan Tionghoa di Palembang, di seluruh Jawa, Semenanjung Malaya, dan Filipina. Komunitas-komunitas ini mendakwahkan Islam ke warga sekitar dan sangat vital untuk penyebaran Islam di daerah-daerah tersebut. Armada Zheng He juga membangun masjid-masjid dan mendirikan fasilitas-fasilitas umum lainnya yang akan dibutuhkan oleh masyarakat Muslim lokal.

Bahkan setelah kematiannya pada 1433, Muslim keturunan Tionghoa lainnya melanjutkan pekerjaanya di Asia Tenggara untuk menyebarkan Islam. Saudagar Muslim China di Asia Tenggara disarankan untuk menikah dan melakukan asimilasi dengan orang-orang lokal di pulau-pulau dan Semenanjung Malaka. Ini memperbanyak jumlah Muslim di Asia Tenggara, sekaligus menguatkan dan memberi warna pada pertumbuhan komunitas Muslim.

Warisan

Sebagai seorang laksamana, prajurit, dan pedagang, Zheng He adalah seorang raksasa dalam sejarah bangsa China dan agama Islam. Dia dipandang sebagai salah satu figure penting bagi proses persebaran Islam di Asia Tenggara. Sayangnya, setelah kematiannya, kekaisaran China mengganti filosofinya menjadi lebih condong pada ajaran Confusianisme, dimana mereka tidak menyarankan ekspedisi seperti yang dilakukan Zheng He. Sebagai hasilnya, seluruh pencapaian dan kontribusinya terlupakan selama beratus tahun di China.

Namun warisannya di Asia Tenggara memiliki nasib yang bertolak belakang. Banyak masjid di daerah ini dinamai seperti namanya. Islam menyebar dalam berbagai cara di Asia Tenggara, termasuk perdagangan, penceramah keliling, dan imigrasi. Laksamana Zheng He juga merupakan bagian dari persebaran di daerah tersebut. Kini, Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, dan hal tersebut tidak lepas dari peran Zheng He, alias Cheng Ho.*/Tika Af’idah, diambil dari http:www.lostislamichistory.com

Tausiyah senja

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Diantara manusia ada yang berprasangka buruk kepada Allah SWT terhadap perkara musibah yang menimpa dirinya. Ada yang beranggapan kesalahan dan dosa apa yang telah ia perbuat sehingga Allah SWT memberikan musibah kepada dirinya. Ada juga yang berprsangka buruk kepada Allah SWT memperlakukan dirinya secara tidak adil dengan beratnya ujian ataupun musibah yang menimpa dirinya. Maha suci Allah SWT dari segala pensifatan buruk makhluk – mahluk -Nya. Setiap perkara musibah apapun yang menimpa manusia adalah bagian dari qadha atau taqdir Allah SWT. Qadha Allah SWT bersifat mujbar atau memaksa, artinya bila Allah SWT telah berkehendak maka tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghindarinya. Sikap seorang mukmin terhadap perkara musibah yang menimpa dirinya adalah ikhlas dan bersabar. Ikhlas dalam artian menerima dengan lapang dada setiap ketetapan dari Allah SWT serta bersabar untuk menghadapinya. Sebab tidak ada yang dapat diperbuat oleh seorang hamba untuk menolak apalagi menentang ketetapan dari Allah SWT. Ketahuilah, setiap perkara musibah apapun yang menimpa manusia baik yang ringan maupun yang berat terkandung hikmah tersirat yang kelak akan diketahui oleh manusia sendiri. Bisa jadi dengan musibah seorang hamba diangkat derajatnya oleh Allah SWT, ia semakin taat dan dekat dengan Allah SWT, ia semakin bersabar dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini atau Allah SWT akan mengampuni sebahagian dosa – dosa nya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan musibah, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya, walau hanya tertusuk duri sekalipun.”(HR.Bukhari). Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Bunuh Diri Marak, Negara Harus Bertanggung Jawab

[Al-Islam edisi 752, 27 Jumaduts Tsaniyah 1436 H – 17 April 2015 M]

 

Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak di Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, ditemukan tewas di rumahnya pada Jumat (3/4) malam (Merdeka.com, 5/4). Mereka bunuh diri karena tak sanggup menanggung masalah ekonomi.

Di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Merdeka.com (8/4) melaporkan seorang pemuda usia 23 tahun, lulusan sarjana dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta, juga ditemukan mati bunuh diri. Diduga pemicunya karena ia tak kunjung dapat pekerjaan.

Di Bukittinggi, Sumatra Barat, seorang pemuda juga ditemukan mati bunuh diri. Sindonews.com (10/4) mengabarkan pemuda 24 tahun itu bunuh diri juga karena masalah ekonomi.

 

Makin Banyak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, angka bunuh diri di Indonesia meningkat tajam. Pada 2010 angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5.000 orang pertahun. Pada 2012 naik menjadi 4,3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 pertahun.

Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI dr. Eka Viora, Sp.K.J. mengatakan, “Secara global, tiap tahun lebih dari 800.000 orang mati bunuh diri, atau 1 kematian tiap 40 detik. Angka ini berdasarkan penelitian selama 10 tahun di 172 negara.” (Beritasatu.com, 11/9/2014).

 

Akibat Sistem Kapitalisme

Menurut dr. Eka Viora, Sp.K.J., bunuh diri dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti psikologis, sosial, biologis, budaya dan lingkungan. Karena itu terhubung dengan berbagai sumber sangat penting untuk individu yang mungkin rentan terhadap bunuh diri (Beritasatu.com, 11/9/2014).

Menurut dr. Agung Kusumawardhani dari Departemen Psikiatri FK UI, seseorang bisa bunuh diri karena rasa putus asa. Bunuh diri juga sering dikaitkan dengan gangguan kejiwaan seperti depresi. Dalam kondisi depresi berat, seseorang acapkali bersikap pesimis, merasa hidup tak ada gunanya dan tidak mampu memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Akibatnya, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Depresi terjadi ketika seseorang merasakan beban hidup makin berat. Saat beban hidup makin berat, sementara kemampuan menanggung beban makin kecil, maka risiko bunuh diri makin besar.

Beban hidup yang harus dihadapi oleh seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Beban ekonomi, perceraian, ujian, tekanan kerja, tuntutan dari orang sekitar, dan sebagainya sangat erat kaitannya dengan faktor luar itu. Bahkan beban hidup yang makin berat terjadi akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal.

Kapitalisme memaksa negara agar tidak berperan mengurusi rakyat. Berbagai urusan rakyat diserahkan kepada swasta atau asing. Beban hidup yang harus ditanggung rakyat pun makin berat. Semua itu akibat pemiskinan struktural yang merupakan dampak langsung dari penerapan sistem kapitalisme neoliberal. Sistem ini telah mengakibatkan kekayaan hanya bertumpuk pada segelintir orang.

Akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal pula, orang makin sekular (jauh dari agama), makin materialistik (hanya mengejar harta), makin hedonistik (hanya mengejar kesenangan duniawi) dan makin individualistik (hanya mementingkan diri sendiri). Akibatnya, ikatan antarindividu makin getas (rapuh), bahkan ikatan keluarga makin lemah; sementara risiko perceraian meningkat. Alhasil, penerapan sistem kapitalisme neoliberal mengakibatkan beban hidup makin berat dirasakan oleh rakyat secara individual.

Kapitalisme juga menihilkan peran agama. Akibatnya, penguatan kemampuan seseorang menanggung beban diserahkan kepada orang itu sendiri. Negara tak peduli dengan hal itu. Negara tak peduli dengan keimanan dan ketakwaan rakyatnya.

Kapitalisme juga menguatkan ide materialisme dengan tolok ukur kebahagiaan menurut materi. Hal itu bisa mengikis daya tahan orang menghadapi beban hidup.

Kapitalisme juga menanamkan sikap individualisme. Akhirnya, kepedulian terhadap sesama dan kemauan untuk membantu sesama makin tipis.

Alhasil, penerapan sistem dan kebijakan negara justru makin melemahkan kemampuan individu dalam menanggung beban. Beban hidup makin berat dirasakan individu akibat kebijakan negara menaikkan harga BBM, gas, listrik, dsb. Di sisi lain, penguatan kemampuan menanggung beban dengan bantuan dari keluarga dan sesama masyarakat juga makin tipis.

Dengan demikian makin besarnya angka bunuh diri adalah akibat logis dari penerapan kapitalisme neoliberal. Inilah yang telah dan tengah terjadi di negeri ini. Para penguasa dan pejabat negara yang menjadi punggawa dan pilar penerapan sistem kapitalisme neoliberal yang rusak ini tentu ikut bertanggung jawab atas maraknya bunuh diri di negeri ini.

 

Solusi Islam

Angka bunuh diri hanya bisa ditekan seminimal mungkin dengan penerapan sistem Islam secara total (kaffah). Penerapan syariah Islam secara kaffah akan memberikan kehidupan yang baik bagi seluruh rakyat dan menguatkan kemampuan tiap individu dalam menanggung beban hidup semaksimal mungkin.

Syariah Islam mengharuskan tiap individu terus meningkatkan keimanan dan memupuk ketakwaan diri dan keluarganya. Negara wajib untuk terus membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan rakyatnya. Dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi, rakyat tidak mudah putus asa bahkan jauh dari sikap putus asa.

Islam menanamkan bahwa berbagai musibah yang datang bagi orang yang beriman merupakan ujian sehingga bisa meningkatkan derajatnya di dunia dan di sisi Allah. Islam juga mengajarkan, jika seorang Mukmin bersyukur saat mendapat nikmat maka akan ditambah nikmatnya, dan jika ia bersabar saat ditimpa musibah maka itu bisa menggugurkan dosanya sehingga menjadi kebaikan bagi dirinya.

Islam juga mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah saat keridhaan Allah SWT bisa diraih. Dengan itu seseorang tidak menjadi pemburu dunia sehingga tekanan materi dan nafsu duniawi akan bisa dikendalikan.

Islam juga menegaskan bahwa bunuh diri merupakan dosa besar. Allah SWT berfirman:

]وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا[

Janganlah kalian bunuh diri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 29).

 

Rasul saw. juga bersabda:

«وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عَذَّبَهُ اللَّهُ بِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ »

Siapa saja yang bunuh diri dengan sesuatu, niscaya Allah menyiksa dia dengan sesuatu itu di Neraka Jahanam (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Berbekal iman dan takwa, seseorang akan membuang jauh pikiran untuk bunuh diri meski menghadapi beban hidup yang berat. Iman dan takwa tiap individu itu akan dipupuk secara bersama oleh individu, keluarga, masyarakat dan negara. Dengan itu kemampuan seseorang untuk menanggung beban hidup akan besar sekali.

Islam juga mewajibkan sesama anggota masyarakat untuk saling peduli, saling membantu dan meringankan beban sesama. Rasul saw. memberitahu, siapa saja yang meringankan beban seorang Muslim di dunia, niscaya Allah SWT meringankan bebannya di akhirat. Islam pun mewajibkan tanggung jawab kolektif masyarakat untuk menghilangkan kelaparan di tengah mereka. Rasul saw. bersabda:

«…وَأَيُّمَا أَهْلُ عَرْصَةٍ أَصْبَحَ فِيهِمْ امْرُؤٌ جَائِعٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ اللَّهِ تَعَالَى »

Penduduk negeri manapun yang berada di pagi hari, sementara di tengah mereka ada orang yang kelaparan, maka jaminan Allah telah lepas dari mereka (HR Ahmad, al-Hakim dan Abu Ya’la).

Islam pun telah menyediakan mekanisme yang secara pasti bisa meringankan beban hidup di tengah masyarakat. Di antaranya melalui kewajiban zakat dan pendistribusiannya serta anjuran untuk memperbanyak infak dan sedekah.

Sistem ekonomi Islam akan bisa mendistribusikan kekayaan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu dan kebutuhan dasar rakyat menjadi politik ekonomi yang wajib dijamin pelaksanaannya oleh negara melalui penerapan serangkaian hukum-hukum sistem ekonomi Islam.

Sementara itu, dengan penanaman pemahaman Islam kepada masyarakat, ikatan sosial akan terjalin kuat dan ikatan keluarga kokoh terjaga. Masyarakat tidak akan saling tak acuh, apalagi sampai saling memangsa seperti dalam penerapan kapitalisme neoliberal.

Dengan semua itu, angka bunuh diri akan bisa ditekan seminimal mungkin, bahkan bisa dihilangkan. Hal itu hanya bisa terwujud dengan mengakhiri penerapan sistem kapitalisme neoliberal saat ini dan selanjutnya diganti dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh.

Wahai Kaum Muslim:

Kehidupan yang baik, tenteram dan penuh berkah—yang karenanya kasus bunuh diri bisa ditekan bahkan dihilangkan—itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT akan diberikan kepada seluruh penduduk negeri yang beriman dan bertakwa. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (TQS al-A’raf [7]: 96).

Syaratnya adalah dengan menerapkan syariah Allah SWT secara menyeluruh, tentu dalam sistem Islam, yakni Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Kehidupan seperti itulah yang terus diimpikan oleh semua orang. Itulah yang harus kita wujudkan bersama secara nyata dengan amal kita.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

 

Komentar al-Islam:

Sekretariat Jenderal DPR RI telah menyusun rencana umum pengadaan barang dan jasa tahun 2015. Dalam rencana itu, terdapat anggaran untuk keperluan pengharum ruangan 2,3 miliar dan pakan rusa Rp 650 juta. Selain itu tercantum juga anggaran untuk pemeliharaan kompleks rumah jabatan anggota (RJA) di Kalibata, Jakarta Selatan sebanyak Rp 32.150.146.000. Adapun untuk perawatan RJA di Ulujami mencapai Rp 4.162.944.000. (Kompas.com, 14/4).

  1. Padahal dalam kurun waktu lima tahun ini, Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 telah menghabiskan anggaran hingga Rp 11,8 triliun. Namun, besarnya anggaran tersebut berbanding terbalik dengan capaian kinerja Parlemen yang relatif rendah. (Kompas.com, 17/2/2014),
  2. Kebiasaan lama tidak berubah. Pejabat dapat fasilitas wah, tetapi keberpihakan mereka kepada rakyat makin parah.

Tausiyah senja

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Sikap yang ramah, murah senyum dan supel dalam bersosial adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Para ahli kesehatan banyak melakukan riset bahwa orang yang selalu memiliki senyuman memiliki efek bagi kesehatan. Orang yang selalu senyum di wajahnya cenderung lebih bahagia bahkan terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Sebuah senyuman memberikan banyak manfaat bukan hanya dapat mengisyaratkan kepada orang lain bahwa diri kita sedang bahagia tapi senyuman juga dapat membuat jiwa lebih tenang. Ada perbedaan antara senyuman yang ikhlas dengan yang terpaksa. Senyuman ikhlas murni dari lubuk hati yang dalam sehingga mendapatkan respon positif dari orang lain. Sebaliknya orang yang tersenyum dengan rasa terpaksa yang direkayasa akan menimbulkan tanda tanya. Islam telah mensyari’atkan untuk senantiasa dapat murah senyum dan ramah kepada setiap manusia terlebih kepada sesama mukmin. Tentunya hal itu dilakukan kepada sesama jenis atau kepada orang yang terkategori sebagai mahram. Senyum itu mudah dan murah tapi efeknya luar biasa, sedangkan wajah cemberut itu susah dan efeknya amat buruk bagi jiwa. Orang yang suka  cemberut tampak wajahnya lebih tua dan selalu susah.

Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“.(HR.Tirmidzi). Wallahu a’lam

By :Tommy Abdillah

Solusi membeli rumah tanpa kredit

Assalamu’alaikum.
Mohon maaf pak ustadz menanggapi postingan bapak, jadi kira – kira apa solusi penggantinya jika ingin punya rumah tapi agak sulit jika harus menunggu tabungan terkumpul untuk membeli tanpa kredit seperti itu?

Dari ibu Maryam 0831910871..

Ibu Maryam yang dirahmati Allah, Dimana ada kemauan disana akan ada jalan. Sekedar sharing pengalaman pribadi. Alhamdulillah saya bertekad tidak akan bertransaksi riba dan Alhamdulillah Allah SWT memberi jalan kepada saya untuk memiliki rumah tanpa riba. Saya dipertemukan dengan seorang pengusaha properti yang mau membangunkan rumah buat saya, sementara saya hanya bermodalkan kavling tanah. Saya berakad kredit sayaar’ie tanpa ada denda penalti dan bunga. Saya memberikan uang DP dan cicilan setiap bulan sesuai yang disepakati. Aqad yang diberkahi Allah, saya ditolong dan sang pengusaha mendapatkan keuntungan. Allah SWT berfirman, Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs.Ath-Thalaq:2-3).

