Warning: DOMDocument::loadXML() [domdocument.loadxml]: Start tag expected, '<' not found in Entity, line: 1 in /home/jalandakwah/public_html/wp-content/plugins/premium-seo-pack/modules/title_meta_format/init.social.php on line 481
Kamis , Agustus 17 2017

Recent Posts

Banyak Rahasia Hidup Tak Terungkap Manusia

Tausiyah Senja

#Banyak Rahasia Hidup Tak Terungkap Manusia#

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Banyak rahasia kehidupan (life secret) ini yg tdk dpt diungkap oleh akal manusia yg terbatas. Apa yg tlh terjadi, masalah yg sedang dialami & kondisi masa depan yg tak pernah pasti adl bagian dari proses kehidupan yg hrs dilalui oleh manusia. Ada sesuatu yg dipersiapkan secara matang & direncanakan dgn rapi tp tdk dpt terwujud menjadi sebuah kenyataan. Sebaliknya ada pula sesuatu hal yg tdk pernah ia rencanakan sebelumnya & tdk terbetik dlm jalan fikiranya tetapi saat ini terjadi & sedang ia alami.

Tak heran ada ungkapan menyatakan, manusia boleh berencana tp Allah SWT yg menentukan. Hal ini bukan berarti manusia tdk perlu berencana tp bertawakkal sembari berencana utk kehidupan yg lbh baik. Kehidupan manusia berada dlm genggaman kekuasaan Allah SWT. Seluruh perkara yg terjadi dialam semesta ini tlh diketahui oleh Allah SWT dlm kitab Lauh Al-mahfudz 50.000 thn sebelum diciptakan. Menyandarkan setiap kata & perbuatan kpd standart ridha Allah SWT berupa halal & haram adl kewajiban setiap hamba yg kelak akan dipertanggung jawabkan dihari kiamat kelak. Sedangkan ketetapan hasil merupakan hak & otoritas dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah yang menurunkan hujan, Dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.Luqman:34).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Belajar Menjadi Orang Sabar

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Kalimat sabar itu nyaring didengar telinga & mudah utk diucapkan lisan. Sifat sabar memang tdk mudah utk dimiliki & diamalkan kecuali bagi orang2 yg berhasil melatih dirinya utk bersabar.

Amru bin Usman Al-makkiy mengatakan sabar adl keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dgn lapang & tenang. Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yg bertaqwa kpd Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bhw kesabaran merupakan setengah dari keimanan.

Sabar dpt diibaratkan seperti sebuah pisau yg tdk akan tumpul, tunggangan pedati yg tdk akan terjatuh & sinar yg tdk akan sirna bahkan ia menjadi teman sejati yg sangat setia. Sabar mencakup 3 hal : sabar dalam menerima musibah, sabar dalam menjalani ketaatan & sabar dalam menjauhi kemaksiatan.

Diantara upaya untuk memiliki sifat sabar : mengikhlaskan niat setiap amal ibadah semata2 krn ridha Allah SWT, memperbanyak ibadah shalat sunat nafilah, memperbanyak istighfar, memperbanyak puasa sunat, memperbanyak tilawah Al-Qur’an dan memperbanyak berdo’a kepada Allah SWT utk meminta dijadikan sbg seorang hamba yg penyabar.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sbg orang2 yg sabar. Aamiin ya rabb..

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yg beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar & shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yg sabar.”(QS.Al-Baqarah:153).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Bersabar Mentaati Allah SWT

Tausiyah Senja

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Upaya utk tetap berada diatas ketaatan kpd Allah SWT dibutuhkan kesabaran yg extra. Tak heran para ulama membagi kesabaran diantaranya adl sabar dlm mentaati Allah SWT. Jangankan utk bisa menambah ketaatan dgn melakukan amalan2 sunat nafilah menunaikan amalan2 yg wajib terkadang pun msh serasa berat.

Sbg cth Utk menunaikan ibadah shalat fardhu berjama’ah di Mesjid atau menunaikan amanah dakwah datang tantangan menggoda seperti cuaca yg panas terik, cuaca hujan yg dingin atau hujan disubuh hari, badan yang letih seharian bekerja, mengantuk ataupun sibuk dgn urusan bisnis.

Rasanya penting bagi kita untuk sering muhasabah diri sejauh mana kedekatan diri kita kepada Allah SWT. Salah satu caranya adl dgn membaca biografi orang2 yg shaleh seperti para sahabat Rasulullah SAW yg mrk adl para ahli ibadah.

Diantaranya adl Utsman bin affan r.a ia selalu mengkhatamkan membaca Al-quran selama 3 hari, beliau pernah berkata : seandainya hati kita suci, niscaya kita tidak akan pernah bosan membaca Al-Qur’an. Sungguh, aku tdk suka apabila datang padaku suatu hari yg di situ aku tdk melihat mushaf Al-Qur’an.

Generasi tabi’in Sufyan ats-Tsauri berkata, Selama lima bulan aku merugi tdk melakukan shalat tahajjud krn dosa yg aku perbuat. Ia ditanya, Apakah dosa yg engkau lakukan? Ia menjawab: Aku melihat seseorang menangis, lalu aku berkata dalam diriku, Orang ini riya. Disadari atau tidak melakukan perbuatan dosa di siang hari atau dimalam hari dpt membuat hati keras & akan menghalangi seseorang dari curahan rahmat Allah SWT utk mendekatkan diri kpd-Nya.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah : Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(QS.Al-Kahfi :103-104).”

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Sibuk Merawat Badan, Lupa Merawat Hati

Tausiyah Senja

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, terkadang perhatian manusia thp fisik badannya melampaui dari perhatiannya thp hatinya. Kesehatan tubuhnya dijaga dgn pola makan yg sehat lg bergizi, istirahat yg cukup & ditambah dgn berolah raga secara teratur.

Penampilan tubuh pun dirawat bagi wanita ada luluran, ada make up & ada jg senam wajah. Belum lagi penampilan pakaiannya yg serba trendi mengikuti gaya fashion teranyar.

Manusia seolah-olah lupa bhw fisik badannya tdk cukup hanya dijaga & dirawat secara dzahir tp jg bathin hatinya perlu dirawat, dipelihara & dijaga.

Pakaian yg kotor itu akan hilang keindahannya. Aurat yang terbuka itu akan hilang kemuliaannya. Badan yg sakit itu akan hilang kesempatan kebaikan baginya. Badan yg mati itu akan hilang kehidupannya.

Hati itu dpt kotor sebagaimana pakaian. Hati dpt telanjang sebagaimana badan. Hati jg dpt sakit sebagaimana badan. Hatipun dpt mati sebagaimana jiwa.

Mari jgn kita abaikan merawat hati agar tdk keras membatu yg sulit menerima nasehat & kebenaran atau mati dari cahaya iman krn banyaknya dosa & kemaksiatan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hati ini dpt berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air. Beliau ditanya, wahai Rasulullah bagaimana membersihkannya? Rasulullah SAW bersabda, memperbanyak mengingat kematian & membaca Al-Qur’an.”(HR.Baihaqi).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Adab Berbicara

Tausiyah Senja

 

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman,  Dlm interaksi sosial selalu ada komunikasi 2 arah. Sedangkan setiap komunikasi itu terdiri dari : orang yg berbicara, orang yg mendengarkan (lawan bicara) & adanya topik pembicaraan.

Bila ada salah persepsi dari suatu komunikasi maka dpt dimungkinkan yg berbicara adl salah, si pendengar yg salah memahami pembicaraan (misunderstanding) & yg dibicarakan tdk benar atau tdk jelas.

Islam mengajarkan tentang adab berbicara yaitu : kpd siapa ia sedang berbicara anak thp orang tua, isteri thp suami, orang tua thp anak ataukah dgn teman sebaya.

Berbicaralah dgn ucapan yg jelas tdk dgn ucapan yg cepat, jgn cepat memotong pembicaraan dgn cara mendengarkan lawan bicara terlebih dahulu, lemah lembut tanpa hrs dgn nada tinggi & topik yg dibicarakan adl perkara yg tdk mengandung fitnah, ghibah, adu domba serta sipendengar hrs memahami apa yg dibicarakan oleh lawan bicara.

Islam itu indah & mulia sebab tdk ada perkara yg tdk diatur didlm Islam termasuk adab berbicara. Bila kita bicara dgn tutur kata yg baik maka orang lainpun akan bicara dgn kita secara baik pula.

Dari Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu bhw Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbicara maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya 3 kali shg semua yg mendengarkannya menjadi faham & apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah seseorang maka beliau pun mengucapkan salam 3 kali.”(HR.Bukhari).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Banyak Rahasia Hidup Tak Terungkap Manusia

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Banyak rahasia kehidupan ini yg tdk dpt diungkap oleh akal manusia yg terbatas. Apa yg tlh terjadi, masalah yg sedang dialami & kondisi masa depan yg tak pernah pasti adl bagian dari proses kehidupan yg hrs dilalui oleh manusia.

Ada sesuatu yg dipersiapkan secara matang & direncanakan dgn rapi tp tdk dpt terwujud menjadi sebuah kenyataan. Sebaliknya ada pula sesuatu hal yg tdk pernah ia rencanakan sebelumnya & tdk terbetik dlm jalan fikiranmya tp saat ini terjadi & sedang ia alami.

Tak heran ada ungkapan menyatakan, manusia boleh berencana tp Allah SWT yg menentukan. Hal ini bukan berarti manusia tdk perlu berencana tp bertawakkal sembari berencana utk kehidupan yg lbh baik.

Kehidupan manusia berada dlm genggaman kekuasaan Allah SWT. Seluruh perkara yg terjadi dialam semesta ini tlh diketahui oleh Allah SWT dlm kitab Lauh Al-mahfudz 50.000 tahun sebelum diciptakan.

Menyandarkan setiap kata & perbuatan kpd standart ridho Allah SWT berupa halal & haram adl kewajiban setiap hamba, sedangkan ketetapan hasil merupakan hak & otoritas Allah SWT.

Allah SWT berfirman,  Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat & Dia-lah yg menurunkan hujan, Dan mengetahui apa yg ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yg dapat mengetahui (dengan pasti) apa yg akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yg dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.Luqman:34).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Menjauhi Sifat Sombong

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Kesombongan adl dosa yg pertama kali dilakukan oleh makhluk Allah subhana wa ta’ala yaitu iblis. Kesombongan pula yg menjadi penyebab terusirnya iblis dari surga. Kesombongan adl sikap merasa bhw dirinya berada diatas orang lain & menolak kebenaran.

Kesombongan dpt menjangkiti siapa saja mulai dari orang yg awam, orang yg berilmu, orang yg kaya raya, pejabat atau politikus, para aktivis dakwah hingga seorang ahli ibadah.

Orang yg awam dpt meremehkan orang lain, orang yg berilmu dpt merendahkan orang yg bodoh, orang yg kaya menghinakan orang yg miskin, pejabat menolak menerapkan syari’at Allah, para aktivis dakwah dpt diuji dgn perasaan dirinya sendiri bhw ia adl orang yg paling banyak berkorban dijalan Allah serta seorang ahli ibadah dpt dibuat kagum dgn amal ibadahnya sendiri.

Orang yg sombong tlh lupa eksistensi dirinya sbg makhluk Allah ta’ala. Orang yg sombong jg tlh kehilangan orientasi dlm beramal ibadah kpd Allah ta’ala. Kesombongan dpt diredam dgn tafakkur diri bhw manusia adl makhluk Allah yg lemah, memiliki sifat tawadhu’ & kesombongan dpt dikikis habis dari dlm jiwa dgn menanamkan niat yg ikhlas dlm setiap perkara kehidupan.

Semoga Allah Subhana wa ta’ala menjaga hati kaum muslimin dari sifat sombong, ujub & takabbur.

Allah Subhana wa ta’ala berfirman, “Apakah yg menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis : Saya lebih baik dari padanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.(QS.Al-A’raf:12).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Lisan Kotor Disebabkan Hati Kotor

Tausiyah Senja

#Lisan Kotor Disebabkan Hati Kotor#

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Lidah itu memang tak bertulang tp tajamnya lidah dpt lbh tajam dari sembilu bambu. Ucapan lisan yg baik lagi penuh hikmah dpt menyejukkan hati & perasaan, sedangkan ucapan lisan yg pedas menyakitkan dpt menyayat2 hati & perasaan.

Anggota tubuh yg terluka dpt sembuh terobati tp bila hati yg terluka sulit utk disembuhkan kecuali dgn kemaafan yang tulus. Berapa banyak manusia yg bertikai bahkan berujung perang shg menumpahkan darah hanya krn berawal dari ucapan lisan yg kotor.

Ketahuilah bhw kotornya lisan adl refleksi dari kotornya hati, sedangkan kotornya hati dpt disebabkan krn banyak noda dosa yg tlh dilakukan. Ucapan yg kotor bila tlh terucap sulit utk menarik kembali ucapannya.

Ucapan yg kotor bisa berupa cacian, makian, umpatan, hinaan, fitnah, dusta & sumpah serapah. Sbg cerminan diri kita masing2 bila tdk ingin hati tersinggung & tersakiti maka jagalah perasaan orang lain dgn menjaga lisan.

Bila tdk mampu menyenangkan hati orang lain maka jgn membuat hatinya terluka. Mari melatih diri utk membiasakan berucap dgn ucapan yg baik atau ucapan nasehat yg terkandung da’wah.

Bila tdk mampu maka sebaiknya hemat bicara dari perkara yg sia2 & memperbanyak berzikir kpd Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Hai orang2 yg beriman, bertakwalah kamu sekalian kpd Allah & katakanlah perkataan yg benar, niscaya Allah memperbaiki amalan2 mu & mengampuni dosa2 mu. Barangsiapa yg mentaati Allah & Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia tlh mendapat kemenengan yg besar.”(QS.Al-Ahzab :70-71).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Jangan Ikuti Penilaian Manusia

Tausiyah Senja

Jangan Ikuti Penilaian Manusia

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Sikap & tindakan seseorang tdk terlepas dari penilaian orang lain. Apakah tindakan itu bersifat positif apalagi tindakan yg negatif.