Jazaakumullahu khairan atas penjelasannya pak.
Perihal ini rasanya sering jadi salah satu sebab dilema, karna mengingat tempat tinggal juga merupakan salah satu kebutuhan pokok, tapi harganya juga tidak semurah kebutuhan pokok lain.

Jawab : Prinsipnya adalah Allah maha kaya dan sumber rezqi itu dari Allah. Kemudian perkara yang haram tidak akan berubah status menjadi halal dengan alasan kebutuhan kecuali kondisi darurat seperti haramnya makan daging babi dibolehkan ketika nyawa akan terancam dan tidak ada bahan makanan yang lain kecuali daging babi. Lalu pertanyaannya adalah : apakah ketika kita tidak kredit rumah nyawa kita terancam? Tentu saja tidak karena kita masih bisa ngontrak atau beli tanah kaveling kemudian membangunnya secara bertahap.

 

Solusi orang yang sudah terlanjur menggunakan Kartu Kredit

Ustadz bagaimana solusi  orang – orang yang sudah terlanjur pakai kartu kredit
Dan kenapa MUI berdiam diri saja kalau memang kartu kredit itu di kategorikan “riba”.. Terima kasih ..

Dari Fiyan 08789432..

Pak Fiyan yang dirahmati Allah, Solusi bagi seorang hamba yang bermaksiat kepada Allah SWT adalah bertaubat dengan taubat nasuha. Sebanyak apapun dosa seseorang bila ia bertaubat dengan ikhlas maka in sayaaa Allah Allah akan menerima taubatnya . Allah SWT berfirman, Hai orang – orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha yang semurni – murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan – kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai – sungai.(QS.At-tahrim:8).

Sayarat – syarat taubat :
1. Menyesal. 2. Berhenti dari dosa, dan 3. Bertekad untuk tidak mengulanginya.

Mengenai peran MUI sebenarnya sudah mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga Bank. Fatwa Dewan Sayaari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan sayaari’ah.

Perlu kita fahami bahwa Kedudukan MUI bukanlah lembaga struktural negara yang memiliki peran menegakkan hukum. MUI hanya memberikan seruan tanpa ada kekuatan yang mengikat untuk menerapkan, yang mau menerapkan silahkan kalaupun tidak ya silahkan. Pada hal didalam Islam kedudukan hukum wajib itu untuk diterapkan dan yang haram untuk ditinggalkan oleh penyelenggara negara. Disinilah peran negara tidak dapat dipisahkan dengan agama. Imam Al-ghazali menyatakan bahwa agama adalah asas dan negara adalah penjaga. Sesuatu yang tidak ada asasnya akan runtuh dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan hilang. Wallahu a’lam

Bank ASI dan Saudara Sepersusuan

Assalamu’alaikum ustadz, mengenai ibu yang menyusui dan saudara sepersusuan. Apakah yang dimaksud anak yang susui secara langsung oleh si ibu atau yang meminum asi sang ibu? Karena mengingat sekarang ada Bank ASI atau donor asi. Mohon penjelasan.

Dari ibu Elvi di Medan member Tausiyah group BBM.

Wa ‘alaikumsalam wr.wb, Ibu Elvi yang dirahmati Allah mengenai mahrom rodho’ah atau karena persusuan adalah ibu yang langsung menyusui, anak yang disusui atau sepersusuan. Jadi kalau ada seorang anak menyusu dari Bank ASI harus tau siapa yang mendonorkan ASI tersebut sebab bisa jadi suatu hari nanti ia akan bertemu atau bahkan
Maaf terputus, Bahkan akan menikahi saudara sepersususan. Wallahu a’lam.

Nah itu dia ustadz, beberapa hari yang lalu di TV ada sebuah kajian islam yang membahas ASI. Di situ dinyatakan bahwa hanya yang langsung disusui oleh si ibu yang menjadi saudara sepersusuan. Sedangkan yang tidak disusui langsung / bank susu di anggap tidak sepersusuan. Bingung juga waktu itu.

Apa ada penjelasan yang lebih spesifik gak ustadz?.

Ibu Elvi, terkait dengan Bank ASI bahagian dari Fiqhi kontemporer yang tidak dijumpai kasus tersebut pada zaman Rasulullah SAW ataupun sahabat maka yang diperlu dilakukan adalah mengambil injtihad pendapat para ulama. Adapun dalil Al-quran tentang saudara persusuan mahram : Ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan….” (Qs. an-Nisa: 23). Jadi dengan berpegang kepada dalil ayat ini perlu kita simpulkan sesuai dengan kaidah Ushul fiqh : Al-umumu yabqo bilumumi malam yarid dalil takhsis yaitu keumumam dalil tetap pada teks keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Menurut saya saudara sepersusuan dari Bank ASI tetap mahram.

Jazaakallahu ustadz.

Tausiyah senja

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Sebagai seorang mukmin kita memiliki kewajiban untuk bersyukur atas limpahan ni’mat dari Allah SWT. Salah satu ciri hamba yang pandai bersyukur adalah merasa cukup dengan pemberian Allah SWT yang disebut dengan qona’ah. Qona’ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rizki yang Allah SWT berikan. Inilah sebenarnya kunci meraih kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Sebab berapapun banyaknya harta yang diberikan Allah SWT kepada manusia ia tidak akan pernah merasa cukup dan akan selalu merasa kurang. Bagaikan air laut yang asin bila diminum tidak akan pernah menghilangkan rasa dahaga. Sifat qana’ah adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah SWT, termasuk dalam hal pembagian rizki. Barang siapa yang tidak bisa bersyukur dengan yang sedikit maka ia tidak akan dpt bersykur dengan yang banyak. Barang siapa yang tidak bisa berterima kasih kepada manusia maka ia tidak akan bisa berterima kasih kepada Allah SWT. Apa yang sudah kita miliki maka syukurilah sebab belum tentu orang lain memiliki apa yang kita miliki bahkan masih banyak keadaan orang lain yang tidak seberuntung dengan keadaan diri kita.

Rasululah SAW bersabda, Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia/harta, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan/kecukupan dalam hati.(HR.Bukhari No.6081 dan Muslim No.120). Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Tausiyah Senja

Assalamu’alaikum.

Saudaraku seiman, Masalah hidup yang datang bertubi – tubi tak jarang membuat suasana hidup terasa sempit. Kehidupan ini memang tidak pernah lepas dari masalah, satu masalah bisa jadi telah selesai tapi kelak akan ada masalah berikutnya. Masalah hidup sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan karena bila mau bijak dalam menyikapinya maka ada hikmah besar disetiap masalah. Ruang lingkup masalah itu bermacam ragam ada yang sifatnya adalah ujian dari Allah SWT atau ada juga yang disebabkan karena memang kecerobohan maupun kedzoliman diri sendiri. Masalah adalah guru yang paling bijak bagi manusia dan masalah adalah anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai derajat taqwa. Semakin tinggi derajat keimanan seorang hamba maka semakin berat ujian hidupnya. Eksistensi masalah hidup untuk dihadapi dan diselesaikan bukan malah justru dibiarkan ataupun lari dari masalah karena pasti akan menambah beban berat kehidupan. Hidup punya masalah itu sudah lumrah tapi bila hidup selalu membuat masalah itu adalah hal yang tidak wajar. Selamat menghadapi masalah hidup semoga dapat lulus dari ujian dengan gemilang.

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash r.a ia berkata, Aku bertanya kpd Rasulullah SAW, Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya? Nabi SAW menjawab, Para nabi kemudian yang menyerupai mereka dan yang menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji sesuai dengan itu/ringan dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu/keras. Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa2. (HR.Bukhari). Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Akhirnya, Pesawat-pesawat Para Penguasa Agen Bergerak. Namun, Kemana? Mereka Bergerak untuk Membunuh Kaum Muslim, Bukan untuk Memerangi Musuh!

[Al-Islam edisi 750, 13 Jumada ats-Tsaniyah 1436 H – 3 April 2015 M]

بسم الله الرحمن الرحيم

Akhirnya, Pesawat-pesawat Para Penguasa Agen Bergerak. Namun, Kemana? Mereka Bergerak untuk Membunuh Kaum Muslim, Bukan untuk Memerangi Musuh!

 Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat ‘Adil al-Jubair pada Kamis pagi 26/3/2015 mengumumkan bahwa operasi militer melawan Houthi—yang mencakup serangan udara yang dilancarkan oleh sepuluh negara, di antaranya negara-negara Teluk, kecuali Kesultanan Oman—telah dimulai. Al-Jubair menjelaskan bahwa Saudi telah berkonsultasi dengan Amerika Serikat dalam operasi militer melawan Houthi yang telah dimulai itu.

Menteri Luar Negeri Mesir juga mengumumkan partisipasinya dan pengiriman empat kapal perangnya yang sedang dalam perjalanan ke Teluk Aden.

Juru Bicara resmi Angkatan Bersenjata Sudan juga mengumumkan, “Bertolak dari tanggung jawab keislaman kami, maka Sudan ikut berpartisipasi dan tidak akan berpangku tangan. Bahaya menimpa kiblat kaum Muslim, tempat turunnya wahyu dan risalah penutup.”

Pesawat-pesawat dan kapal-kapal perang para penguasa agen itu bergerak untuk menyerang Yaman, bukan menyerang Yahudi. Padahal Yahudi itu lebih dekat dari mereka dibandingkan dengan Saba’ (Yaman)! Hal sangat buruk mereka katakan untuk menjustifikasi tindakan mereka, bahwa serangan itu untuk melindungi kiblat kaum Muslim (Makkah). Padahal Makkah tidak sedang diduduki. Sebaliknya, kiblat pertama kaum Muslim (Al-Quds) mereka biarkan. Padahal al-Quds sedang diduduki Yahudi dan terus berteriak meminta pertolongan!

Pesawat-pesawat mereka itu bergerak ke Yaman untuk kepentingan kaum kafir penjajah. Pesawat-pesawat mereka tidak bergerak untuk membebaskan bumi penuh berkah (Palestina) yang diduduki oleh manusia yang paling keras permusuhannya (Yahudi) kepada kaum Muslim!

Sungguh, tiap orang yang memiliki penglihatan dan pandangan akan paham, bahwa apa yang terjadi di Yaman adalah pergolakan antara Amerika serta para pengikutnya dari kalangan Houthi dan kelompok lainnya di satu sisi, dengan Inggris serta para pengikutnya yakni Hadi dan Saleh serta kelompok mereka di sisi yang lain. Hal itu seperti yang telah kami jelaskan kepada masyarakat dalam berbagai publikasi kami sebelumnya: “Sesungguhnya pergolakan di Yaman terjadi di antara dua kelompok: Amerika dan para pengikut dan agennya dengan Inggris dan para pengikut dan agennya. Masing-masing kelompok menggunakan berbagai cara dan sarana…Amerika berjalan dengan logika kekuatan Houthi, gerakan-gerakan selatan dan Iran; selain strategi negosiasi untuk mewujudkan sejumlah capaian melalui Jamal bin Umar…Adapun Inggris berjalan dengan logika kecerdikan politik melalui Hadi yang mengeksploitasi otoritas kepresidenannya dan berlaku ‘sopan’ kepada Amerika untuk menghalangi tekanan-tekanan AS dan agar AS tidak mendapat posisi strategis di pemerintahan. Inggris juga mendorong Saleh dan orang-orangnya untuk bergabung dengan Houthi sehingga jika Hadi gagal dan posisi Houthi lebih unggul maka Inggris tetap mendapat bagian di pemerintahan—seberapa pun bagian itu—melalui Ali Saleh dan orang-orangnya. Inilah yang terjadi di Yaman. Inggris tidak lagi mampu mendominasi Yaman seperti dulu. Inggris juga tidak mampu melawan Amerika dan agen-agennya secara militer. Karena itu Inggris sengaja menggunakan kecerdikan politik melalui kedua agennya, Hadi dan Ali Saleh…(1/10/2014).”

Amerika telah mendukung Houthi melalui Iran dengan berbagai macam senjata dan peralatan militer agar mereka mampu mengontrol Yaman menggunakan kekuatan. Sebabnya, Amerika paham bahwa lingkungan politik (di Yaman) pada galibnya adalah buatan Inggris. Begitulah, Houthi beranggapan, mereka memiliki kekuatan yang bisa mengontrol Yaman. Karena itu mereka mengepung Presiden Hadi agar bisa mendapatkan dari Presiden apa yang mereka inginkan melalui undang-undang yang dikeluarkan oleh Presiden. Presiden Hadi sebelumnya setuju, tetapi kemudian menunda-nunda pelaksanaannya. Karena itu Houthi lalu memberlakukan tahanan rumah terhadap Hadi. Namun kemudian, Presiden Hadi bisa lolos dan pergi ke Aden. Houthi bisa menyusul Hadi, tetapi Hadi kembali bisa lolos untuk kedua kalinya.

Begitulah harapan dan tempat yang dituju terasa makin jauh bagi mereka. Mereka menyebar di wilayah tanpa pengasuh yang menerima mereka, kecuali para pengikut Saleh yang berjalan bersama mereka agar bisa berbagi kekuasaan dengan mereka jika mereka berhasil mengalahkan Hadi, atau sebaliknya melecehkan mereka jika mereka gagal bahkan hingga jika mereka ditimpa oleh sesuatu kegagalan!

Tanda-tanda hal itu sangat menonjol. Partai Kongres Rakyat Umum (The General People’s Congress) yang dipimpin oleh mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengumumkan, “Partai tidak memiliki hubungan apapun dengan apa yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Houthi, yakni upaya mereka menjatuhkan propinsi-propinsi selatan dan menyempurnakan operasi mengkudeta kekuasaan legal di Yaman.”

Keterangan yang dikeluarkan oleh Komite Umum (General Committee) dari Biro Politik (Political Bureau) Partai Kongres mengatakan “Apa yang terjadi di Yaman adalah akibat pertarungan memperebutkan kekuasaan di antara beberapa kelompok dan tidak ada hubungannya dengan Partai Kongres Rakyat Umum baik dari dekat maupun jauh.” (Al-Arabiya, 26/3/2015).

Demikianlah, seolah-olah kemarin Partai Kongres tidak bersekutu dengan Houthi dalam perdamaian dan perang mereka! Tentu, tidak aneh jika Partai Kongres akan kembali ke jalan sebelumnya jika Houthi lebih unggul. Betapa cepat agen-agen itu ‘mengganti kulit’ sesuai peran yang digariskan untuk mereka oleh tuan-tuan mereka! Alangkah buruk apa yang mereka perbuat.

Amerika paham bahwa Houthi, pengikut AS, telah berada dalam situasi kacau. Mereka telah menyebar di negeri (Yaman), tetapi tidak bisa mendominasi dan juga tidak bisa kembali ke basis kekuatan mereka di utara. Karena itu Amerika berpandangan untuk menyelamatkan mereka dengan aksi militer terbatas dengan cara “menembak dua burung dengan satu tembakan”: Pertama, untuk menonjolkan mereka (Houthi) sebagai korban yang sebelumnya masyarakat melihat agresi mereka. Kedua, menciptakan suasana negosiasi darurat untuk sampai pada solusi jalan tengah—seperti kebiasaan Amerika—ketika tidak mampu mengambil semuanya sendirian.

Hal itu telah menjadi jelas dengan memantau apa yang telah dan sedang terjadi. Saudi berkonsultasi dengan Amerika sebelum aksi militernya di Yaman. Pihak-pihak yang melakukan peran militer secara aktif adalah agen-agen Amerika, khususnya Salman, Raja Saudi, dan al-Sisi, Presiden Mesir. Adapun negara-negara Teluk lainnya, Yordania dan Maroko lebih memainkan peran politis menurut kebiasaan Inggris dalam mendampingi Amerika. Tujuannya adalah agar Inggris berada dalam potret dan mendapat bagian dalam negosiasi-negosiasi mendatang agar bisa memperoleh pembagian pengaruh.

Aksi-aksi militer kadang kala berhasil membuka pintu negosiasi, namun kadang kala gagal. Akibatnya, masalahnya menjadi kacau kembali, menyengsarakan Yaman yang dulu bahagia pada hari yang tidak jauh, yaitu pada hari saat Bumi Yaman yang bersih tidak dimasuki oleh para agen dan orang-orang kafir penjajah.

 

Wahai Kaum Muslim:

Mereka adalah para penguasa kita. Namun, mereka itu musibah besar yang menimpa kita. Kita belum mengerahkan segenap daya upaya untuk membebaskan diri dari musibah itu hingga bencana menimpa kita secara umum; negeri menjadi terlantar, mereka membuat banyak kerusakan di negeri, kekayaan kita dirampok dan darah kita pun ditumpahkan. Kita melupakan firman Allah SWT:

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ‏ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (TQS al-Anfal [8]: 25).

 

Kita pun melupakan sabda Rasul saw.:

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا ظَالِمًا، فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ ‏يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»

Sesungguhnya manusia itu, jika melihat orang zalim, lalu tidak menindak dia, maka hampir saja Allah menimpakan sanksi dari sisi-Nya secara merata (HR at-Tirmidzi dari jalur Abu Bakar ra.).

 

Mereka adalah para penguasa kita. Namun, saat Palestina, Bumi Isra’ dan Mikraj, kiblat pertama dari dua kiblat, berteriak meminta pertolongan kepada mereka, mereka tidak menolong; seolah-olah ada sumbat di telinga mereka dan ada tutup pada mata mereka. Sebaliknya, para penguasa itu bergegas patuh untuk melaksanakan berbagai kepentingan kaum kafir penjajah. Tidak terlihat pesawat-pesawat, tank-tank dan kapal-kapal perang mereka bergerak menghadapi musuh-musuh Islam dan kaum Muslim; semuanya tetap terparkir diam di baraknya. Sebaliknya, semuanya bangun dan menyalak hanya dengan isyarat dari para pemimpin politik yang tidak memelihara hubungan (kerabat) dengan orang-orang Mukmin dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Para penguasa itu menampakkan diri sebagai orang besar di depan penduduk negeri, tetapi mereka lebih kecil dari orang kecil atau malah lebih rendah lagi di hadapan para musuh. Dilaknati Allahlah mereka. Bagaimana mereka bisa berpaling?

 

Wahai Kaum Muslim:

Penyelamatan Yaman dari ujian tidaklah dengan mendukung para pengikut Inggris atau para pengikut Amerika; juga tidak dengan berpura-pura mendukung yang ini atau yang itu. Akan tetapi, penyelamatan Yaman terjadi dengan mobilisasi warganya secara mulia, ikhlas untuk Allah SWT dan percaya kepada Rasulullah saw. untuk menghilangkan orang-orang jahat dari kedua pihak, menyelamatkan negeri dan penduduknya dari pengkhianatan mereka, dan mengembalikan Yaman ke asalnya sebagai negeri keimanan dan hikmah yang menjunjung Panji al-‘Uqab, Panji Rasulullah saw., serta berhukum pada syariah Allah SWT di dalam Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ – بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾

Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang beriman karena pertolongan Allah. Allah menolong orang yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (TQS ar-Rum [30]: 4-5).

 

Wahai Kaum Muslim,

Wahai Warga Yaman:

Hizbut Tahrir menyampaikan seruan kepada Anda dengan kejujuran dan keikhlasan agar Anda jangan sampai bisa ditakut-takuti oleh kesombongan Amerika, para pengikut dan kelompoknya; juga jangan sampai terpedaya oleh kelicikan Inggris, para pengikut dan kelompoknya. Mereka semua adalah musuh kita. Karena itu berhati-hatilah dengan mereka. Tolonglah Allah SWT niscaya Allah SWT menolong Anda dan meneguhkan kedudukan Anda.

﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ﴾‏

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (TQS Qaf [50]: 37)

 

7 Jumada ats-Tsaniyah 1436 H

27 Maret 2015 M

 

Hizbut Tahrir

Tausiyah senja

 Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Menjalani kehidupan ini memang tidak dapat dilepaskan dari ketidak pastian. Ketidak pastian akan hari esok dan masa depan hidup manusia mengindikasikan bahwa kehidupan ini dalam genggaman kekuasaan Allah SWT. Tidak ada jamninan tubuh akan tetap sehat, usia yang panjang, karir tetap melejit ataupun bisnis yang terus tumbuh dan berkembang. Semua mengalami dinamisasi sesuai dengan alur kehidupan dibawah ketetapan qodho dan qodar Allah SWT. Manusia boleh memiliki perencanaan yang matang, aksi yang optimal, kontrol dan evaluasi yang handal sebagai aktualisasi ikhtiar untuk meraih impian dan tujuan. Namun semua hal itu bukanlah penentu mutlak dari suatu keberhasilan. Dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan terdapat kekuasaan maha besar Allah SWT. Dialah Allah SWT yang mengatur kehidupan manusia sedemikian rupa. Bila manusia menyadari eksistensi kelemahan dirinya sebagai makhluk lalu mengapa ia tetap berpaling dari Allah SWT?.

Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah yang menurunkan hujan, Dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.Luqman:34). Wallahu a’lam

 

Akhirnya, Pesawat-pesawat Para Penguasa Agen Bergerak. Namun, Kemana? Mereka Bergerak untuk Membunuh Kaum Muslim, Bukan untuk Memerangi Musuh!

[Al-Islam edisi 750, 13 Jumada ats-Tsaniyah 1436 H – 3 April 2015 M]

بسم الله الرحمن الرحيم

Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat ‘Adil al-Jubair pada Kamis pagi 26/3/2015 mengumumkan bahwa operasi militer melawan Houthi—yang mencakup serangan udara yang dilancarkan oleh sepuluh negara, di antaranya negara-negara Teluk, kecuali Kesultanan Oman—telah dimulai. Al-Jubair menjelaskan bahwa Saudi telah berkonsultasi dengan Amerika Serikat dalam operasi militer melawan Houthi yang telah dimulai itu.

Menteri Luar Negeri Mesir juga mengumumkan partisipasinya dan pengiriman empat kapal perangnya yang sedang dalam perjalanan ke Teluk Aden.

Juru Bicara resmi Angkatan Bersenjata Sudan juga mengumumkan, “Bertolak dari tanggung jawab keislaman kami, maka Sudan ikut berpartisipasi dan tidak akan berpangku tangan. Bahaya menimpa kiblat kaum Muslim, tempat turunnya wahyu dan risalah penutup.”

Pesawat-pesawat dan kapal-kapal perang para penguasa agen itu bergerak untuk menyerang Yaman, bukan menyerang Yahudi. Padahal Yahudi itu lebih dekat dari mereka dibandingkan dengan Saba’ (Yaman)! Hal sangat buruk mereka katakan untuk menjustifikasi tindakan mereka, bahwa serangan itu untuk melindungi kiblat kaum Muslim (Makkah). Padahal Makkah tidak sedang diduduki. Sebaliknya, kiblat pertama kaum Muslim (Al-Quds) mereka biarkan. Padahal al-Quds sedang diduduki Yahudi dan terus berteriak meminta pertolongan!

Pesawat-pesawat mereka itu bergerak ke Yaman untuk kepentingan kaum kafir penjajah. Pesawat-pesawat mereka tidak bergerak untuk membebaskan bumi penuh berkah (Palestina) yang diduduki oleh manusia yang paling keras permusuhannya (Yahudi) kepada kaum Muslim!

Sungguh, tiap orang yang memiliki penglihatan dan pandangan akan paham, bahwa apa yang terjadi di Yaman adalah pergolakan antara Amerika serta para pengikutnya dari kalangan Houthi dan kelompok lainnya di satu sisi, dengan Inggris serta para pengikutnya yakni Hadi dan Saleh serta kelompok mereka di sisi yang lain. Hal itu seperti yang telah kami jelaskan kepada masyarakat dalam berbagai publikasi kami sebelumnya: “Sesungguhnya pergolakan di Yaman terjadi di antara dua kelompok: Amerika dan para pengikut dan agennya dengan Inggris dan para pengikut dan agennya. Masing-masing kelompok menggunakan berbagai cara dan sarana…Amerika berjalan dengan logika kekuatan Houthi, gerakan-gerakan selatan dan Iran; selain strategi negosiasi untuk mewujudkan sejumlah capaian melalui Jamal bin Umar…Adapun Inggris berjalan dengan logika kecerdikan politik melalui Hadi yang mengeksploitasi otoritas kepresidenannya dan berlaku ‘sopan’ kepada Amerika untuk menghalangi tekanan-tekanan AS dan agar AS tidak mendapat posisi strategis di pemerintahan. Inggris juga mendorong Saleh dan orang-orangnya untuk bergabung dengan Houthi sehingga jika Hadi gagal dan posisi Houthi lebih unggul maka Inggris tetap mendapat bagian di pemerintahan—seberapa pun bagian itu—melalui Ali Saleh dan orang-orangnya. Inilah yang terjadi di Yaman. Inggris tidak lagi mampu mendominasi Yaman seperti dulu. Inggris juga tidak mampu melawan Amerika dan agen-agennya secara militer. Karena itu Inggris sengaja menggunakan kecerdikan politik melalui kedua agennya, Hadi dan Ali Saleh…(1/10/2014).”

Amerika telah mendukung Houthi melalui Iran dengan berbagai macam senjata dan peralatan militer agar mereka mampu mengontrol Yaman menggunakan kekuatan. Sebabnya, Amerika paham bahwa lingkungan politik (di Yaman) pada galibnya adalah buatan Inggris. Begitulah, Houthi beranggapan, mereka memiliki kekuatan yang bisa mengontrol Yaman. Karena itu mereka mengepung Presiden Hadi agar bisa mendapatkan dari Presiden apa yang mereka inginkan melalui undang-undang yang dikeluarkan oleh Presiden. Presiden Hadi sebelumnya setuju, tetapi kemudian menunda-nunda pelaksanaannya. Karena itu Houthi lalu memberlakukan tahanan rumah terhadap Hadi. Namun kemudian, Presiden Hadi bisa lolos dan pergi ke Aden. Houthi bisa menyusul Hadi, tetapi Hadi kembali bisa lolos untuk kedua kalinya.

Begitulah harapan dan tempat yang dituju terasa makin jauh bagi mereka. Mereka menyebar di wilayah tanpa pengasuh yang menerima mereka, kecuali para pengikut Saleh yang berjalan bersama mereka agar bisa berbagi kekuasaan dengan mereka jika mereka berhasil mengalahkan Hadi, atau sebaliknya melecehkan mereka jika mereka gagal bahkan hingga jika mereka ditimpa oleh sesuatu kegagalan!

Tanda-tanda hal itu sangat menonjol. Partai Kongres Rakyat Umum (The General People’s Congress) yang dipimpin oleh mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengumumkan, “Partai tidak memiliki hubungan apapun dengan apa yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Houthi, yakni upaya mereka menjatuhkan propinsi-propinsi selatan dan menyempurnakan operasi mengkudeta kekuasaan legal di Yaman.”

Keterangan yang dikeluarkan oleh Komite Umum (General Committee) dari Biro Politik (Political Bureau) Partai Kongres mengatakan “Apa yang terjadi di Yaman adalah akibat pertarungan memperebutkan kekuasaan di antara beberapa kelompok dan tidak ada hubungannya dengan Partai Kongres Rakyat Umum baik dari dekat maupun jauh.” (Al-Arabiya, 26/3/2015).

Demikianlah, seolah-olah kemarin Partai Kongres tidak bersekutu dengan Houthi dalam perdamaian dan perang mereka! Tentu, tidak aneh jika Partai Kongres akan kembali ke jalan sebelumnya jika Houthi lebih unggul. Betapa cepat agen-agen itu ‘mengganti kulit’ sesuai peran yang digariskan untuk mereka oleh tuan-tuan mereka! Alangkah buruk apa yang mereka perbuat.

Amerika paham bahwa Houthi, pengikut AS, telah berada dalam situasi kacau. Mereka telah menyebar di negeri (Yaman), tetapi tidak bisa mendominasi dan juga tidak bisa kembali ke basis kekuatan mereka di utara. Karena itu Amerika berpandangan untuk menyelamatkan mereka dengan aksi militer terbatas dengan cara “menembak dua burung dengan satu tembakan”: Pertama, untuk menonjolkan mereka (Houthi) sebagai korban yang sebelumnya masyarakat melihat agresi mereka. Kedua, menciptakan suasana negosiasi darurat untuk sampai pada solusi jalan tengah—seperti kebiasaan Amerika—ketika tidak mampu mengambil semuanya sendirian.

Hal itu telah menjadi jelas dengan memantau apa yang telah dan sedang terjadi. Saudi berkonsultasi dengan Amerika sebelum aksi militernya di Yaman. Pihak-pihak yang melakukan peran militer secara aktif adalah agen-agen Amerika, khususnya Salman, Raja Saudi, dan al-Sisi, Presiden Mesir. Adapun negara-negara Teluk lainnya, Yordania dan Maroko lebih memainkan peran politis menurut kebiasaan Inggris dalam mendampingi Amerika. Tujuannya adalah agar Inggris berada dalam potret dan mendapat bagian dalam negosiasi-negosiasi mendatang agar bisa memperoleh pembagian pengaruh.

Aksi-aksi militer kadang kala berhasil membuka pintu negosiasi, namun kadang kala gagal. Akibatnya, masalahnya menjadi kacau kembali, menyengsarakan Yaman yang dulu bahagia pada hari yang tidak jauh, yaitu pada hari saat Bumi Yaman yang bersih tidak dimasuki oleh para agen dan orang-orang kafir penjajah.

 

Wahai Kaum Muslim:

Mereka adalah para penguasa kita. Namun, mereka itu musibah besar yang menimpa kita. Kita belum mengerahkan segenap daya upaya untuk membebaskan diri dari musibah itu hingga bencana menimpa kita secara umum; negeri menjadi terlantar, mereka membuat banyak kerusakan di negeri, kekayaan kita dirampok dan darah kita pun ditumpahkan. Kita melupakan firman Allah SWT:

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ‏ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (TQS al-Anfal [8]: 25).

 

Kita pun melupakan sabda Rasul saw.:

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا ظَالِمًا، فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ ‏يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»

Sesungguhnya manusia itu, jika melihat orang zalim, lalu tidak menindak dia, maka hampir saja Allah menimpakan sanksi dari sisi-Nya secara merata (HR at-Tirmidzi dari jalur Abu Bakar ra.).

 

Mereka adalah para penguasa kita. Namun, saat Palestina, Bumi Isra’ dan Mikraj, kiblat pertama dari dua kiblat, berteriak meminta pertolongan kepada mereka, mereka tidak menolong; seolah-olah ada sumbat di telinga mereka dan ada tutup pada mata mereka. Sebaliknya, para penguasa itu bergegas patuh untuk melaksanakan berbagai kepentingan kaum kafir penjajah. Tidak terlihat pesawat-pesawat, tank-tank dan kapal-kapal perang mereka bergerak menghadapi musuh-musuh Islam dan kaum Muslim; semuanya tetap terparkir diam di baraknya. Sebaliknya, semuanya bangun dan menyalak hanya dengan isyarat dari para pemimpin politik yang tidak memelihara hubungan (kerabat) dengan orang-orang Mukmin dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Para penguasa itu menampakkan diri sebagai orang besar di depan penduduk negeri, tetapi mereka lebih kecil dari orang kecil atau malah lebih rendah lagi di hadapan para musuh. Dilaknati Allahlah mereka. Bagaimana mereka bisa berpaling?

 

Wahai Kaum Muslim:

Penyelamatan Yaman dari ujian tidaklah dengan mendukung para pengikut Inggris atau para pengikut Amerika; juga tidak dengan berpura-pura mendukung yang ini atau yang itu. Akan tetapi, penyelamatan Yaman terjadi dengan mobilisasi warganya secara mulia, ikhlas untuk Allah SWT dan percaya kepada Rasulullah saw. untuk menghilangkan orang-orang jahat dari kedua pihak, menyelamatkan negeri dan penduduknya dari pengkhianatan mereka, dan mengembalikan Yaman ke asalnya sebagai negeri keimanan dan hikmah yang menjunjung Panji al-‘Uqab, Panji Rasulullah saw., serta berhukum pada syariah Allah SWT di dalam Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ – بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾

Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang beriman karena pertolongan Allah. Allah menolong orang yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (TQS ar-Rum [30]: 4-5).