Dimensi kepala manusia & warna rambutnya bisa sama tetapi corak & kapasitas kandungan otaknya berbeda-beda. Maka tak heran penilaian thp suatu objek yg sama akan menghasilkan perspektif yg berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh cara pandang & pola fikir yg berbeda-beda pula.

Kita msh ingat dgn kisah hikmah seorang anak & ayah naik keledai. Bagaimanapun sikap mrk akan selalu salah dlm penilaian manusia. Keledai dinaiki berdua salah, ayahnya yg menuntun keledai & anaknya yg naik keledai salah, anaknya yg menuntun & ayahnya yg menaiki keledai salah, keduanya berjalan kaki & keledai dituntun salah, pd akhirnya keledai digendong sekalipun msh akan salah juga.

Saran & nasehat tetap dibutuhkan tetapi bukan berarti mengikuti semuanya bila tdk sesuai dgn kebenaran.

Jangan hiraukan omongan & penilaian orang lain krn belum tentu penilaian itu baik serta benar dlm pandangan Allah SWT. Luruskan niat & kuatkan tekad utk melanjutkan apa yg tlh dicanangkan sebelumnya.

Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”(QS.Al-An’am: 116).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Berat Menerima Nasehat

Tausiyah Senja

Berat Menerima Nasehat

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Nasehat kebaikan agama itu indah tp tak seindah bagi orang yg menerima nasehat.

Baginya nasehat adl untaian kata yg menyakitkan hati & perasaan. Apalagi yg menyampaikan nasehat bukanlah orang yg terpandang yg memiliki status sosial dlm pandangan manusia.

Sebenarnya nasehat yg ikhlas dari hati sanubari yg dalam adl seteguk air yg dpt menghilangkan rasa dahaga ditengah padang pasir yg luas atau bagaikan secercah sinar lilin ditengah kegelapan malam yg menerangi ruangan.

Manusia sbg makhluk Allah memiliki tempat salah & lupa. Disinilah peran penting & kedudukan nasehat bagi manusia dpt meluruskan yg bengkok & mengingatkan bagi yg lupa.

Nasehat dpt keluar dari lisan ikhlas siapa saja mulai dari seorang anak kecil, orang awam, kaum intelektual hingga para alim ulama.

Esensi nasehat adl isi kandungannya bukan siapa yg menyampaikannya. Orang yg mampu menerima nasehat adl orang yg bijak yg sadar akan kesalahan & kealpaannya.

Sedangkan orang yg sulit menerima bahkan menolak nasehat adl orang sombong sebab hakekat kesombongan adl menolak kebenaran & merendahkan manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Agama itu nasihat. Kami pun bertanya, Hak siapa (nasihat itu)?. Beliau menjawab, Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin).”(HR.Muslim).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

menyikapi bully-an yang datang dari teman non muslim disosmed

Assalamu’alaikum ustadz, afwan mau bertanya. Bagaimana menyikapi bully-an yang datang dari teman non muslim disosmed tadz terkait status dan apa-apa yang di share menyeru ke Islam ? Apalagi belakangan ini perpecahan antar ummat beragama sangat terasa.

Hamba Allah di Pematang Siantar – SUMUT

Jawab

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb, Ukhti yg dirahmati Allah SWT. Seseorang yg tlh bersyahadat bhw tdk ada Ilah atau Tuhan yg berhak utk disembah selain Allah SWT & Rasulullah Muhammad SAW adl Nabi & Rasul-Nya maka ia menjadi seorang mukmin. Orang yg tlh menyatakan dirinya beriman kpd Allah SWT maka ia akan diberi ujian oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman,

Artinya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?.(QS.Al-Ankabut:2).

Ujian keimanan seorang hamba berbeda2 sesuai dgn kadar keimanannya. Semakin kuat imannya maka semakin berat ujiannya. Demikian dgn sebaliknya.

Diantara ujian keimanan adl mendapatkan pertentangan & perlawanan dari orang kafir baik orang Yahudi maupun Nashrani. Tabiat mrk dari sejak zaman Nabi. Muhammad SAW adl mencaci maki, mencerca, menghina & mencari2 kelemahan agama Allah yg mulia ini.

Tujuan mrk adl tdk menerima bhw agama Islam adl agama penyempurna dari ajaran2 agama samawi & Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT bukan dari kalangan mrk sendiri. Lbh jauh dari itu mrk melakukan kedengkian & kebencian kpd kaum muslimin agar kaum muslimin mengikuti agama mrk. Allah SWT berfirman,

Artinya : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS.Al-Baqarah:120).

Sikap seorang mukmin didlm menghadapi celaan & cacian orang2 kafir adl berusaha utk berdiskusi & berdebat dgn mrk dgn cara yg bijak & penuh hujjah yg kuat shg mrk bisa mendapatkan kebenaran.
Allah SWT berfirman,

{ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} [النحل : 125]

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS.An-Nahl:125).

Disamping itu hrs meningkatkan iman, amal soleh & kesabaran sbg bentuk antisipasi fitnah akhir zaman siap utk menghadapi mrk dgn Jihad Fii Sabilillah sebab orang2 kafir dari sejak dahulu bisa berbuat apa saja thp orang2 beriman termasuk berbuat perang fisik sebagaimana terjadinya perang Salib selama 200 tahun.

Rasulullah SAW bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Artinya : “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yg berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR.Tirmidzi no. 2.260).

Wallahu a’lam

Bersyukur Dengan Masalah

Tausiyah Senja

#Bersyukur Dengan Masalah#

Assalamu’alaikum,

Saudaraku seiman, Menjalani kehidupan ini memang penuh dgn onak & duri. Pepatah Minang mengatakan : “Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso.” Artinya semakin jauh menempuh perjalanan maka semakin banyak pula yg diperhatikan. Semakin lama menjalani kehidupan maka beragam masalah tlh dirasakan

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu bhw hidup ini tak hanya tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa ringan agar kita tahu mahalnya nilai air mata. Bersyukurlah kpd orang yg menyakitimu karena dia yg membuatmu selalu tabah. Bersyukurlah kpd orang yg tlh mengacuhkanmu karena dia yg menjadikanmu berdikari. Bersyukurlah kpd yg tlh menjatuhkanmu krn dia yg tlh menguji kemampuanmu. Bersyukurlah kpd orang yg tlh mendzholimu krn dia yg tlh menguji kesabaranmu.

Dibalik kesulitan akan ada kemudahan, dibalik kesedihan akan ada kebahagiaan & dibalik masalah hidup akan ada pelajaran sangat berharga yg tak dpt dinilai dgn uang.