 

Wahai Kaum Muslim,

Wahai Warga Yaman:

Hizbut Tahrir menyampaikan seruan kepada Anda dengan kejujuran dan keikhlasan agar Anda jangan sampai bisa ditakut-takuti oleh kesombongan Amerika, para pengikut dan kelompoknya; juga jangan sampai terpedaya oleh kelicikan Inggris, para pengikut dan kelompoknya. Mereka semua adalah musuh kita. Karena itu berhati-hatilah dengan mereka. Tolonglah Allah SWT niscaya Allah SWT menolong Anda dan meneguhkan kedudukan Anda.

﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ﴾‏

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (TQS Qaf [50]: 37)

 

7 Jumada ats-Tsaniyah 1436 H

27 Maret 2015 M

 

Hizbut Tahrir

Allah Maha Melihat, Dimanapun Engkau Berada

Suatu hari, seorang guru meminta tiga muridnya untuk menyembelih tiga ekor ayam ditempat yang berbeda dan yang tidak terlihat oleh siapapun. Ketiga muridnya pun langsung membawa ayamnya masing-masing dan berlari ketempat yng mereka perkirakan tidak ada yang melihat.

Murid pertama pergi ke puncak gunung. Disana, ia melihat tidak ada satupun yang melihat perbuatannya. Lalu dengan cepat, ia menyembelih ayam tersebut. Setelah selesai, ia segera kembali menghadap gurunya.

Murid kedua pergi ke gua. Setelah merasa tidak ada seorangpun melihatnya ia segera menyembelih ayamnya dan segera menghadap gurunya.

Sementara itu, murid ketiga tampak kebingungan. Ia berlari kesana kemari mencari tempat yang dimaksud gurunya. Lama ia mencari namun tak kunjung menemukan tempat tersebut. Ia segera menghadap gurunya.

Setelah ketiganya sampai, guru mereka meminta laporan hasil tugas yang yang ia berikan. Murid pertama segera melaporkan bahwa dia telah berhasil menyembelih ayam tersebut dan yakin tidak ada yang melihatnya. Begitu juga murid kedua, dia melaporkan bahwa berhasil menyembelih ayamnya di gua dan tidak seorangpun melihatnya saat itu. Sementara murid ketiga, tidak dapat memberikan laporannya. Sang guru bertanya kepadanya, ” Muridku, apa kamu sudah melaksanakan tugasmu?”

Si murid menjawab,” Maaf guru, saya tidak dapat melaksanakan tugas yang diperintahkan.”
Sang guru bertanya lagi, “Kamu bisa memebrikan alasannya?”

“Saya tidak bisa menyembelih ayam ditempat yang tidak terlihat oleh siapapun karena yang saya tahu ditempat manapun dibumi ini selalu diawasi dan terlihat oleh Allah.”

Mendengar jawaban muridnya sang guru tersenyum dan berkata, ” Kamu benar muridku, tidak ada tempat didunia ini yang tidak dalam pengawasan Allah, Allah Maha Melihat.

Allah Maha Melihat apapun yang dilakukan oleh makhluknya di dunia ini.”

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa : Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hadiid 4]

Tanamkan Akhirat Didalam Hati

Tausiyah Senja

Assalamu’alaikum.

Saudaraku seiman, menjalani rutinitas dengan berbagai macam aktivitas kehidupan terkadang menimbulkan rasa bosan dan jenuh. Hal yang demikian itu dapat dirasakan dipagi hari disaat memulai aktivitas ataupun disore hari disaat pulang bekerja. Apapun profesi kita setiap hari bergulat dengan waktu, ada yang pergi keluar rumah sebelum matahari terbit dan kembali pulang ke rumah disaat matahari telah tenggelam. Hal itu dilakukan demi untuk mencari penghidupan. Pergulatan waktu itu kelak akan sampai juga dipenghujungnya yaitu masa hari tua. Hidup didunia ini memang tak lama tapi dalam menjalaninya penuh dengan godaan sehingga dapat menyimpangkan diri dari tujuan hidup yang sebenarnya. Bila kita mau menilik sejenak rutinitas kehidupan para sahabat Rasulullah SAW ataupun generasi tabi’in maka akan menimbulkan rasa malu didalam diri kita sendiri. Mereka adalah sebaik – baiknya generasi yang dilahirkan dan mereka adalah generasi yang mampu menggenggam dan menaklukkan dunia tanpa mengorbankan akhirat. Para sahabat Rasulullah SAW dikenal semangat hidupnya  bagaikan singa disiang hari dan bagaikan rahib dimalam hari. Artinya merek mampu menanamkan kecintaan kehidupan akhirat didalam hati dan meletakkan dunia dalam genggaman tangannya. Semoga kita mampu mengikuti semangat hidup para sahabat Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda,  “Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir  yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi). Wallahu a’lam

 

Hukum BPJS apakah sama dengan Asuransi

Pertanyaan dari group tausiyah Whatssapp.

Assalamu’alaikum.
Ustadz masih soal asuransi, bagaimana hukumnya dengan BPJS? Pak Febry-08117020…

Jawab :

Pak Febry yang dirahmati Allah, terima kasih atas pertanyaannya. BPJS (Badan penyelenggara jaminan kesehatan) dahulu bernama Jamsostek) merupakan program pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diresmikan pada tanggal 31 Desember2013.  BPJS setali 3 uang dengan asuransi karena prinsip dan konsepnya sama yaitu nasabah atau anggota wajib membayar premi baik dalam keadaan sehat maupun sakit dengan menganggap prinsip gotong royong. Aqad BPJS sama dengan asuransi karena adanya pertanggungan antara nasabah dengan pengelola BPJS.

Dalam tinjauan hukum syara’ asuransi adalah muamalah yang bathil disebabkan dua perkara :

  1.  Tidak terpenuhinya aqad dalam asuransi sebagai aqad yang sah menurut syara’.
  2.  Aqad dalam asuransi tidak memenuhi syarat bagi sahnya aqad jaminan.(Syekh Taqiyuddin An-nabhani, Kitab Nidzomul al-iqtshadi fii al-islam). Dalam hukum syara’ suatu aqad sah bila terkait dengan barang dan jasa, baik dalam jual beli untuk keuntungan maupun non profit seperti hadiah. Sementara asuransi berkaitan dgn perjanjian atas pertanggungan. Janji tidak dapat dianggap sebagai barang karena dzatnya tidak dapat dinikmati serta dimanfaatkan. Tidak dapat juga dianggap sebagai jasa sebab tidak ada yang dapat memanfaatkan janji baik secara langsung ataupun tidak. Adapun didapatnya sejumlah uang berdasarkan janji kesediaaan menanggung itu tetap tidak dapat dikatakan sebagai jaminan karena tidak dapat merubah fakta bahwa janji itu bukanlah jasa karena uang pertanggungan itu hanyalah merupakan akibat dari kesepakatan yang telah dilakukan sebelumnya.(Ust.Ismail Yusanto, Telaah sekilas tentang asuransi).  Dengan demikian jelaslah bahwa asuransi tidak memenuhi syarat agar disebut sebagai sebuah aqad yang sah.

Mengenai aqad Rasulullah SAW bersabda: “Kaum Muslim TERIKAT dengan syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan apa yang halal, atau menghalalkan yang haram.” (HR at-Tirmidzi).

Dlm prinsip asuransi disamping aqadnya bathil juga terdapat ghoror atau penipuan yang jauh dari keadilan, contoh bila 1 anggota sakit parah BPJS wajib mengobatinya sesuai dengan jenis perobatannya sementara nasabah baru saja menjadi anggota BPJS dengan membayar premi yang tidak sesuai dengan nilai nominalnya. Sementara nasabah yang selalu membayar yang sehat tidak mendapatkan kompensasi apapun. Kemudian dibalik prinsip BPJS terdapat politik uang yang dahsyat bila seluruh masyarakat Indonesia menjadi anggota yang wajib membayar premi dana setiap bulannya akan diputarkan dengn dunia perbankan yang dari hasil bunga saja dapat mengambil keuntungan yang fantastis. Sejatinya kesehatan adalah hak rakyat sekaligus jaminan pemerintah secara penuh sebagai kewajibannya mengurusi rakyat tanpa ada kewajiban membayar premi. Wallahu a’lam.

Kisah Keajaiban Sedekah Seorang Artis

Hidup selalu penuh dengan keajaiban. Dan bagi Agus Kuncoro, keajaiban itu selalu dipetiknya dari kebiasaan bersedekah. Ia memiliki konsep tersendiri dalam mendermakan sebagian harta kepada mereka yang memerlukan. “Seperti makan, apabila jarang dikeluarkan kita akan sakit. Rizki demikian, kita diberi terus, tetapi jarang disedekahkan yang ada Allah akan mengambil dengan lebih banyak lagi,” kata pemeran Azzam dalam sinetron reliji Para Pencari Tuhan (PPT).

Bukan sekedar berbicara, karena Agus membuktikannya dalam kehidupan nyata. Suami dari Anggia Jelita ini sering merasakan keajaiban ketika ia bersedekah. Bahkan pada awal 2008 lalu, setelah mendermakan 50% honor dari membintangi film Kun Fayakun, ia mendapati keajaiban yang paling dinanti-nantinya selama usia pernikahan tiga tahun, seorang bayi perempuan jelita yang lahir pada 12 Mei 2008 dan diberi nama Kunkeira Gayla.

“Kejadiannya setelah membintangi Kun Fayakun. Produser film ini, Ustadz Yusuf Mansur, menyarankan untuk mendermakan sebagian dari honor. Kata beliau, jika saya punya keinginan kuat untuk memiliki anak, sebaiknya termin (honor) terakhir jangan diambil,”

Pria kelahiran 11 Agustus 1972 ini lalu menyetujui. Tak dinyana, sebulan kemudian, Anggia, sang istri menelepon dan mengabarkan jika ia positif hamil. Kejadian ini membuat keyakinan Agus semakin menebal akan ajaibnya sedekah. Meski demikian, sedekah bukanlah hal baru bagi pria Madiun-Jogja yang besar di Jakarta ini.

“Mulanya pada tahun 2002,” Agus memulai kisah. Pria yang kerap tampil dengan rambut gondrong ini mengakui titik balik hidupnya terjadi pada tahun 2002. pada tahun itu, ia menjumpai musibah demi musibah mendera hidupnya.

“Mulai dari banjir semata kaki di lantai dua. Trus ibu dan bapa meninggal, tak lama saya putus dari pacar, saudara-saudara jauh semua. Pada saat yang sama saya kerja di PH semua tokoh saya di PH itu juga dimatikan. Saya kos, dan kamar kos saya kebakaran,”

Agus lalu mendatangi seorang Ustadz mengadukan masalah-masalahnya. Simpel saja, sang Ustadz hanya menepuk paha Agus seraya berkata “Kamu pelit sih!” kontan hal itu membuat Agus terkejut. Ia merasa hidupnya tak pelit-pelit amat. Kadangkala ia menyumbang pada orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. Menurut Ustadz yang didatanginya seharusnya setiap menyumbang semestinya ia ber-ijab-kabul serta diniatkan untuk sedekah.

Sejak saat itu ia lalu mulai rajin bersedekah. Menerapkan ijab-kabul serta menguatkan niat bersedekah. Satu per satu lalu kesulitan hidupnya mulai menemukan ujung. Mulai dari pekerjaan, kehidupan pribadi, dan bahkan ia dapat membangun kembali rumahnya di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.

“Bahkan pada saat saya menunda-nunda untuk bersedekah, sesuatu kerap terjadi. Saya pernah mengalaminya, suatu ketika hati saya menyuruh untuk bersedekah tetapi saya malah menundanya. Tak lama, Allah menegur saya dengan kecelakaan motor hingga saya berdarah-darah,” beber Agus.

Pria yang jarang mudik karena mengaku ‘sudah tak punya kampung’ ini percaya kejadian itu tak terjadi dengan kebetulan, tetapi akibat ia melalaikan kata hati untuk bersedekah. Sepulang dari rumah sakit, ia lalu langsung bersedekah. “Seyogyanya sedekah itu sudah bukan lagi kewajiban, akan tetapi hak bagi kita. Jika sudah sampai pada pemikiran dan konsep seperti itu, cihuy banget,” kata Agus.

Rampung dengan film Kun Fayakun di awal 2008, Agus mendapati pengetahuan baru bahwa bersedekah juga mesti tepat guna, kepada orang-orang yang dilihat dan didengar susah, dalam lingkungan terdekat kita. “Selama ini kita bersedekah pada orang-orang yang nun jauh disana. Anak yatim piatu dimana atau bahkan panti asuhan yang jauh semisal di Papua Nugini,” katanya, tertawa.

Mengenai nominal jumlah yang disedekahkan, Agus memiliki konsep yang unik.

“Di dalam dompet kita itu kan biasanya ada beberapa macam uang, dari seratus ribu sampai nominal terkecil. Alhamdulillah sejak dijalani dari proses-proses awal sekarang sudah sampai pada proses yang paling besar aja yang masuk masjid (disedekahkan ke masjid, red). Karena di Al-Quran itu kan janji-janji Allah banyak, ibaratnya kita berdagang dengan Allah,” tandasnya.

Menyelami dunia anak

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Berbicara tentang dunia anak memang tidak dapat disamakan dengan dunia orang dewasa. Ada diantara orang tua yang menuntut anaknya memiliki pola hidup seperti orang dewasa mulai dari cara berkomunikasi dengan anak, memerintah anak ataupun memarahi anak. Pada saat anak beranjak dari usia balita yang memang tingkat kesadaran berfikirnya belum sampai pada taraf akil baligh maka sebaiknya orang tua dapat menyesuaikan diri dengan dunia anak. Sebenarnya tidak ada anak yang malas tapi yang ada adalah kurangnya motivasi anak dari orang tua. Sebenarnya tidak ada anak yang bodoh tapi yang ada adalah kurangnya perhatian dari orang tua. Sebenarnya tidak ada anak yang nakal tapi yang ada adalah kurangnya kasih sayang dari orang tua. Para Psikologi anak menjelaskan bahwa  marah kepada anak – anak yang diikuti dengan pemukulan menimbulkan luka bathin yg dalam, benci terhadap orang tua, rendah diri, antisosial dan suka berkelahi. Anak – anak juga suka meniru kalau dipukul akan membalas memukul. Selain itu tindakan keras dengan memukul tidak mengubah perilaku anak. Semoga kita mampu menjadi orang tua yang sabar dan bijak yang senantiasa mengedepankan perhatian, kasih sayang dan keteladanan dari pada tindakan kekerasan.

Rasulullah Saw bersabda, Barang siapa tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya. (HR.Muslim).

Wallahu a’lam

KHALID BIN WALID, R.A,“Si Pedang Allah yang senantiasa terhunus”

Tulisan ini adalah bagian kecil dari biografi seorang tokoh terkemuka umat ini, dia salah seorang pahlawan dan kesatria umat ini, dia salah seorang tokoh shahabat Rasulullah saw yang mulia, dan dari perjalanan hidupnya ini kita akan menggali berbagai pelajaran dan ibrah.

Shahabat Rasulullah SAW ini masuk Islam pada tahun kedelapan hijriyah dan telah terjun dalam puluhan peperangan.

Para sejarawan mencatat, dia tidak pernah kalah dalam satu peperanganpun baik pada saat jahiliyah atau setelah masuk Islam, dia berkata tentang dirinya: Sungguh dengan tanganku ini telah terpotong sembilan pedang pada saat peperangan Mu’tah sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman”. Hal ini membuktikan tentang keberaniannya yang brilian dan kekuatan besar yang telah dianugrahkan baginya oleh Allah pada jasadnya. Dan beliau adalah komando pasukan kaum muslimin pada perang yang masyhur yaitu perang Yamamah dan Yarmuk, dan beliau telah melintasi perbatasan negeri Iraq menuju ke Syam dalam lima malam bersama para tentara yang mengikutinya. Inilah salah satu keajaiban komandan perang ini. Nabi saw telah menggelarinya dengan sebutan pedang Allah yang terhunus, dan beliau memberitahkan bahwa dia adalah salah satu pedang Allah terhadap orang-orang musyrik dan kaum munafiq.

Dia adalah seorang kesatria, Khalid bin Walid bin Al-Mugiroh Al- Qurosy Al-Makhzumy Al-Makky, anak saudari ummul mukminin Maimunah binti Al-Harits ra, dia seorang lelaki yang kekar, berpundak lebar, bertubuh kuat, sangat menyerupai Umar bin Al-Khattab ra. Shahabat memilki sikap kepahlawanan besar yang mencerminkan dirinya sebagai seorang pemberani dalam membela agama ini, di antara cerita tentang kepahlwanan beliau adalah apa yang terjadi pada perang Mu’tah, pada tahun ke delapan hijriyah, pada tahun dia memeluk Islam.

Jumlah tentara kaum muslimin pada saat itu sekitar tiga ribu personil sementara bangsa Romawi memilki dua ratus ribu personil, melihat tidak adanya keseimbangan jumlah tentara kaum muslimin di banding musuh mereka, terkuaklah sikap kesatria dan kepahlawanan kaum muslimin pada peperangan ini.

Nabi saw telah memerintahkan agar pasukan dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, dan jika dia terbunuh maka kepeminpinan berpindah kepada Ja’far bin Abi Thalib, dan jika terbunuh maka kepeminpinan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Semua peminpin di atas mati syahid pada peperangan ini, lalu bendera diambil alih oleh Tsabit bin Aqrom, dan dia berkata kepada kaum muslimin : Pilihlah seorang lelaki sebagai pemimpin kalian, maka mereka memilih Khalid bin Walid, maka pada peristiwa inilah tampak jelas keberanian dan kejeniusannya.

Dia kembali mengatur para pasukan, maka dia merubah strategi dengan menjadikan pasukan sayap kanan berpindah ke sayap kiri dan sebalikanya pasukan sayap kiri berpindah ke sebelah kanan, kemudian sebagian pasukan diposisikan agak mundur, setelah beberapa saat mereka dating sekan pasukan batuan yang baru datang, hal ini guna melemahkan semangat berperang musuh kemudian kesatuan tentara kaum muslimin terlihat menjadi besar atas pasukan kaum Romawi sehingga menyebabkan mereka mundur dan semangat mereka melemah.

Dia telah memperlihatkan berbagai macam bentuk keberanian dan kepahlawanan yang tidak bisa tandingi oleh semangat para pahlawan. Selain itu, dengan keahliannya dan kecerdasannya dia mulai mengarahkan pasukan kaum muslimin untuk mundur secara teratur dengan cara yang unik, dan cukuplah dengan pukulan yang seperti itu, dan beliau melihat agar pasukan kaum muslimin tidak terserang pada sebuah peperangan yang tidak sebanding.

Qais bin Hazim berkata: Aku telah mendengar Khalid berkata : Berjihad telah menghalangiku mempelajari Al-Qur’anul Karim. Abu Zannad berkata : Pada Sa’ad Khlaid akan meninggal dunia dia menangis dan berkata :

“Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengakalpun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebagaiamana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut”.

Sungguh Khalid mengharapkan mati syahid dan semoga Allah menyampaikannya pada derjat yang dicita-citakannya.

KISAH MASUK ISLAMNYA KHALID BIN WALID

Dahulu sebelum masuk Islam Nama Khalid bin Walid sangat termashur sebagai panglima Tentara Kaum Kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Baju kebesarannya berkancingkan emas dan mahkota dikepalanya bertahtahkan berlian. Begitu gagah dan perkasanya Khalid baik di Medan perang maupun  ahli dalam menyusun strategi perang.

Pada waktu Perang UHUD melawan tentara Muslimin pimpinan Rasulullah SAW banyak  Syuhada yang Syahid terbunuh ditangan Khalid bin Walid.

Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untuk kembali, sejak itu Khalid termenung terngiang selalu akan kata kata  Nabi Muhammad SAW dan penasaran akan sosok Beliau. Mak,a Khalid mengutus mata-mata ( intel ) untuk memantau dan mengamati aktivitas Muhammad SAW setelah perang UHUD tersebut.

Setelah cukup lama memata-matai Rasulullah akhirnya utusan Khalid bin Walid melaporkan hasil pengamatan tersebut, kata utusan tersebut :

Aku mendengar semangat juang yang dikemukakan muhammad kepada para pasukannya. Muhammad  mengatakan ”, Aku heran kepada seorang panglima khalid bin Walid yang gagah perkasa dan cerdas, tapi kenapa dia tidak paham dengan Agama Allah  yang aku bawa, sekiranya Khalid bin Walid tahu dan paham dengan Agama yang aku bawa, dia akan berjuang bersamaku (Muhammad), Khalid akan aku jadikan juru rundingku yang duduk bersanding di sampingku.

Kata kata mutiara tersebut disampaikan mata-mata Khalid bin walid di Mekkah kepada panglimanya.

Mendengar laporan Intel tersebut semakin membuat Risau Khalid bin Walid hingga akhirnya Khalid memutuskan untuk bertemu Muhammad dengan menyamar dan menggunakan Topeng menutup wajahnya hingga tidak di kenali oleh siapapapun.

Khalid berangkat seorang diri dengan menunggang Kuda dan menggunakan baju kebesarnnya yang berhias emas serta mahkota bertahta berlian namun wajahnya ditutupi Topeng. Di tengah perjalanan Khalid bertemu dengan Bilal yang sedang bedakwah kepada para petani.

Dengan Diam-diam Khalid mendengarkan dan menyimak apa yang di sampaikan oleh Bilal yang membacakan surat Al Hujarat ( Qs 49:13 ) yang artinya :

”Hai manusia kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling mengenal dengan baik. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertaqwa karena sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha Mengenal”

Khalid terperangah bagaimana mungkin Bilal R.A yang kuketahui sebagai Budak hitam dan buta huruf bisa berbicara seindah dan sehebat itu  tentu itu benar perkataan dan Firman Allah. Namun gerak gerik mencurigakan Khalid bin walid di ketahui Ali bin Abi Thalib R.A , dengan lantang Ali berkata :

Hai penunggang Kuda Bukalah topengmu agar aku bisa mengenalimu, bila niatmu baik aku akan layani dengan baik  dan bila niatmu buruk aku akan layani pula dengan buruk” 

Setelah itu dibukalah Topeng tampaklah wajah  Khalid bin Walid seorang Panglima besar kaum Kafir Quraisy yang berjaya diperang UHUD  dengan tatapan mata yang penuh karismatik Khalid berkata  :

”Aku kemari punya niat baik untuk bertemu Muhammad dan menyatakan diriku masuk Islam” Kata Khalid bin Walid. Wajah Ali yang sempat tegang berubah menjadi berseri-seri ”Tunggulah kau di sini Khalid saya akan sampaikan berita gembira ini kepada Rasululluh SAW” Kata Ali bin Abi Thalib.

Bergegas Ali menemui Rasululluh SAW dan menyampaikan maksud kedatangan Khalid bin Walid sang panglima perang. Mendengar berita yang disampaikan Ali, wajah Rasulullah SAW berseri seri lalu mengambil sorban hijau miliknya lalu dibentangkan di tanah sebagai tanda penghormatan kepada Khalid bin Walid  yang akan datang menemuinya.

Lalu Rasululluh SAW menyuruh Ali menjemput  Khalid untuk menemuinya. Begitu Khalid datang Beliau langsung memeluknya. ”Ya Rasulullah islam saya ” Kata Khalid bin Walid. Lalu Rasulullah SAW mengajarkan kalimat Syahadat kepada Khalid maka Khalid bin Walid telah memeluk agama Islam.

Begitu selesai membaca syahadat Khalid bin walid menanggalkan Mahkotanya yang bertahtahkan intan diserahkan kepada Rasululluh, begitu pula dengan bajunya yang berkancingkan emas di serahkan juga. Namun begitu Khalid bin walid akan mencopot pedangnya dan menyerahkannya kepada Rasulullah, Rasulullah melarangnya ”Jangan kau lepaskan pedang itu Khalid, karena dengan pedang itu nanti kamu akan berjuang membela agama Allah bersamaku ” Kata Rasulullah SAW . dan Nabi memberi gelar pedang tersebut dengan nama “Syaifulloh yang artinya “Pedang Allah yang terhunus. Setelah bergabungnya Khalid bin Walid kedalam Islam, bertambah kuatlah pasukan Muslim hingga bisa menaklukan kota Mekkah dan Pasukan Kafir Quraiys secara drastis melemah bagaikan ayam kehilangan induknya.

KHALID BIN WALID PANGLIMA PERANG, SI PEDANG ALLAH

Pribadi yang mengaku tidak tahu dimana dan dari mana kehidupannya bermula, kecuali di suatu hari dimana ia berjabat tangan dengan Rasulullah SAW, berikrar dan bersumpah setia….saat itulah dia merasa dilahirkan kembali sebagai manusia “Dialah orang yang tidak pernah tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur.”

Suatu saat Khalid bin Walid pernah menceritakan perjalanannya dari Mekah menuju Madinah kepada Rasulullah:

Aku menginginkan seorang teman seperjalanan, lalu kujumpai Utsman bin Thalhah ; kuceritakan kepadanya apa maksudku, ia pun segera menyetujuinya. Kami keluar dari kota Mekah sekitar dini hari, di luar kota kami berjumpa dengan Amr bin Ash. Maka berangkatlah kami bertiga menuju kota Madinah, sehingga kami sampai di kota itu di awal hari bulan Safar tahun yang ke delapan Hijriyah. Setelah dekat dengan Rasulullah SAW kami memberi salam kenabiannya, Nabi pun membalas salamku dengan muka yang cerah. Sejak itulah aku masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang haq…”

Rasulullah bersabda, Sungguh aku telah mengetahui bahwa anda mempunyai akal sehat, dan aku berharap, akal sehat itu hanya akan menuntun anda kejalan yang baik…”. Oleh karena itulah, aku berjanji setia dan bai’at kepada beliau, lalu aku Mohon “Mohon Rasulullah mintakan ampun untukku terhadap semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah…”

Dalam Perang MUKTAH, ada tiga orang Syuhada Pahlawan, mereka adalah Zaid Bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, mereka bertiga adalah Syuhada Pahlawan si Pedang Allah di Tanah Syria. Untuk keperluan perang Muktah ini, pasukan musuh, Pasukan Romawi mengerahkan sekitar 200.000 prajurit.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersama panjinya sampai ia syuhada. Kemudian panji tersebut diambil alih oleh Ja’far, yang juga bertempur bersama panjinya sampai ia gugur sebagai syahid. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil bertempur maju, hingga ia juga gugur sebagai Syahid.” Kemudian panji itu diambil alih oleh suatu Pedang dari pedang Allah, lalu Allah membukakan kemenangan di tangannya.”

Sesudah Panglima yang ketiga gugur menemui syahidnya, dengan cepat Tsabit bin Arqam menuju bendera perang tersebut, lalu membawanya dengan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka tidak kacau balau, dan semangat pasukan tetap tinggi…

Tak lama sesudah itu, dengan gesit ia melarikan kudanya ke arah Khalid bin Walid, sambil berkata kepadanya, “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman…!”

Khalid merasa dirinya sebagai seorang yang baru masuk Islam, tidak layak memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat orang-orang Anshor dan Muhajirin yang terlebih dahulu masuk Islam daripadanya, Sopan, Rendah hati, arif bijaksana, itulah sikapnya. Ketika itu ia menjawab, Tidak….. jangan saya yang memegang panji suci ini, engkaulah yang paling berhak memegangnya, engkau lebih tua, dan telah menyertai perang Badar! Tsabit menjawab,“Ambillah, sebab engkau lebih tahu siasat perang daripadaku, dan demi Allah aku tidak akan mengambilnya, kecuali untuk diserahkan kepadamu!”  kemudian ia berseru kepada semua pasukan muslim, Bersediakah kalian di bawah pimpinan Khalid?” mereka menjawab, “Setuju!!!”

Dengan gesit panglima baru ini melompati kudanya, di dekapnya panji suci itu dan mencondongkannya kearah depan dengan tangan kanannya, seakan hendak memecahkan semua pintu yang terkunci itu, dan sudah tiba saatnya untuk di dobrak dan diterjang. Sejak saat itulah, kepahlawanannya yang luar biasa, terkuak dan mencapai titik puncak yang telah ditentukan oleh Allah baginya…

Saat perang Muktah inilah korban di pihak kaum muslimin banyak berjatuhan, dengan tubuh-tubuh mereka berlumuran darah, sedang balatentara Romawi dengan jumlah yang jauh lebih besar, terus maju laksana banjir yang terus menyapu medan tempur.

Dalam situasi yang sangat sulit itu, tak ada jalan dan taktik perang yang bagaimanapun, akan mampu merubah keadaan. Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh seorang Komandan perang, ialah bagaimana melepaskan tentara Islam ini dari kemusnahan total, dengan mencegah jatuhnya korban yang terus berjatuhan, serta berusaha keluar dari keadaan itu dengan sisa-sisa yang ada dengan selamat

Pada saat yang genting itu, tampillah Khalid bin Walid, si Pedang Allah, yang menyorot seluruh medan tempur yang luas itu, dengan  kedua matanya yang tajam. Diaturnya rencana dan langkah yang akan diambil secepat kilat, kemudian membagi pasukannya  kedalam kelompok-kelompok besar dalam suasana perang berkecamuk terus. Setiap kelompok diberinya tugas sasaran masing-masing, lalu dipergunakanlah seni Yudhanya yang membawa berkah, dengan kecerdikan akalnya yang luar biasa, sehingga akhirnya ia berhasil membuka jalur luas diantara pasukan Romawi. Dari jalur itulah seluruh pasukan Muslim menerobos dengan selamat. Karena prestasinya dalam perang inilah Rasulullah menganugrahkan gelar kepada Khalid bin Walid, Si Pedang Allah yang senantiasa terhunus”.

Sepeninggal Rasulullah, wafat, Abu Bakar memikul tanggung jawab sebagai Khalifah. Dia menghadapi tantangan yang sangat besar dan berbahaya, yaitu gelombang kemurtadan yang hendak menghancurkan agama yang baru berkembang ini. Berita-berita tentang pembangkangan kaum-kaum dan suku-suku Di Jazirah Arab ini, dari waktu ke waktu semakin membahayakan. Dalam keadaan genting seperti ini, Abu Bakar sendiri maju untuk memimpin pasukan Islam. Tetapi para sahabat utama tidak sepakat dengan tindakan Abu Bakar ini. Semuanya sepakat untuk meminta Khalifah agar tetap tinggal di Madinah.

Ali R.A terpaksa menghadang Abu Bakar dan memegang tali kekang kuda yang sedang di tungganginya untuk mencegah keberangkatannya bersama pasukannya menuju medan perang, sembari berkata, “Hendak kemana Engkau wahai Khalifah Rasulullah, akan kukatakan kepadamu apa yang pernah dikatakan Rasulullah di hari Uhud: “Simpanlah pedangmu wahai Abu Bakar, jangan engkau cemaskan kami dengan dirimu!”

Di hadapan desakan dan suara bulat kaum muslimin, Khalifah terpaksa menerima untuk tetap tinggal di kota Madinah. Maka setelah itu, dibagilah tentara Islam menjadi sebelas kesatuan, dengan beban tugas tertentu. Sedang sebagai kepala dari keseluruhan pasukan tersebut, diangkatlah Khalid bin Walid. Dan setelah menyerahkan bendera kepada masing-masing komandannya, Khalifah mengarahkan pandangan kepada Khalid bin Walid, sambil berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, bahwa sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan, ialah Khalid bin Walid, sebilah pedang diantara pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik…!”

Khalid pun segera melaksanakan tugasnya dengan berpindah-pindah dari suatu tempat medan tempur  ke pertempuran yang lain, dari suatu kemenangan ke kemenangan berikutnya.

Datanglah perintah dari Khalifah Abu Bakar, kepada Panglima yang tak tertandingi ini, agar berangkat menuju Yamamah untuk memerangi Bani Hanifah bersama kabilah-kabilah yang telah bergabung dengan mereka yang terdiri dari gabungan aneka ragam tentara murtad yang paling berbahaya. Pasukan ini di pimpin oleh Musalimah al-Kadzdzab..

Khalid bersama pasukannya mengambil posisi di dataran bukit-bukit pasir Yamamah, dan menyerahkan bendera perang kepada komandan-komandan pasukannya, sementara Musailamah menghadapinya dengan segala kecongkakan dan kedurhakaan bersama dengan pasukan tentaranya yang sangat banyak, seakan-akan tak akan habis-habisnya.

Di tengah pertempuran yang berkecamuk amat dahsyat ini, Khalid melihat keunggulan musuh, ia lalu memacu kudanya ke suatu tempat tinggi yang terdekat, lalu ia melayangkan pandangannya ke seluruh medan tempur. Pandangan cepat yang diliputi ketajaman dan naluri perangnya, dengan cepat ia dapat mengetahui dan menyimpulkan titik kelemahan pasukannya.