Allah SWT berfirman, “Atau siapakah yg memperkenankan (doa) orang yg dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yg menghilangkan kesusahan.” (QS.An-Naml: 62).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Ahlussunnah Waljama’ah

Assalamu’alaikum. Pak Ustad Tommy khutbah Jum’at tadi mengemukakan tentang hadist bahwa pada suatu masa Islam akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 yang masuk Surga yaitu Sunnah  Waljama’ah sisanya masuk Neraka” -yang diuraikan adalah beberapa golongan yang sesat semacam Nazilah, Qodoriah, Mutazilah dan Syiah karena menyimpang dari sisi Tauhid Pokok. Pertanyaan saya apakah muslim di Indonesia (mayoritas) bisa termasuk ke dalam golongan yang masuk neraka ? Apakah meyakini hukum manusia (KUHAP) lebih baik dari hukum Allah merupakan penyimpangan dari Tauhid Pokok?
Terima kasih sebelumnya.

@ipit.darmadjie – Kota Batam

Jawab

Pak Ipit yg dirahmati Allah SWT. Tentang hadist 73 golongan memang banyak dibicarakan antar ormas2 Islam & gerakan2 da’wah Islam. Siapakah sebenarnya 72 golongan yg masuk ke dalam neraka & siapakah sebenarnya 1 golongan yg selamat masuk ke dalam surga? Ada yg
Mengklaim bhw kelompoknya adl Ahlu sunnah waljama’ah shg termasuk 1 golongan yg masuk ke dlm surga & yg lainnya masuk ke dlm neraka.

Berikut ini sy kutip tulisan Ust.Abu Al-Wafa Romli tentang penjelasan hadist 73 golongan & siapa sebenarnya Ahlu sunnah waljama’ah.

Ahlussunnah Waljama’ah artinya adalah orang-orang yang meyakini (mengimani), mempraktekkan (mengamalkan) dan memperjuangkan (mendakwahkan) sunah Nabi saw dan sunah para sahabatnya. Sedangkan miturut al-Jurjani dalam kitab Ta’rifat-nya; Ahlussunnah Waljama‘ah adalah penganut kebenaran (ahlul haq), yaitu orang-orang yang meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan kebenaran yang dicapai atau dihasilkan melalui berbagai hujjah (dalil) dan burhan (bukti) dari Allah swt.

Ahlussunnah Waljama’ah adalah lawan dari penganut hawa nafsu (ahlul ahwa`), yaitu mereka (ahlul kiblat / orang Islam) yang keyakinanya berbeda dengan keyakinan Ahlussunnah, seperti kelompok Jabariyyah, Qadariyyah, Rawaafidl (syi’ah ekstrem), Khawaarij, Mu’athilah dan Musyabbihah, di mana setiap kelompok terpecah menjadi 12 kelompok, maka jumlahnya menjadi 72 kelompok. Perkataan al-Jurjani ini sesuai dengan situasi serta kondisi (realita) saat itu. Sedangkan untuk situasi serta kondisi kekinian, pengikut hawa nafsu dan bid’ah (ahlul ahwa’ wal bida’) di samping kelompok yang telah disebut di atas, juga adalah orang Islam (ahlul qiblat) yang keyakinan, amaliyah dan perjuangannya mengikuti dan/atau terhadap ideologi komunisme (termasuk sosialisme) dan ideologi kapitalisme berikut seperangkat ide, pemikiran, sistem dan hukum yang memancar dari keduanya, seperti sekularisme, liberalisme, libertinisme, pluralisme, singkretisme, demokrasi, HAM, dialog antar agama, doa bersama lintas agama dll.

Karena problem, penyimpangan serta tantangan dari dan terhadap Islam dan kaum muslim itu mengalami perubahan dan perkembangan dari masa kemasa. Jadi Aswaja itu dinamis, tidak stagnan (jumud), sesuai problem, penyimpangan serta tantangan yang ada pada masanya. Sedangkan metode yang dipakai oleh Aswaja pada masa Abu al-Hasan al-As’ari (W.324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W.333 H) dan tokoh ASWAJA yang lain untuk menjawab problem, penyimpangan dan tantangan pada masa itu, tidak akan bisa menjawab problem, penyimpangan dan tantangan dari dua idiologi di atas. Oleh karena itu doktrin yang diemban dan didakwahkan oleh Wali Quthub abad 19 M, Qadhi Taqiyyuddin An-Nabhani serta para syabab Hizbut Tahrir, adalah doktrin Aswaja pada masa ini, juga sebagai pelengkap serta penyempurna juga kritik terhadap doktrin Aawaja yang telah ada, karena yang namanya manusia itu tidak ada yang sempurna, kecuali baginda Nabi Muhammad saw. Dan kami telah mengerti bahwa bahwa suatu perkara yang dibuat dan dikerjakan oleh manusia selain Rasulullah SAW ketika telah sempurna, maka nampaklah kekurangannya. Dan fakta serta realita Salafush Shalih dan Para Imam Mujtahid juga saling mengkritik, melengkapi dan menyempurnakan, tidak saling menyesatkan (untuk lebih lengkapnya lihat buku saya ‘Nasehat Terbuka Untuk Himasal).

2.Hadis terkait Ahlussunnah Waljama’ah
عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “افترقت اليهود على إحدى وسبعين ملة وافترقت النصارى على انتين وسبعين ملة وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلها فى النار إلا ملة واحدة”، قالوا: “من هي يا رسول الله ؟” قال: “من كان على ما أنا عليه وأصحابي”. رواه الترمذي فى الإيمان باب ما جاء فى افتراق هذه الأمة من سننه ورواه أيضا الإمام أجمد فى المسند وإسناده صحيح.
Dari Abdulloh ibn al-‘Ash; Rasululloh SAW bersabda: “Umat Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok, umat Nasrani telah terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok di mana semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok”. Sahabat bertanya: “Wahai utusan Alloh, siapakah mereka?”. Nabi bersabda: “Siapa saja orang yang berpegang teguh (mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan) terhadap sunnah(doktrin, tuntunan atau metode)ku dan (sunnah) para sahabatku”

وفى رواية الطبراني: إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنتين فرقة وستفترف أمتي علي ثلاث وسبعين فر قة واحدة منها ناجية والباقون هلاكى”. قالوا : “وما الناجية يا رسول الله؟”. قال: “أهل السنة والجماعة”، قالوا: “وما أهل السنة والجماعة؟”، قال: “من كان على ما أنا عليه اليوم وأصحابي”.
Dalam riwayat at-Thabarani, Nabi saw. bersabda; ”Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok. Nasrani telah terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, darinya hanya ada satu kelompok yang selamat, sedang yang lain semuanya rusak”. Shabat bertanya; ”Siapakah kelompok yang selamat itu, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda; ”Ahlussunah Waljama’ah”. Mereka bertanya; ”Siapakah Ahlussunah Waljama’ah itu ?”. Beliau bersabda; ”Siapa saja orang yang berpegang teguh (meyakini, mempraktekkan dan memperjuangkan) dengan sunah (doktrin, tuntunan atau metode) ku pada hari ini dan (sunah) para shahabatku”.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:… وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم فى النار إلا ملة واحدة، قالوا ومن هي يارسول الله؟ قال:ما أنا عليه وأصحابي. أخرجه الترميذي والحاكم.
Dari Abdullah bin ‘Amer RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda:”… Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok di mana semuanya terjatuh ke neraka, kecuali satu kelompok”. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, siapakah mereka?”, beliau bersabda: “(orang-orang yang berpegang teguh terhadap) agama yang aku beserta para sahabatku berpegang teguh terhadapnya”. HR Tirmidzi dan Hakim.