Ia dapat merasakan, ada rasa tanggung jawab yang mulai melemah di kalangan parajuritnya di tengah serbuan-serbuan mendadak pasukan Musailamah. Maka diputuskanlah secepat kilat untuk memperkuat semangat tempur dan tanggung jawab pasukan muslimin itu. Di panggilnya komandan-komandan teras dan sayap, ditertibkannya posisi masing-masing di medan tempur, kemudian ia berteriak dengan suaranya yang mengesankan kemenangan :

Tunjukkanlah kelebihanmu masing-masing…, akan kita lihat hari ini jasa setiap suku!

Orang-orang Muhajirin maju dengan panji-panji perang mereka, dan orang-orang Anshar pun maju dengan panji-panji perang mereka, kemudian setiap kelompok suku dengan panji-panji tersendiri. Semangat juang pasukannya jadi bergelora lebih panas membakar, yang dipenuhi dengan kebulatan tekad, menang atau mati syahid. Sedangkan Khalid terus menggemakan Takbir dan Tahlil, sambil memberikan komando kepada para komandan lapangannya. Dalam waktu singkat, berubahlah arah pertempuran, prajurit-prajurit pimpinan Musailamah mulai berguguran, laksana nyamuk yang meggelepar berjatuhan.

Khalid bin Walid berhasil menyalakan semangat keberaniannya seperti sengatan aliran listrik kepada setiap parajuritnya, itulah salah satu keistimewaannya dari sekian banyak keunggulannya. Musailamah tewas bersama para prajuritnya, bergelimpangan memenuhi seluruh area medan pertempuran, dan terkuburlah selama-lamanya bendera yang menyerukan kebohongan dan kepalsuan.

Selanjutnya, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk berangkat menuju Irak, maka berangkatlah sang Mujahid ini ke Irak. Ia memulai operasi meliternya di Irak dengan mengirim surat ke seluruh Pembesar Kisra (Kaisar Persia) dan Gubernur-Gubernurnya di semua wilayah Irak.

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid Ibnu Walid kepada para pembesar Persi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian segala puji kepunyaan Allah yang telah memporak porandakan kaki tangan kalian, dan merenggut kerajaan kalian, serta melemahkan tipu daya kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami, dan menghadap kiblat kami, jadilah ia seorang muslim. Ia akan mendaptkan hak seperti hak yang kami dapatkan, dan ia berkewajiban seperti kewajiban kami. Bila telah sampai kepada kalian surat ini, maka hendaklah kalian kirimkan kepadaku jaminan, dan terimalah dariku perlindungan jika tidak, maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, akan kukirimkan kepada kalian satu kaum berani mati, padahal kalian masih sangat mencintai hidup…!”

Para mata-mata yang disebarkannya ke seluruh penjuru Persia datang menyampaikan berita tentang keberangkatan pasukan bala tentara yang sangat besar yang dipersiapkan oleh panglima-panglima Persia di Irak.

Khalid tidak membuang-buang waktu, dengan cepat ia memersiapkan pasukannya untuk menghadapi pasukan Persia tersebut. Dalam perjalanan menuju Persia ini ia berhasil memperoleh kemenangan-kemenangan, mulai dari Ubullah, As-Sadir, di susul Najaf, lalu Al-Hirah, Al-Ambar, sampai Khadimiah. Di setiap tempat yang berhasil ia taklukkan ia disambut wajah berseri penduduknya, karena di bawah bendera Islam, mereka orang-orang yang lemah yang tertindas penjajah Persia, dapat berlindung dengan aman.

Rakyat yang terjajah dan lemah selama ini banyak mengalami derita perbudakan dan penyiksaan dari orang Persia. Khalid selalu berpesan dengan peringatan keras, kepada seluruh pasukannya setiap kali akan berangkat ke medan tempur :

Jangan kalian sakiti para petani, biarkanlah mereka bekerja dengan aman, kecuali bila ada yang hendak menyerang kalian, perangilah orang-orang yang memerangi kalian…”.

Keadaan Romawi sebelum Peperangan

Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di pegunungan Romawi.”

Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini, mereka (tentara Romawi) tidak mau menerima saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Pasukan Romawi mulai bergerak, dan berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai Yarmuk yang berdataran rendah dan memiliki banyak jurang.

Kedatangan Khalid bin Al-Walid  dari ‘Iraq

Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq  memerintahkan Khalid bin Al-Walid  agar menarik diri dari ’Iraq untuk kemudian menuju Syam bersama bala tentaranya. Dengan segera Khalid  menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai penggantinya di ’Iraq. Kemudian beliau  bergerak cepat dengan membawa 9.500 personel pasukan menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak pernah dilalui seorang pun sebelumnya, dengan menyeberangi padang pasir, mendaki gunung, serta melewati lembah-lembah yang sangat gersang.

Persiapan Pasukan Islam

Abu Sufyan  mengusulkan, layaknya ahli strategi perang, agar pasukan dibagi menjadi tiga formasi. Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan Romawi, sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan dan para wanita agar berjalan, dan sepertiga yang tersisa dipimpin oleh Khalid  di posisi belakang. Jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan perbekalan, Khalid  akan berpindah ke depan kaum wanita, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .

Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu. Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

Strategi Pasukan Islam

Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36 ribu sampai dengan 40 ribu personel tentara. Didalamnya terdapat seribu orang shahabat Nabi . Seratus orang dari mereka adalah para veteran perang Badar. Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah (namanya Hanzholah bin Ath-Thufail) memimpin posisi tengah pasukan. ’Amru bin Al-’Ash  dan Syarahbil bin Hasanah  memimpin sayap kanan pasukan. Sedangkan pemimpin sayap kiri pasukan adalah Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan Yazid Al-Khoir).

Khalid  membawa kudanya ke arah Abu ’Ubaidah  dan berkata, ”Aku akan memberikan usul.” Abu ’Ubaidah  menjawab, ”Katakanlah, aku akan mendengar dan mematuhinya.” Khalid  kembali berkata, ”Musuh pasti menyiapkan pasukan besar untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan kebobolan. Menurutku, pasukan berkuda harus dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di belakang sayap kiri. Apabila musuh berhasil menembus pertahanan sayap kiri atau kanan, para pasukan berkuda berperan membantu mereka. Lalu kita datang menyerbu dari belakang.” Abu ’Ubaidah  berkomentar, ”Alangkah jitu usulmu itu!”

Khalid bin Al-Walid  pun memerintahkan agar Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah  pindah ke posisi belakang. Hal ini agar jika ada tentara Islam berlari mundur, ia akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke kancah pertempuran. Kemudian Khalid  menginstruksikan agar para wanita bersiap-siap dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid  berkata,

”Siapa saja yang kalian jumpai melarikan diri dari medan pertempuran, bunuh dia!”

STRATEGI PASUKAN ROMAWI

Setelah menerima bantuan personel dari pusat, pasukan Romawi maju dengan kesombongan membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu pasukan yang diikat dengan rantai besi (setiap sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari dari peperangan).

Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat yang ada seakan-akan mereka adalah awan hitam. Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun pihak gereja mengelilingi pasukan membacakan Injil sambil memotivasi mereka agar gigih dalam berperang.

Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George), sayap kiri dan kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin oleh Al-Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan tertinggi pasukan ini adalah saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.

Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran

Abu ’Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah pasukan Romawi dengan membawa Dhirar bin Al-Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal bin Suhail  untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.

Para shahabat  berkata, ”Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini.” Maka dibentangkanlah karpet dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk duduk di atasnya. Para shahabat  berkata, ”Kami tidak diperbolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq duduk di tempat yang mereka inginkan. Para shahabat  mendakwahinya agar masuk Islam, namun perundingan ini berakhir tanpa hasil. Akhinya mereka pun kembali ke barisan pasukan. Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan ingin bertemu dengan Khalid bin Al-Walid  di antara dua pasukan yang saling berhadapan. Mahan berkata, ”Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maukah kalian jika aku beri sepuluh dinar untuk setiap tentara beserta makanan dan pakaian, lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun depan aku akan memberikan jatah yang serupa?”

Khalid bin Al-Walid  menjawab, ”Sesungguhnya, bukanlah yang mengeluarkan kami dari negeri kami apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!” Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan berucap, ”Demi Allah, ucapan tersebut baru pertama kali kita dengar dari bangsa ’Arab.”

JALANNYA PERTEMPURAN

Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Khalid  juga membawa pasukan besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ’Arab. Tatkala persiapan sudah matang, Khalid  memerintahkan untuk memulai dengan perang tanding. Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan maju hingga membuat suasana memanas. Sementara Khalid  berdiri menyaksikan laga tersebut.

Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin pasukan lini depan Romawi yang bernama Jarajah ingin bertemu dengan Khalid  di tengah dua pasukan. Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid  memberitahukan dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk Islam, membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan pasukan Islam.

Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan musuh.

Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.

Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang kebobolan diserang musuh, hingga berhasil membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid  membawa seratus pasukan berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil meluluhlantakkan pasukan musuh.

Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu, melainkan kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.

Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid  ketika baru/awal masuk Islam.

Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, sampai kemenangan diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat rantai besi, jika salah seorang dari mereka terjatuh, maka terjatuhlah seluruhnya. Malam itu, Khalid  bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan Romawi.

Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid  menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada perang ini.

Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam tatkala mereka kokoh diatas kemurnian ibadah kepada Allah  dan berpegang teguh kepada sunnah (ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah  (yang artinya):

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

PERANG YARMUK – TAKLUKNYA KERAJAAN ROMAWI DIBAWAH PASUKAN ISLAM

Dalam sejarah perjuangan kaum muslimin menegakkan dan membela al haq (kebenaran), berjihad di jalan Allah, kita akan dapat menemukan kisah teladan mengenai itsar, sejarah yang begitu indah untuk dipelajari, merupakan suatu kenikmatan tersendiri jika diamalkan.

Ketika terjadi perang Yarmuk, perang yang terjadi antara kaum muslimin melawan pasukan Romawi (Bizantium), negara super power saat itu, tahun 13 H/ 634 M.

Pasukan Romawi dengan peralatan perang yang lengkap dan memiliki tentara yang sangat banyak jumlahnya dibandingkan pasukan kaum muslimin. Pasukan Romawi berjumlah sekitar 240.000 orang dan pasukan kaum muslimin berjumlah 45.000 orang menurut sumber islam atau 100.000–400.000 untuk pasukan romawi dan 24.000-40.000 pasukan muslim menurut sumber wikipedia

Dalam perang Yarmuk, pasukan Romawi memiliki tentara yang banyak, pengalaman perang yang mumpuni, peralatan perang yang lengkap, logistik lebih dari cukup, dapat dikalahkan oleh pasukan kaum muslimin, dengan izin Allah.

Ini adalah bukti yang nyata bahwa sesungguhnya kemenangan itu bersumber dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen.

PENGANGKATAN KHALID BIN WALID

Entah apa yang ada di benak Khalid bin Walid ketika Abu Bakar menunjuknya menjadi panglima pasukan sebanyak 46.000. Hanya dia dan Allah saja yang tahu kiranya. Khalid tak hentinya beristigfar. Ia sama sekali tidak gentar dengan peperangan yang akan ia hadapi. 240.000 tentara Bizantin. Ia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatan itu. Kaum muslimin tengah bersiap menyongsong Perang Yarmuk sebagai penegakan izzah Islam berikutnya.

Hampir semua tentara muslim gembira dengan penunjukkan itu. Selama ini memang Khalid bin Walid adalah seorang pemimpin di lapangan yang tepat. Abu Bakar R.A pun tidak begitu saja menunjuk pejuang yang berjuluk Pedang Allah itu. Sejak kecil, Khalid dikenal sebagai seorang yang keras. Padahal ia dibesarkan dari sebuah keluarga yang kaya. Sejak usia dini, ia menceburkan dirinya ke dalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya ke dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Konon, hanya Khalid bin Walid seorang yang pernah memorak-porandakan pasukan kaum muslimin, semasa ia masih belum memeluk Islam.

STRATEGI PERANG KAUM MUSLIMIN

Khalid bin Walid sekarang memutar otak. Bingung bukan buatan. Tentara Bizantin Romawi berkali-kali lipat banyaknya dengan jumlah pasukan kaum muslimin. Ditambah, pasukan Islam yang dipimpinya tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjatakan lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Dan mereka akan berhadapan di dataran Yarmuk. Tentara Romawi yan hebat itu berkekuatan lebih dari 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 45.000 orang itu, sesuai dengan strategi Khalid, dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab Utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai ketua tentara Romawi telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan. Romawi juga menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Rom dikenal sebagai ‘legions’, yang satu bagiannya terdapat 3000-6000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Ditambah dengan dan ‘tentara bergajah’. Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

JALANNYA PEPERANGAN

Panglima Romawi, Gregorius Theodore -orang-orang Arab menyebutnya “Jirri Tudur”– ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Ia menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Ia ganti mengambil pedang besar. Ketika berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang serta tentang Islam.

Mendengar jawaban Khalid, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Ia lalu belajar Islam sekilas, sempat menunaikan salat dua rakaat, lalu bertempur di samping Khalid. Gregorius syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Namun pasukan Islam mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Pada perang Yarmuk, Az-Zubair bertarung dengan pasukan Romawi, namun pada saat tentara muslim bercerai berai, beliau berteriak : “Allahu Akbar”kemudian beliau menerobos ke tengah pasukan musuh sambil mengibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan, anaknya Urwah pernah berkata tentangnya :“Az-Zubair memiliki tiga kali pukulan dengan pedangnya, saya pernah memasukkan jari saya didalamnya, dua diantaranya saat perang badar, dan satunya lagi saat perang Yarmuk.

Salah seorang sahabatnya pernah bercerita : “Saya pernah bersama Az-Zubair bin Al-’Awwam dalam hidupnya dan saya melihat dalam tubuhnya ada sesuatu, saya berkata kepadanya : demi Allah saya tidak pernah melihat badan seorangpun seperti tubuhmu, dia berkata kepada saya : Demi Allah tidak ada luka dalam tubuh ini kecuali ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan dijalan Allah. Dan diceritakan tentangnya : Sesungguhnya tidak ada gubernur/pemimpin, penjaga dan keluar sesuatu apapun kecuali dalam mengikuti perang bersama Nabi saw, atau Abu Bakar, Umar atau Utsman.

Hari ke-4, Hari Hilangnya Mata

Peristiwa ini terjadi pada hari keempat perang Yarmuk, dimana dari sumber ini dikabarkan 700 orang dari pasukan Muslim kehilangan matanya karena hujan panah dari tentara Romawi. Dan hari itu merupakan hari peperangan terburuk bagi pasukan Muslimin.

Hari ke-6, Terbunuhnya Gregory, Komandan Pasukan Romawi

Hari keenam dari perang Yarmuk fajar benderang dan jernih. Itu adalah minggu ke empat Agustus 636 (minggu ketiga Rajab, 15 H). Kesunyian pagi hari tidak menunjukkan pertanda akan bencana yang akan terjadi berikutnya. Pasukan muslim saat itu merasa lebih segar, dan mengetahui niat komandan mereka untuk menyerang dan sesuatu di dalam rencananya, tak sabar untuk segera berperang. Harapan-harapan pada hari itu menenggelamkan semua kenangan buruk pada ’Hari Hilangnya Mata’. Di hadapan mereka berbaris pasukan Romawi yang gelisah – tidak terlalu berharap namun tetap berkeinginan untuk melawan dalam diri mereka.

Seiring dengan naiknya matahari di langit yang masih samar di Jabalud Druz, Gregory, komandan pasukan yang dirantai, mengendarai kudanya maju ke depan di tengah-tengah pasukan Romawi. Dia datang dengan misi untuk membunuh komandan pasukan Muslimin dengan harapan hal itu akan memberikan efek menyurutkan semangat pimpinan kesatuan dan barisan kaum Muslimin. Ketika ia mendekati ke tengah-tengah pasukan Muslimin, dia berteriak menantang (untuk berduel) dan berkata, ”Tidak seorang pun kecuali Komandan bangsa Arab!

Abu Ubaidah seketika bersiap-siap untuk menghadapinya. Khalid dan yang lainnya mencoba untuk menahannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai lawan tanding sangat kuat, dan meang terlihat seperti itu. Semuanya merasa bahwa akan lebih baik apabila Khalid yang keluar menjawab tantangan itu, namum Abu Ubaidah tidak bergeming. Ia berkata kepada Khalid, ”Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan perkaranya.”