عن معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنه أنه قام فينا فقال: ألا إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام فينا فقال: ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون فى النار وواحدة فى الجنة وهي الجماعة. زاد ابن يحيى وعمرو فى حديثيهما: وإنه سيخرج من أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب لصاحبه. وقال عمرو الكلب لصاحبه: لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله. أخرجه أبو داود واللفظ له والدارمي والحاكم وصححه ووافقه الذهبي.
Dari Muawiyah bin Abu Sufyan RA, dia berdiri di antara kami lalu berkata: “Ingat, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berdiri di antara kami lalu beliau bersabda: “Ingat, sesungguhnya orang-orang ahli kitab sebelum kalian telah terpecah menjadi 72 kelompok, dan bahwa kelompok ini akan terpecah menjadi 73 kelompok, di mana yang 72 kelompok terjatuh ke neraka, dan yang satu kelompok selamat masuk surga, yaitu al-Jama’ah”. Ibnu Yahya dan ‘Amer pada kedua hadisnya menambahkan: “Dan sesungguhnya akan keluar dari umatku beberapa kelompok yang diperbudak oleh hawa nafsu seperti penyakit anjing gila memperbudak korbannya”. ‘Amer berkata: “Sehingga tidak tersisa dari korbannya urat dan persendian kecuali dimasukinya”. HR Abu Dawud, al-Darimi dan al-Hakim, dan disahihkan oleh al-Hakim dan al-Dzahabi.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن بني إسرائيل افترقت على إحدى وسبعين فرقة وإن أمتي ستفترق غلى ثنتين وسبعين فرقة كلها فى النار إلا واحدة وهي الجماعة. أخرجه أحمد وابن ماجه واللفظ له والطبري.
Dari Anas bin Malik berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 71 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 72 kelompok di mana semuanya terjatuh ke neraka, kecuali satu kelompok, yaitu al-Jama’ah”. HR Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Thabari.

عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ستفترق أمتي على بضع وسبعين فرقة أعظمها فرقة قوم يقيسون الأمور برأيهم فيحرمون الحلال ويحللون الحرام. أخرجه الحاكم وصححه وسكت عنه الذهبي.
Dari ‘Auf bin Malik RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi lebih dari 70 kelompok, di mana mayoritas mereka adalah kelompok yang menganalogkan perkara dengan pendapatnya, lalu mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”.HR al-Hakim.

Kesimpulan:

a. Umat Islam terpecah menjadi 73 golongan di mana semuanya terjatuh ke neraka, kecuali satu golongan yang selamat (najiyah), yaitu Ahlussunnah Waljama’ah.

b. Ahlussunnah Waljama’ah adalah Siapa saja orang yang berpegang teguh (mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan) terhadap sunnah (doktrin, tuntunan atau metode) Nabi SAW dan (sunnah) para sahabatnya, pada hari di mana beliau Nabi dan para sahabatnya hidup.

c. Ahlussunnah Waljama’ah adalah mereka yang pada hari kiamat, yaitu ketika melintasi Jembatan (as-shirath al-mustaqim) mereka selamat (najiyah), yakni tidak tergelincir dan tercebur ke dalam neraka Jahanam. Bukan yang tergelincir dan terjatuh kedalam neraka lalu diselamatkan (manjiyah/munajjah).

d. Dan Ahlussunnah Waljama’ah adalah ahli surga. Yaitu mereka yang menerima, mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan Islam apa adanya, sesuai yang datang dari Nabi SAW dan para sahabat, tidak mengurangi dan tidak pula menambah-nambahnya, dan tidak menghalalkan yang haram dan tidak pula mengharamkan yang halal dengan mengikuti analog akalnya, atau akal-akalan.

Sedangkan mereka yang pada hari kiamat ketika melewati Jembatan yang Lurus tidak tergelincir dan tidak pula terjatuh ke dalam neraka itu bertingkat-tingkat sesuai iman dan amalnya ketika hidup di dunia:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يرد الناس كلهم ثم يصدرون عنها بأعمالهم. رواه الترميذي وأحمد عن عبد الله بن مسعود.
Rasululloh SAW bersabda: “Manusia semuanya datang ke Jembatan kemudian mereka keluar dari padanya sesuai amal perbuatan mereka”.

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: يرد الناس جميعا الصراط، وورودهم قيامهم حول النار، ثم يصدرون عن الصراط بأعمالهم، فمنهم من يمر مثل البرق، ومنهم من يمر مثل الريح، ومنهم من يمر مثل الطير، ومنهم من يمر كأجود الخيل، ومنهم من يمر كأجود الإبل، ومنهم من يمر كعدو الرجل، حتى أن آخرهم مرّاً رجل نوره على موضع أبهامي قدميه يمر فيتكفأ به الصراط، والصراط دحض مزلة، عليه حسك كحسك القتاد، حافتاه ملائكة معهم كلاليب من النار يختطفون بها الناس، وذكر تمام الحديث. رواه ابن أبي حاتم.
Dari Abdulloh ibnu Mas’ud RA berkata: “Semua manusia sampai ke Jembatan. Mereka berdiri di sekitar neraka. Kemudian mereka keluar dari Jembatan dengan amal perbuatannya. Maka di antara mereka ada yang melintas seperti petir, ada yang melintas seperti angin, ada yang melintas seperti burung, ada yang melintas seperti kuda yang cepat, dan ada yang melintas seperti laki-laki berlari. Sehingga akhir mereka yang melintas adalah laki-laki yang cahayanya berada di tempat kedua ibu jari kakinya. Ia melintas dengan cahaya itu meniti Jembatan. Sedangkan Jembatan itu sangat licin dan menggelincirkan. Di atasnya terdapat duri seperti duri pohon kelampis. Di dua tepinya ada banyak malaikat yang membawa besi-besi dari api yang bengkok dan runcing ujungnya untuk mengaiti manusia”.

وفى دقائق الأخبار قال وهب: أن النبي صلى الله عليه وسلم يدعو: يارب سلمْ سلمْ أمتي أمتي … فيركب الخلائق الجسر حتى يركب بعضهم على بعض، والجسور تضطرب كالسفينة فى البحر فى الريح العاصف، فتجوز الزمرة الأولى كالبرق الخاطف، والزمرة الثانية كالريح العاصف، والزمرة الثالثة كالطير المسرع، والزمرة الرابعة كالفرس الجواد، والزمرة الخامسة كالرجل المسرع، والزمرة السادسة كالماشية، والزمرة السابعة قدر يوم وليلة. وقال بعضهم: قدر شهرين، وبعضهم: قدر سنة وسنتين وثلاث سنين، حتى يكون زمن آخر من يمر على الصراط قدر خمس وعشرين ألف سنة من سني الدنيا.
Dan dalam kitab ‘Daqaiqul Ahbar’ kyai Wahab berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW berdoa: “Wahai Tuhan, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku …”. Lalu segenap mahluk (manusia dan jin) menaiki Jembatan sampai-sampai sebagian mereka menaiki sebagian yang lain. Sedangkan Jembatan itu bergoyang laksana perahu layar di lautan diterpa angin yang bertiup. Lalu golongan pertama dapat melintas seperti petir menyambar, golongan kedua seperti angin bertiup, golongan ketiga seperti burung yang terbang cepat, golongan keempat seperti kuda yang larinya cepat, golongan kelima seperti laki-laki yang berlari cepat, golongan keenam seperti hewan ternak berjalan, dan golongan ketujuh berjlalan kira-kira sehari semalam. Sebagian ulama berkata: “Kira-kira dua bulan”. Dan sebagian yang lain berkata: “Kira-kira setahun, dua tahun, atau tiga tahun”. Sehingga masanya orang yang terakhir melintasi Jembatan adalah kira-kira dua puluh lima ribu tahun, dari tahun-tahun dunia”.

Sedangkan mereka yang tergelincir dan terjatuh kedalam neraka Jahanam kemudian diselamatkan (dikeluarkan), maka mereka itu tidak termasuk Ahlussunnah Waljama’ah, karena seperti pada hadis di atas bahwa Ahlussunnah Waljama’ah adalah kelompok yang selamat (firqah najiyah), bukan kelompok yang diselamatkan setelah tercebur kedalam neraka (manjuwah atau munajjah).
Alloh SWT berfirman:

“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”. TQS Maryam [19]: 71-72.

Ibnu Katsir berkata:
وقوله تعالى: ثم ننجي الذين اتقوا، أي إذا مر الخلائق كلهم على النار وسقط فيها من سقط من الكافرين والعاصين بحسبهم، نجى الله تعالى المؤمنين المتقين منها بحسب أعمالهم، فجوازهم على الصراط وسرعتهم بقدر أعمالهم التي كانت فى الدنيا.
“Firman Alloh SWT (Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa), yakni ketika semua makhluk telah melintas diatas neraka dan telah terjatuh kedalamnya orang-orang yang terjatuh, yakni semua orang kafir dan yang maksiat, maka Alloh ta’ala menyelamatkan orang-orang yang beriman dan bertakwa dari neraka, sesuai amal perbuatannya. Jadi melintasnya mereka di atas Jembatan dan kecepatannya itu sesuai kadar amalnya ketika di dunia.

3.Konotasi Hadis Ahlussunnah Waljama’ah

Hadis Ahlussunnah Waljama’ah di atas membicarakan lintas umat dan lintas agama, yaitu umat dan agama Yahudi, umat dan agama Nasrani (Kristen), dan umat dan agama Islam. Maka saya berasumsi bahwa hadis tersebut adalah semakna (serupa) dengan rentetan ayat al-Qur’an berikut;

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan …..”. TQS Al-Baqaroh [2]: 146-148.

Rentetan ayat tersebut berbicara mengenai lintas umat dan lintas agama, yaitu umat dan agama Yahudi, umat dan agama Nasrani, yang keduanya ditunjukkan oleh kalimat “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-kitab (Taurat dan Injil)”, dan umat dan agama Islam, yang ditunjukkan oleh kalimat “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. Kemudian Alloh berfirman; “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan”, yang ditujukan kepada umat Islam. Ini sama dengan hadis Aswaja di atas yang membicarakan umat dan agama Yahudi, umat dan agama Nasrani, umat dan agama Islam, lalu membicarakan Ahlussunnah Waljama’ah yang ditujukan kepada umat Islam.

Demikian juga rentetan ayat berikut:

44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

45.Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

46.Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

48.Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah kamus berbuat kebajikan…..”. TQS Al-Maidah [5]: 44-48.

Rentetan ayat di atas juga berbicara lintas umat dan lintas agama seperti halnya rentetan ayat sebelumnya. Dan bukan kebetulan kalau Alloh juga menyeru; “maka berlomba-lombalah kamu berbuat kebajikan…”.

Setelah saya mengemukakan tiga poin pembahasan di atas, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah;

a. Ahlussunnah Waljama’ah adalah orang-orang yang meyakini (mengimani), mempraktekkan (mengamalkan) dan memperjuangkan (mendakwahkan) sunah Nabi saw dan sunah para sahabatnya, hanya itu, tidak yang lain.

b. Ahlussunnah Waljama’ah adalah mereka yang pada hari kiamat, yaitu ketika melintasi Jembatan (as-shirath al-mustaqim) mereka selamat (najiyah), yakni tidak tergelincir dan tercebur ke dalam neraka. Bukan yang tergelincir dan terjatuh ke dalam neraka lalu diselamatkan dan dimasukkan ke dalam surga (manjiyah / munajjah). Jadi Ahlussunnah Waljama’ah adalah Ahli surga (Ahluljannah).

c. Mereka yang selamat itu terbagi menjadi tujuh golongan di mana semuanya termasuk Ahlussunnah Waljama’ah (firqoh najiyah); Golongan pertama melintasi Jembatan dan sampai kesurga seperti petir menyambar, golongan kedua seperti angin bertiup, golongan ketiga seperti burung terbang cepat, golongan keempat seperti kuda berlari cepat, golongan kelima seperti laki-laki berlari cepat, golongan keenam seperti hewan ternak berjalan, dan golongan ketujuh melintasi jembatan kira-kira sehari semalam. Sebagian ulama berkata: “Kira-kira dua bulan”. Dan sebagian yang lain berkata: “Kira-kira setahun, dua tahun, atau tiga tahun”. Sehingga masanya orang yang terakhir melintasi Jembatan adalah kira-kira dua puluh lima ribu tahun, dari tahun-tahun dunia.

d. Mereka yang ketika melintasi Jembatan tergelincir dan terjatuh ke dalam neraka kemudian diselamatkan dan dimasukkan ke dalam surga (firqoh manjiyah / munajjah) sesuai kadar iman dan amalnya ketika di dunia itu tidak termasuk Ahlussunnah Waljama’ah, karena mereka tidak selamat.

e. Konotasi hadis Ahlussunnah Waljama’ah adalah ‘berlomba-lomba berbuat kebaikan’ (fastabiqul khairot), yaitu berlomba-lomba mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan sunnah Nabi SAW dan sunnah para sahabatnya, bukan nama madzhab, jama’ah, organisasi, atau kelompok.

f. Maka ketika ada orang yang berkata: “Saya adalah Ahlussunnah Waljama’ah”, konotasinya adalah: a) “Saya mengimani, mengamalkan dan mendakwahkan sunnah Nabi SAW dan sunnah para sahabatnya”, dan b) “Saya adalah ahli surga”. Maka tidak layak, bahkan memalukan bagi orang yang suka ‘merekayasa, berdusta, memitnah dan memprofokasi’ mengklaim sebagi Ahlussunnah Waljama’ah, karena amal tersebut adalah amalnya ahli neraka.