Kedua komandan berhadap-hadapan di atas punggung kudanya masing-masing, mengeluarkan pedangnya dan mulai berduel. Keduanya adalah pemain pedang yang tangguh dan memberikan penonton pertunjukkan yang mendebarkan dari permainan pedang dengan tebasan, tangkisan dan tikaman. Pasukan Romawi dan Muslim menahan nafas. Kemudian setelah berperang beberapa menit, Gregory mundur dari lawannya, membalikkan kudanya dan mulai menderapkan kudanya. Teriakan kegembiraan terdengar dari pasukan Muslimin atas apa yang terlihat sebagai kekalahan sang prajurit Romawi, namun tidak ada reaksi serupa dari Abu Ubaidah. Dengan mata yang tetap tertuju pada prajurit Romawi yang mundur itu, ia menghela kudanya maju mengikutinya.

Gregory belum beranjak beberapa ratus langkah ketika Abu Ubaidah menyusulnya. Gregory, yang sengaja mengatur langkah kudanya agar Abu Ubaidah menyusulnya, berbalik dengan cepat dan mengangkat pedangnya untuk menyerang Abu Ubaidah. Kemundurannya dari medan pertempuran adalah tipuan untuk membuat lawannya lengah. Namun Abu Ubaidah bukanlah orang baru, dia lebih tahu mengenai permainan pedang dari yang pernah dipelajari Gregory. Orang Romawi itu mengangkat pedangnya, namun hanya sejauh itu yang dapat dilakukannya. Ia ditebas tepat pada batang lehernya, dan pedangnya jatuh dari tangannya ketika dia rubuh ke tanah. Untuk beberapa saat Abu Ubaidah duduk diam di atas kudanya, takjub pada tubuh besar jendral Romawi tersebut. Kemudian dengan meninggalkan perisai dan senjata yang berhiaskan permata orang Romawi itu, yang diabaikannya karena kebiasaannya tidak memandang berharga harta dunia, prajurit yang shalih itu kemudian kembali kepada pasukan Muslimin.

Kehidupan Khalid bin Walid adalah perang sejak lahir sampai matinya. Lingkungan, Pendidikan, pertumbuhan dan seluruh hidupnya, sebelum dan sesudah Islam, seluruhnya merupakan arena bagi seorang pahlawan Berkuda yang sangat lihai dan ditakuti

Pedangnya adalah alat yang sangat ampuh sebagai penebus masa lalunya. Pedang yang berada dalam genggaman seorang panglima berkuda seperti Khalid, dan tangan yang menggenggam pedang itu digerakkan oleh hati yang bergelora serta di dorong oleh pembelaan yang mutlak terhadap agama yang suci, sungguh amat sulit bagi pedang ini untuk melepaskan diri sama sekali dari pembawaannya yang keras dan dahsyat, dan ketajamannya yang memutus…….

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, Tak ada seorang wanita pun yang akan sanggup melahirkan lagi laki-laki seperti Khalid.” Ia adalah pribadi yang sering dilukiskan oleh para sahabat-sahabat maupun musuh-musuhnya, dengan:Orang yang tidak pernah tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur.”

Suatu saat ia pernah berkata: Tak ada yang dapat menandingi kegembiraanku, bahkan lebih pada saat malam pengantin, atau di saat dikaruniai Bayi, yaitu suatu malam yang sangat genting, dimana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang Muhajirin menggempur kaum musyrikin di waktu subuh.”

Ada sesuatu yang selalu merisaukan pikirannya sewaktu masih hidup, yaitu kalau-kalau ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh usianya di atas punggung kuda perang dan dibawah kilat pedangnya.

Ketika itu ia berkata: Aku telah ikut serta berperang dalam pertempuran di mana-mana, seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan anak panah…….kemudian inilah aku, tidak seperti yang aku inginkan, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta.”

Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia berwasiat kepada Khalifah Umar, agar Khalifah mewakafkan harta kekayaan yang ia tinggalkan, yang berupa Kuda dan Pedangnya. Selebihnya tidak ada lagi barang berharga yang dapat dimiliki oleh orang.

Seumur hidupnya ia tak pernah dipengaruhi oleh keinginan, kecuali menikmati kemenangan dan berjaya mengalahkan musuh kebenaran.

Tak satupun kesenangan duniawi yang dapat mempengaruhi keinginan nafsunya, kecuali hanya satu, yaitu barang yang dengan sangat hati-hati sekali dan mati-matian ia menjaganya. Barang itu berupa Kopiah. Pernah suatu ketika, kopiah itu jatuh dalam perang Yarmuk. Ia bersama beberapa pasukannya dengan susah payah mencarinya. Ketika orang lain mencelanya karena itu, ia berkata, “Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah saw”.

Di saat jenazahnya di usung beberapa sahabat keluar dari rumahnya, sang ibu memandangnya dengan kedua mata yang bercahaya memperlihatkan kekerasan hati tapi disaput awan duka cita, lalu melepaskannya dengan kata-kata :

Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu….

Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…

Engkau pemberani melebihi Singa Betina…..

Yang sedang mengamuk melindungi anaknya……

Engkau lebih dahsyat dari air bah…..

Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah……

Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman,

Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada yang ada di dunia.

Ia hidup terpuji, dan berbahagia setelah mati…..

Kisah, Sejarah dan Pelajaran Dari Perang Uhud

Perang Uhud (Bahasa Arab: غزوة أحد‎ Ġazwat ‘Uḥud) berlaku pada hari Sabtu, 7 Syawal atau 11 Syawal tahun ketiga hijrah (26 Mac 625 M) adalah peperangan antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin Quraisy  Mekah yang terjadi pada tahun 3 Hijriah di Gunung Uhud. Gunung kecil yang terdiri dari batu hitam diselimuti oleh tanah kering ini tingginya 1050 meter, terletak di sebelah barat laut Madinah, tepatnya 5 km arah utara dari Masjid Nabawi dan arah selatan dari Gunung Tsur. Peristiwa pertempuran ini terasa begitu dahsyat dan memberikan dampak emosional, 70 Orang Syuhada gugur dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam terluka. Berikut kami ulas secara singkat  Kisah pertempuran Uhud dan hikmah dibalik musibah yang menimpa kaum muslimin. Bismillahirrahmanirrahim..

Latar belakang pertempuran

Mendung kesedihan masih saja menyelimuti kota Makkah. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa kaum Musyrikin Quraisy tak mampu menyembunyikan duka lara mendalam perihal kekalahan telak mereka pada perang Badar tahun ke-2 Hijriyah, hati mereka tersayat pilu tak terkira. Berita kalahnya pasukan Quraisy terasa begitu cepat menyebar keseluruh penjuru kota Makkah, bak awan bergerak menutupi celah celah langit yang kosong di musim penghujan. Namun sangat disayangkan, kekalahan telak kaum paganis Quraisy pada perang itu tak mampu merubah sikap bengis mereka terhadap kaum muslimin. Dendam kesumat nan membara tertancap kokoh dalam hati mereka, tewasnya tokoh-tokoh Quraisy berstrata sosial tinggi pada peristiwa nahas itu semakin menambah kental kebencian Quraisy terhadap kaum muslimin.

Persiapan pasukan Quraisy

Tokoh-tokoh Quraisy seperti  Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayah, dan Abu Sufyan bin Harb (sebelum mereka masuk Islam) bangkit sebagai pelopor-pelopor yang sangat getol mengobarkan api balas dendam terhadap Islam dan pemeluknya. Para orator ulung bangsa Arab tersebut menempuh langkah-langkah strategis  untuk memuluskan program balas dendam tersebut, mula-mula mereka melarang warga Makkah meratapi kematian korban tewas perang Badar kemudian menunda pembayaran tebusan kepada kaum muslim untuk membebaskan tawanan Quraisy yang masih tersisa di Madinah. Mereka sibuk menggalang dana untuk menyongsong aksi balas dendam, mereka datang kepada para pemilik kafilah dagang Quraisy yang merupakan pemicu utama terjadinya perang Badar, seraya menyeru :

”Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh Muhammad telah menganiaya kalian serta membunuh tokoh-tokoh kalian! Maka bantulah kami dengan harta kalian untuk membalasnya! Mudah-mudahan kami bisa menuntut balas terhadap mereka.”

Rencana tersebut mendapat respon hangat dari masyarakat Quraisy, kontan dalam waktu yang sangat singkat terkumpul dana perang yang cukup banyak berupa 1000 onta dan 50.000 keping mata uang emas. Sebagaimana yang Allah Subhaanallaahu wa Ta’aala lansir pada ayat ketigapuluh enam dari surat Al-Anfal:

Sesungguhnya orang-orang kafir itu mereka menginfakkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah…

Hari demi hari tampak upaya mereka mendapat hasil signifikan. Betapa tidak, hanya dalam kurun waktu satu tahun saja mereka mampu menghimpun pasukan tiga kali lipat lebih besar dibanding jumlah pasukan Quraisy pada perang setahun lalu (perang Badar) ditambah fasilitas persenjataan yang memadai terdiri dari 3000 onta, 200 kuda dan 700 baju besi, jumlah total pasukan tidak kurang dari 3000 prajurit ditambah lima belas wanita bertugas mengobarkan semangat tempur dan menghalau pasukan lari mundur kebelakang.

Bertindak sebagai panglima tertinggi pasukan Quraisy adalah Abu Sufyan bin Harb, adapun pasukan berkuda dibawah komando Khalid bin Al Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal, sementara panji- panji perang dipegang para ahli perang dari Kabilah Bani Abdud Dar, dan barisan wanita dibawah koordinasi Hindun bintu ’Utbah istri Abu Sufyan. Terasa lengkap dan cukup memadai persiapan Quraisy dalam periode putaran perang kali ini, arak-arakan pasukan besar sarat anarkisme dan angkara murka kini tengah merangsek menuju Madinah menyandang misi balas dendam.

Sampainya kabar kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Beliau menerima surat rahasia dari Al Abbas bin Abdul Mutthalib paman beliau yang masih bermukim di Makkah. Kala itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berada di Quba, Ubay bin Ka’ab diminta untuk membaca surat tersebut dan merahasiakan isinya. Beliau bergegas menuju Madinah mengadakan persiapan militer menyongsong kedatangan ’tamu tak diharapkan itu’.

Bak angin berhembus, berita pergerakan pasukan kafir Quraisy menyebar keseluruh penjuru Madinah, tak ayal kondisi kota itu mendadak  tegang , penduduk kota siaga satu, setiap laki-laki tidak lepas dari senjatanya walau dalam kondisi shalat. Sampai-sampai mereka bermalam di depan pintu rumah dalam keadaan merangkul senjata.

Majelis musyawarah militer

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengumpulkan para sahabatnya sembari  bersabda :

Demi Allah sungguh aku telah melihat pertanda baik, aku melihat seekor sapi yang disembelih, pedangku tumpul, dan aku masukkan tanganku didalam baju besi, aku ta’wilkan sapi dengan gugurnya sekelompok orang dari sahabatku, tumpulnya pedangku dengan gugurnya salah satu anggota keluargaku sementara baju besi dengan Madinah”.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berpendapat agar tetap bertahan di dalam kota Madinah dan meladeni tantangan mereka di mulut-mulut lorong kota Madinah. Pendapat ini disetujui oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, Abdullah bin Ubay  memilih pendapat ini bukan atas pertimbangan strategi militer melainkan agar dirinya bisa dengan mudah kabur dari pertempuran tanpa mencolok pandangan manusia.  Adapun mayoritas para sahabat, mereka cenderung memilih menyambut tantangan Quraiys di luar Madinah dengan alasan banyak diantara mereka tidak sempat ambil bagian dalam perang Badar, kali ini mereka tidak ingin ketinggalan untuk ’menanam saham’ pada puncak amalan tertinggi dalam Islam (JIHAD).  Hamzah bin Abdul Mutthalib sangat mendukung pendapat ini seraya berkata :

”Demi Dzat Yang menurunkan Al Qur’an kepadamu, sungguh Aku tidak akan makan sampai Aku mencincang mereka dengan pedangku di luar Madinah.”

Dengan mempertimbangkan berbagai usulan para sahabat akhirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memutuskan untuk menjawab tantangan Quraisy di medan terbuka luar kota Madinah. Dan meninggalkan selera Abdullah bin Ubay.

Hari itu Jum’at tanggal 6 Syawwal 3 H beliau memberi wasiat kepada para sahabat agar bersemangat penuh kesungguhan dan bahwasannya Allah akan memberi pertolongan atas kesabaran mereka. Lalu mereka shalat Ashar dan Beliau beranjak masuk kedalam rumah bersama Abu Bakar dan Umar bin Al Khathab, saat itu beliau mengenakan baju besi dan mempersiapkan persenjataan.

Para sahabat menyesal dengan sikap mereka yang terkesan memaksa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk keluar dari Madinah, tatkala Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam keluar mereka berkata :

”Wahai Rasulullah, kami tidak bermaksud menyelisihi pendapatmu, putuskanlah sekehendakmu! Jika engkau lebih suka bertahan di Madinah maka lakukanlah!”

Beliau menjawab:

”Tidak pantas bagi seorang nabi menanggalkan baju perang yang telah dipakainya sebelum Allah memberi keputusan antara dia dengan musuhnya.”

Kondisi umum pasukan Islam

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam membagi pasukan Islam menjadi tiga batalyon : Batalyon Muhajirin dibawah komando Mush’ab bin Umair, Batalyon Aus dikomando oleh Usaid bin Hudhair dan Batalyon Khazraj dipimpin oleh Khabbab bin Al Mundzir . Jumlah total pasukan Islam hanya 1000 orang, dengan perlengkapan fasilitas serba minim berupa 100 baju besi dan 50 ekor kuda (dikisahkan dalam sebuah riwayat: tanpa adanya kuda sama sekali) dalam perang ini. Wallahu a’lam

Sesampainya pasukan Islam disebuah tempat yang dikenal dengan Asy Syaikhan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menyeleksi beberapa para sahabat yang masih sangat dini usia mereka diantaranya Abdullah bin Umar bin Al Khathab, Usamah bin Zaid, Zaid bin Tsabit, Abu Said Al Khudry dan beberapa sahabat muda lainnya, tak urung kesedihan pun tampak di wajah mereka dengan terpaksa mereka harus kembali ke Madinah.

Orang-orang munafikin melakukan penggembosan

Berdalih karena pendapatnya ditolak oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul melakukan aksi penggembosan dalam tubuh pasukan Islam. Musuh Allah ini berhasil memprovokasi hampir sepertiga jumlah total pasukan, tidak kurang dari 300 orang kabur meninggalkan front jihad fisabilillah. ’Manusia bermuka dua’ ini memang sengaja melakukan aksi penggembosan ditengah perjalanan agar tercipta kerisauan di hati pasukan Islam sekaligus menyedot sebanyak mungkin kekuatan muslimin.

Strategi militer Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan tugas pasukan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sang ahli strategi militer mengatur barisan pasukan dan membagi tugas serta misi mereka. Beliau menempatkan 50 pemanah di bukit Ainan bertugas sebagai sniper-sniper dibawah komando Abdullah bin Jubair bin Nu’man Al Anshary, Beliau memberi intruksi militer seraya bersabda :

Gempurlah mereka dengan panah-panah kalian!Jangan tinggalkan posisi kalian dalam kondisi apapun! Lindungi punggung-punggung kami dengan panah-panah kalian! Jangan bantu kami sekalipun kami terbunuh! Dan jangan bergabung bersama kami sekalipun kami mendapat rampasan perang!. Dalam riwayat Bukhari:jangan tinggalkan posisi kalian sekalipun kalian melihat burung-burung telah menyambar kami sampai datang utusanku kepada kalian!

Sesampainya di Uhud kedua pasukan saling mendekat, panglima kafir Quraisy Abu Sufyan berupaya memecah persatuan pasukan Islam, dia berkata kepada kaum Anshar: ”Biarkan urusan kami dengan anak-anak paman kami (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan kaum Muhajirin)! Maka kami tidak akan mengusik kalian, kami tidak ada kepentingan memerangi kalian!”

Akan tetapi, upaya Abu Sufyan tidak menuai hasil karena kokohnya keimanan kaum Anshar. Justru sebaliknya, mereka membalasnya dengan ucapan yang amat pedas yang membuat panas telinga orang yang mendengarnya.