4.Pemikiran Yang Diklaim Sebagai Pemikiran Aswaja

Yang saya maksud di sini adalah pemikiran yang menyalahi atau kontradiksi dengan pemikiran Ahlussunnah Waljamaah (ahli surga) namun diklaim sebagai pemikiran Ahlussunnah Waljamaah. Pemikiran tersebut adalah pemikiran maksiat, munkar, fasik, zalim, bahkan kafir, yakni pemikiran ahli neraka, baik yang abadi di neraka atau yang kemudian diselamatkan dan dimasukkan ke dalam surga.

Pemikiran tersebut adalah pemikiran yang merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi. Atau pemikiran yang menolak diterapkannya syariat Islam secara sempurna melalui penegakkan Daulah Khilafah Rosyidah. Atau pemikiran yang memancar dari akidah sekularisme dan materialisme dimana keduanya sebagai landasan pemikiran bagi ideologi kapitalisme dan ideologi komunisme, seperti demokrasi, HAM, nasionalisme, pluralisme, sinkretisme, dialog antar agama, doa bersama lintas agama, dan sosialisme (untuk menjelaskan satu persatunya saya telah menulis buku ‘Rekontruksi Doktrin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam Menyongsong Tegaknya Daulah Khilafah Rosyidah’ yang cukup tebal dan insya Alloh akan segera diterbitkan).

5.Topeng

Topeng (wajhun musta’ar) adalah penutup muka berbentuk muka, atau muka buatan dengan berbagai karakternya, dari yang buruk sampai yang ganteng dan cantik, dari jenis manusia atau hewan, bahkan jenis setan dan sebagainya, yang dipakai untuk menyembunyikan dan menyamarkan muka asli, dan menampilkan muka lain yang dikehendaki, atau untuk mengelabuhi dan menipu. Sedangkan topeng dalam tulisan ini adalah klaim Ahlussunnah Waljamaah sebagai ahli surga, yang dipakai oleh ahli-ahli di atas, atau oleh ahli neraka. Tujuannya sangat jelas yaitu untuk menjauhkan umat dari jamaah yang direkayasa, dibohongi, difitnah dan diprovokasi terhadapnya.

Wallahu a’lam

Menikah itu butuh ilmu

Assalamu’alaikum wr.wb,

Pak ustad saya mau bertanya di postingan sebelumny pernah di singgung bahwa menikah itu butuh ilmu. Akan tetapi saya merasa saya belum memiliki ilmunya. Dan saya tidak tahu ilmu apa yg haris dipunyai. Apabila ada yg melamar . Bagaimana seharusny respon saya?

Dari Siti-Unimed Medan

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb,

Ukhti Siti didlm menjalani kehidupan ini mutlak membutuhkan ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu agama. Ilmu ibarat cahaya yg dpt menerangi kegelapan. Ilmu itu dpt meningkatkan keyakinan & meninggalkan keraguan. Ilmu dpt meningkatkan derajat manusia disisi Allah SWT, sementara kebodohan dpt merendhkan derajat manusia. Sehingga Islam mewajibkan bagi kaum muslimin utk menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya : ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR.Ibnu Majah).

Diantara luasnya khazanah tsaqofah Islam adl ilmu Fiqh bab Munakahat (pernikahan). Bagi seorang muslimah yg akan menikah jg diwajibkan utk mempelajari Fiqh wanita khususnya bab munakahat. Diantara faedah nya adl memahami & mengetahui proses utk mencari jodoh mulai dari ta’aruf (perkenalan) melalui orang2 yg terdekat, memahami adab ta’aruf, memahami khitbah (melamar), syarat2 & rukun menikah, mengetahui hak & kewajiban suami-isteri, mempelajari hukum thalaq hingga mengasuh & mendidik anak.

Terkait dgn ilmu agama proses ta’aruf diantaranya Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

Artinya : “Apabila datang kpd kalian seseorang yg kalian ridhai agama & akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi & kerusakan.” (HR.At-Tirmidzi no.1.085, hadits ini derajatnya hasan).

Wallahu a’lam
[21:12, 1/8/2017] Tommy Abdillah Ustadz: Assalamu’alaikum

Pak ustadz maaf sy ingin bertanya beberapa thn yg lalu mungkin lebih dari 5 thn sy lupa. Ada seorang ibu hamil menangis krn faktor ekonomi dan anaknya byk  beliu ingin kelak jika anaknya lahir ingin diberikan kpd org yg mampu. Singkat cerita sth by lahir sy fasilitasi bayii tersebut akhirnya diberikan kpd org yg mampu. Bayi itu laki laki. Sampai sekarang by tersebut blm mengetahui siapa org tua kandungnya. Yg jd gannjalan di hati sy spakah sy berdosa krn by trsbt tdk mengetahui nasabnya. Apakah‬ pd saat itu tdk terbersit sedikitpun dlm pikiran sy dampak seperti ini yg akan terjadi. Dlm pikiran sy hanya ada niat ingin menolong saja tdk ada yg lain selain itu.

Dari ibu Halimatussya’diyah – Kota Bandung

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb, Ibu Halimatussa’diyah sebelumnya sy minta maaf baru bisa menjawab pertanyaannya krn tadi malam sy ada jadwal pengajian & pulangnya sdh larut malam.

Terkait dgn memberikan pengasuhan anak orang yg tdk mampu kpd orang lain yg terkategori mampu adl mubah.  Sebagaimana Rasulullah SAW tlh mengangkat seorang anak bernama Zaid bin Haritsah.

Islam membolehkan mengangkat anak tp melarang menganggap anak angkat sbg anak kandung. Larangan ini bersifat tegas (Jazm) utk menghapuskan adat kebiasaan (urf) orang2 Arab jahiliyah. Allah SWT berfirman,

وَمَاجَعَلَ أَدْعِيَآءَكُمْ أَبْنَآءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ . ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ

Artinya : “Dia (Allah) tidak menjadikan anak2 angkat kalian sebagai anak2 kandung kalian. Yg demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya & Dia menunjukkan jalan yg benar. Panggillah anak2 angkat tersebut dengan memakai nama bapak2 mereka, itulah yg lebih adil di sisi Allah.”(QS.Al-Ahzab:4-5).

Bila ibu Dyah diawal menolong sang ibu dari himpitan ekonomi saat hendak melahirkan lalu menyerahkan bayi itu kpd orang lain tanpa maksud yg lain maka in syaa Allah hal yg demikian itu tdk termasuk dlm perkara dosa ataupun maksiat. Sebab dilakukan tanpa unsur kesengajaan.
Rasulullah SAW bersabda,

اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

Arrinya : “Sesungguhnya Allah tlh memaafkan dari umatku kekeliruan, kealpaan & apa2 yg dipaksakan terhadap mereka.”(HR.Ibnu majah).

Saat ini ibu dyah memiliki kewajiban menemui orang tua anak angkat tadi utk menjelaskan perihal kedudukan orang tua kandung anak tsb. Bila perlu kelak ketika anak itu sdh dewasa dipertemukan kpd orang tua kandungnya. Sebab dikhwatirkan sanng anak menganggap bhw kedua orang tua angkatnya saat ini adl kedua orang tuanya kandung. Dlm hal ini bila sang anak tdk mengetahui nasabnya Allah SWT berfirman,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ

Artinya : “Dan tiada dosa bagi atas apa yg tidak kamu sengaja, akan tetapi yg ada dosanya adalah yg disengaja oleh hatimu..(QS.Al-ahzab:5).