Awal mula pertempuran

Thalhah bin Abi Thalhah Al Abdary pemangku panji perang kafir Quraisy, seorang yang dikenal sangat mahir dan pemberani maju menantang mubarazah (duel), secepat kilat Zubair Ibnul Awwam menerkam dan membantingnya, Thalhah tak berdaya melepas nafas terakhirnya dengan leher menganga. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bertakbir dan bertakbirlah kaum muslimin.

Bangkitlah Abu Syaibah Utsman bin Abi Thalhah mengibarkan kembali panji tersebut, dengan penuh kesombongan menantang duel, secepat kilat pula Hamzah bin Abdul Mutthalib menghantam pundaknya dengan sabetan pedang yang sangat kuat hingga menembus pusarnya tak ayal tangan dan pundaknya terlepas, Utsman tersungkur tak berdaya meregang nyawa. Berikutnya Abu Sa’ad bin Abi Thalhah mengambil panji tersebut namun seiring dengan itu anak panah Sa’ad bin Abi Waqash menembus kerongkongannya.

Musafi’ bin Abi Thalhah memberanikan diri mengangkat kembali panji Quraisy namun ia tewas mendadak tersambar runcingnya anak panah Ashim bin Tsabit bin Abul Aflah. Berikutnya Kilab bin Thalhah bin Abi Thalhah saudara kandung Musafi’ mengibarkan kembali panji itu namun ia segera roboh ketanah mengakhiri hidupnya setelah pedang Zubair bin Al Awwam menyambar badannya. Al Jallas bin Abi Thalhah segera menopang kembali menopang panji itu, namun sabetan pedang Thalhah bin Ubaidillah segera memecat nyawa dari tubuhnya. Keenam pemberani tersebut berasal dari satu keluarga kabilah Bani Abdi Dar.

Kemudian Arthah bin Syurahbil maju namun Ali bin Abi Thalib tak membiarkannya hidup lama menenteng panji dan langsung melibasnya, realita yg sungguh spektakuler, tidaklah seorang pun dari kaum musyrikin mengambil panji tersebut melainkan terenggut nyawanya hingga genap sepuluh orang menemui ajalnya disekitar panji perang musyrikin. Setelah itu tak ada seorang pun dari mereka yang bernyali mengambil panji yang tergeletak di bumi Uhud.

Perang pun Berkobar

Genderang perang semakin nyaring saja bunyinya, kucuran darah, ringkikan kuda, dencing suara pedang  beradu semakin menambah warna kental suasana bumi Uhud saat itu. Perang berkecamuk merata di setiap titik bak kobaran api menjalar membakar rerumputan kering, jagoan-jagoan Islam benar-benar menampakkan kehebatan dan kepiawaian mereka dalam putaran perang kali ini, militansi pasukan Islam merupakan buah dari kekuatan iman yang merasuk dan terpatri kuat dalam hati mereka, seakan-akan iman telah memenuhi setiap pembuluh darah mereka, kecilnya jumlah tak menciutkan nyali para pejuang demi tegaknya agama Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi. Mereka begitu yakin bahwa kematian tidak akan dipercepat dengan perang dan tidak pula diundur dengan meninggalkannya.

Bermodalkan iman dan semangat membaja mereka bertawakal kepada Rabbul Alamin menggadaikan nyawa mereka demi kenikmatan abadi disisi Allah subhanahu wa ta’ala –Al-Jannah (surga). Kala itu Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan sebilah pedang seraya bersabda,

”Siapa yang hendak mengambil pedang ini sesuai dengan haknya?” Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu dan sejumlah para shahabat bergegas maju, berizin untuk mengambil pedang itu. Namun, meski demikian, beliau  belum juga menyerahkannya kepada salah seorang pun hingga Abu Dujanah Simak bin Kharasyah radhiyallahu ‘anhu maju, sembari berujar, ”Apa hak pedang itu wahai Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam?” ”Engkau sabetkan pada musuh sampai bengkok,” jawab beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku yang akan mengambil dengan haknya, wahai Rasulullah,” pinta Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu. Barulah setelah itu, beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam memberikannya kepadanya.

Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu menuturkan: “Muncul dalam hatiku kekecewaan tatkala Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam menolak permintaanku, Aku berkata dalam hatiku, ’Aku adalah anak bibi beliau Shafiyah bintu Abdul Muththalib. Aku dari bangsa Quraisy. Aku lebih dahulu meminta pedang itu, namun justru beliau memberikannya kepada Abu Dujanah dan menolakku. Demi Allah, aku akan perhatikan sepak terjang Abu Dujanah!’ Maka aku selalu mengikutinya. Mula-mula ia memakai surban merah. Kaum Anshar berkata, ’Apakah Abu Dujanah keluar dengan surban kematian?’ Ia pun keluar sembari mendendangkan syair-syair.”

Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu melibas setiap musuh yang menghadangnya, tidak ada satu musuh pun yang ia lewati melainkan menjadi seonggok mayat, ia menggempur, menyibak barisan musuh sampai menembus pertahanan Quraisy paling belakang yaitu barisan prajurit wanita Quraisy. Kalau bukan karena kemuliaan pedang Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh seorang wanita, tentunya kepala Hindun bintu Utbah telah lepas dari badannya. Namun Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu menarik pedang yang sudah berada tepat diatas kepala Hindun (sebelum masuk Islam), ia menghindar dan meninggalkan komandan pasukan wanita Quraisy itu sembari berkata, ”Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya lebih mengetahui.”

Gugurnya Paman Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu sebagai Syahid

Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu seorang yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membela Islam, orang yang tidak pernah merasa takut melawan kezhaliman, pemberani dan mahir dalam perang menggempur jantung pertahanan musuh bak singa jantan menerkam mangsa, mengamuk, menumbangkan setiap lawan tanpa hambatan, musuh kocar-kacir bak daun-daun kering diterpa angin. Singa Allah subhanahu wa ta’ala dan Singa RasulNya ini tak membiarkan satu lawan pun kecuali terlibas olehnya, namun tanpa ia sadari tiba-tiba sebuah lembing tajam milik Wahsyi bin Harb (yang pada waktu itu belum masuk Islam) telah lama mengintainya, menusuk dan merobek perutnya. Ia gugur sebagai syahid.

Abu Bakar, Umar bin Al-Khathab, Sa’ad bin Abi Waqash dan seluruh pasukan Islam radhiyallahu ‘anhum mengerahkan segala keberanian menggempur dan memporak-porandakan pertahanan lawan yang semakin rapuh. Pasukan Quraisy kalang-kabut tak mampu memberi perimbangan terhadap serangan pasukan Islam. Barisan musuh semakin kacau-balau. Tak pelak, mereka lari centang-perenang meninggalkan medan laga, dan lalai dengan ambisi buruk yang selama ini mereka impikan. Prajurit wanita Quraisy lari terbirit-birit ke perbukitan sembari menyingsingkan pakaian hingga tersingkap betis-betis mereka.

Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala selalu memberi pertolongan kepada hamba-hambaNya selama mereka menolong agamaNya.

Kesalahan Fatal Pasukan Pemanah

Kaum muslimin unggul diatas angin menguasai medan laga. Tak ada perlawanan yang berarti dari Quraisy, mereka lari terbirit-birit meninggalkan harta benda yang melimpah. Kaum muslimin merasa telah keluar sebagai pemenang. Rasanya tak ada pekerjaan lain, kecuali sibuk mengumpulkan harta rampasan perang yang tercecer. Mulailah kecintaan terhadap dunia menghinggapi hati sebagian besar pasukan pemanah. Mereka khawatir akan tidak mendapat bagian rampasan perang. Mereka meninggalkan bukit strategis itu dan lalai terhadap wasiat Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Komandan pasukan pemanah, Abdullah bin Jubair Al-Ansharyradhiyallahu ‘anhu, mengingatkan mereka seraya berkata,

“Lupakah kalian dengan wasiat Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam?”

Namun apa daya, mereka tak mengindahkan nasehat sang komandan. Empat puluh orang pasukan turun meninggalkan tugas inti mereka.

Kini pertahanan inti kaum muslimin dalam kondisi rawan. Jantung pertahanan pasukan Islam melemah tanpa mereka sadari. Kholid bin Al-Walid, salah satu komandan pasukan berkuda Quraisy, tak membiarkan kesempatan emas itu lewat begitu saja. Panglima perang yang tidak pernah kalah dalam setiap pertempuran baik ketika masih kafir maupun setelah masuk Islam itu secepat kilat memutar haluan arah pasukan kuda Quraisy. Ia memacu kudanya dengan segala ambisi merebut posisi paling strategis, yaitu bukit para pemanah. Musuh menyergap dan mengepung sisa pasukan pemanah. Para pemanah tak kuasa menghalau serangan mendadak itu. Sepuluh orang pemanah gugur satu persatu fi sabilillah berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala –semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka semua–.

Kuda Kholid bin Walid meringkik dengan suara yang dikenali pasukan Quraisy. Seorang wanita Quraisy, ’Amrah Al-Haritsiyyah, memungut dan mengibarkan kembali panji perang yang tergeletak sejak awal pertempuran. Quraisy bersatu dan bangkit semangat mereka untuk menyerang balik. Mereka mengepung kaum muslimin dari dua arah. Posisi kaum muslimin terjepit dan dengan mudah mereka membantai para mujahidin. Kini musuh mampu menguasai bukit. Kemudian mereka merangsek menyerang sisa pasukan Islam yang lain. Posisi mereka seakan berada diantara gigi-gerigi mesin penggilas. Pertahanan kaum muslimin semakin rapuh. Kondisi berubah seketika.

Barisan pasukan Islam semakin kacau balau. Susah membedakan antara kawan dan lawan. Bahkan ada diantara mereka yang saling menyerang karena gaduh dan gawatnya kondisi. Ayah Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma pun menjadi korban salah sasaran.

Kabar dusta kematian Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam

Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu, duta Islam pertama di Madinah, salah satu pemegang panji komando, tewas di tangan Ibnu Qim’ah. Setelah berhasil membunuhnya, ia berteriak, ”Muhammad telah tewas!” karena menyangka bahwa Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu adalah Rasulullahshallalallahu ‘alaihi wa sallam. Memang Mush’ab adalah seorang shahabat yang bentuk fisik dan perawakannya sangat mirip dengan Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Teriakan itu kontan membuat semangat para shahabat radhiyallahu ‘anhum turun drastis. Di sisi lain, serangan Quraisy semakin membabi buta terhadap pasukan Islam hingga terbunuh sejumlah shahabatradhiyallahu ‘anhum.

Jiwa pasukan Islam lemah tak tahu kemana mereka akan melangkah. Sebagian mereka terduduk tak tahu apa yang ditunggu, bahkan sebagian mereka berpikir untuk menghubungi Abdullah bin Ubay bin Salul –salah satu tokoh munafiqin– guna meminta perlindungan keamanan dari Abu Sufyan (yang ketika itu belum masuk Islam).

Kala itu Anas bin An-Nadhri  radhiyallahu ‘anhu melewati mereka seraya berkata,

”Apa yang kalian tunggu?” Mereka berkata, ”Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam telah terbunuh,” jawab mereka lemas. ”Apa yang kalian pikirkan terhadap kehidupan sepeninggal beliau?! Bangkit dan matilah kalian diatas matinya Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam!” Lalu ia berkata, ”Ya Allah, aku meminta udzur atas sikap mereka (muslimin), dan aku berlepas diri dari perbuatan mereka (musyrikin).” Lalu ia maju ke arah musuh. ”Hendak kemana engkau, wahai Abu Umar?” tanya Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. “Sungguh aku mencium bau Al-Jannah (surga) di bawah Uhud, wahai Sa’ad!” ujarnya. Lalu ia maju menyerang musuh sampai gugur dengan lebih dari delapan puluh luka di badannya. Tidak ada yang dapat mengenali jenazahnya kecuali saudarinya yang mengenali jari-jemarinya.

Tsabit bin Ad Dihdah radhiyallahu ‘anhu menyeru,

“Wahai orang-orang Anshar, kalaupun Muhammad telah mati, maka Allah tidak akan pernah mati! Beperanglah atas nama agama kalian, niscaya Allah menolong kalian!” Majulah sekelompok orang dari Anshar menyerang pasukan Khalid bin Walid namun semuanya gugur fi sabilillah.

Setelah terbunuhnya Mush’ab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallammemberikan panji perang pada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ia pun menyerang musuh bersama sejumlah shahabat radhiyallahu ‘anhum dan telah menghabiskan segala kemampuan.

Jagoan Quraisy menjadikan Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai target operasi utama. Beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam hanya didampingi sembilan orang shahabat radhiyallahu ‘anhum. Adapun pasukan muslimin yang lain tercerai-berai. Beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallammenyeru para shahabat dengan teriakan, ”Kemarilah! Aku adalah Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Namun, kaum musyrikin lebih dahulu mendengarnya, secepat kilat mencari sumber suara, dan disitulah mereka mendapatkan manusia mulia yang selama ini mereka berambisi besar untuk membunuhnya. Gugur tujuh orang, yang kesemuanya dari kalangan Anshar, dari sembilan orang shahabat yang melindungi Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun dua orang yang tersisa adalah dari kalangan Muhajirin, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma.

Saat itu, musuh dengan leluasa menyerang  Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Utbah bin Abi Waqqash melukai bibir beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam dengan lemparan batu. Abdullah bin Shihab Az-Zuhry menciderai pipi beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Qim’ah menyabetkan pedangnya pada pundak beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam, yang menyebabkan rasa sakit lebih dari sebulan, namun sabetan tersebut tidak berhasil menembus baju besi beliaushallalallahu ‘alaihi wa sallam. Tak puas dengan itu, Abdullah menyabetkan kembali pedangnya tepat di pipi beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam.

”Rasakan ini! Aku adalah Ibnu Qim’ah!” teriak Abdullah bin Qim’ah bengis. Topi besi beliaus hallalallahu ‘alaihi wa sallam rusak. Pecahan rantainya menembus pipi  hingga pecah gigi seri beliau shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Tak ayal darah membasahi wajah suci manusia termulia itu shallalallahu ‘alaihi wa sallam.Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma menghabiskan tenaga melindungi Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam hingga putus beberapa jari-jemari Thalhah radhiyallahu ‘anhu.

Akhir Pertempuran

Jumlah korban kaum muslimin dalam periode perang kali ini memang lebih banyak dibanding jumlah korban kaum musyrikin. Oleh karena itu, mayoritas ahli sejarah menyatakan bahwa kaum muslimin mengalami kekalahan dalam pertempuran Uhud.

Hikmah yang Terkandung di dalamnya :

  • Memahamkan kepada kaum muslimin betapa buruknya akibat kemaksiatan dan mengerjakan apa yang telah dilarang Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika barisan pemanah meninggalkan pos-pos mereka yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Sudah menjadi kebiasaan bahwa para Rasul ‘alaihimus salam juga menerima ujian dan cobaan, yang pada akhirnya mendapatkan kemenangan. Di antara hikmahnya, apabila mereka senantiasa mendapatkan kemenangan, tentu orang-orang yang tidak pantas akan masuk ke dalam barisan kaum mukminin sehingga tidak bisa dibedakan mana yang jujur dan benar; dan mana yang dusta. Sebaliknya, kalau mereka terus-menerus kalah, tentulah tidak tercapai tujuan diutusnya mereka. Sehingga sesuai dengan hikmah-Nya terjadilah dua keadaan ini.
  • Ditundanya kemenangan pada sebagian pertempuran, adalah sebagai jalan meruntuhkan kesombongan diri. Maka ketika kaum mukminin diuji, lalu mereka sabar, tersentaklah orang-orang munafiqin dalam keadaan ketakutan.
  • Allah subhanahu wa ta’ala mempersiapkan bagi hamba-Nya yang beriman tempat tinggal di negeri kemuliaan-Nya yang tidak bisa dicapai oleh amalan mereka. Dia tetapkan beberapa sebab sebagai ujian dan cobaan agar mereka sampai ke negeri tersebut.
  • Bahwasanya syahadah (mati syahid) termasuk kedudukan tertinggi bagi para wali Allahsubhanahu wa ta’ala.
  • Perang Uhud ini seakan-akan persiapan menghadapi wafatnya Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala meneguhkan mereka, dan mencela mereka yang berbalik ke belakang, baik karena Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam terbunuh atau meninggal dunia.
  • Hikmah lain adalah adanya pembersihan terhadap apa yang ada di dalam hati kaum mukminin. (Lihat Fathul Bari, 7/433)

Wallahu Ta’ala A’lamu bish Shawab. (Dp/dais)

Sumber: daulahislam.com