Al–imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, jika manusia menasabkan seseorang kpd bapak angkatnya dikarenakan suatu kekeliruan atau terlanjur terucap tanpa ada unsur kesengajaan, maka tidak dihitung sbg dosa. Beliau menyebutkan riwayat dari Qatadah rahimauhllah yg menyatakan, apabila Anda menasabkan seseorang kpd yg bukan bapak kandung, berdasarkan persangkaan Anda, maka Anda sama sekali tdk berdosa.(Tafsir Al-jami’ liahkamil qur’an 14:109).

Wallahu a’lam

Kritik kepada penguasa

Assalamualaikum…
Ust. Mengenai berita yg beredar terhadap pemerintahan sekarang, utusan mahasiswa dari berbagai daerah sudah melakukan musyawarah. Yg isinya menyerukan semua mahasiswa se-Indonesia untuk turun kejalan, untuk menyuarakan inspirasi rakyat yg semakin tertindas akibat kebikajan pemetintah yg terlihat tidak pro rakyat dan melempar tanggung jawab.
Selain itu juga, akan ada penyeruan reformasi jilid 2. Entah itu waktu itu juga atau menunggu proses dari pemerintah.
Pertanyaannya, bagaimana kalau memang reformasi jilid 2 ini benar2 berlangsung/terjadi?
Dan bagaimana saya selaku mahasiswa untuk menanggapinya?

Dari Hendra – Tasikmalaya

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb, Akhi Hendra yg dirahmati Allah SWT. Situasi & kondisi ekonomi masyarakat hari ini memang sedang tak menentu. Artinya daya beli masyarakat sangat lemah & pengangguran meningkat shg jumlah kemiskinan terus bertambah. Apalagi pemerintahan Jokowi-Jk per awal January kemaren menaikkan harga BBM & tarif dasar listrik (TDL).

Mahasiswa sbg kaum intelektual & agen perubahan masyarakat ikut andil utk peduli mengatasi problematika bangsa shg mrk mengikuti jejak generasi mrk terdahulu di Indonesia ada angkatan 66, angkatan 78 & angkatan gerakan reformasi 98. Alhamdulillah saya termasuk aktivis kampus era 98.

Apa yg direncanakan oleh gerakan mahasiswa se-Indonesia utk melakukan aksi demonstrasi reformasi jilid ke-2 utk mengoreksi penguasa menurut saya adl bagian dari aktivitas amar ma’ruf & nahyi mungkar.

Terkait dgn masyiroh atau unjuk rasa damai hanyalah uslub atau teknik atau cara dlm menyampaikan pendapat atau menyadarkn masyarakat utk membentuk opini publik menegakkan yg ma’ruf & mencegah yg mungkar.

Unjuk rasa berbeda dgn Demonstrasi sebab demonstrasi cenderung anarki & menimbulkan kedzoliman bagi masyarakat luas.

Bila fakta hukum antara unjuk rasa dgn demonstrasi berbeda maka kesimpulan hukumnya berbeda. Sementara kaidah ushul fiqh menyatakan, Al-ashlu filaf’ali taquyyudu bilhukmi syaar’i yaitu hukum asal perbuatan manusia terikat dgn hukum syara’.

Hukum asal berbicara ditempat umum utk mengoreksi penguasa yg dzalim tanpa ada bermaksud mendzalimi apalagi menimbulkan pertumpahan darah ditengah2 masyarakat adl mubah.

Salah satu bentuk aktivitas politik Islam adl melakukan koreksi thp kebijakan penguasa ketika menyimpang dari prinsip2 ajaran Islam. Aktivitas ini dpt dilakukan oleh individu, jama’ah maupun lembaga representatif ummat (majelis ummat). Aktivitas mengoreksi penguasa bagian dari aktivitas menyerukan yg ma’ruf & mencegah dari yg mungkar. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ .( رواه مسلم)

Artinya :“Barangsiapa diantara kamu yg melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dgn tangannya, jika ia tdk mampu maka dgn lidahnya, jika tdk mampu maka dgn hatinya & itulah selemah2 iman “(HR.Muslim).

Hukum mengoreksi penguasa (muhasabah li alhukkam) adl fardhu atas kaum muslimin. Benar, seorang penguasa wajib ditaati walaupun mrk melakukan kedzaliman & memangsa hak2 rakyat. Akan tp taat kpd penguasa lalim bukan berarti meniadakan kewajiban melakukan koreksi atas diri mrk atau berdiam diri thp kemungkaran mrk.(Ref : Panduan lurus memahami Khilafah Islamiyyah menurut kitab kuning).

Mengoreksi Penguasa Bukan Ghibah.

Mengkritik penguasa di muka umum hukumnya boleh & tdk termasuk ghibah yg dilarang dlm Islam. Dalilnya ada dua yaitu :

1. Dalil2 mutlak mengenai kritik kpd penguasa bagian dari aktivitas amar ma’ruf & nahyi mungkar sprti hadist :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ، كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Artinya : ”Seutama2 jihad adl menyampaikan kalimat yg adil (haq) kpd penguasa (sulthan) yg zhalim.” (HR. Abu Dawud no.4.346).

Dalil ini mutlak, yakni tanpa menyebut batasan tertentu mengenai cara mengkritik penguasa, apakah secara terbuka atau tertutup. Maka boleh hukumnya mengkritik penguasa secara terbuka, berdasarkan kemutlakan dalil tsb sesuai dgn kaidah ushul fiqh :

العطلق يجري على عطلق مالم يرد الدليل يدل على التقيد

Artinya : Dalil mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan batasan/syarat). (Ref : M. Abdullah Al Mas’ari, kitabMuhasabah Al-Hukkam, hlm. 60).

Bolehnya mengkritik secara terbuka jg diperkuat dgn praktik para shahabat Nabi Muhammad SAW yg sering mengkritik para Khalifah secara terbuka. Diriwayatkan dari ‘Ikrimah r.a, Khalifah Ali bin Abi Thalibr.a tlh membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kpd Ibnu Abbas r.a, maka berkatalah Ibnu Abbas r.a :

لو كنت أنا لم أحرقهم، لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تعذِّبوا بعذاب الله. ولقتلتهم، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بدَّل دينه فاقتلوه

Artinya : ”Kalau aku, niscaya tdk akan membakar mereka krn Nabi SAW tlh bersabda, Janganlah kamu menyiksa dgn siksaan Allah (api) & niscaya aku akan membunuh mereka krn sabda Nabi SAW, Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari no. 6.524). Hadits ini jelas menunjukkan Ibnu Abbas tlh mengkritik Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a secara terbuka di muka umum. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al I’lam fi Al Daulah Al Islamiyah, hlm.25).

2. Adanya dalil2 bhw mengkritik penguasa yg zhalim tidaklah termasuk ghibah yg diharamkan dlm Islam. Imam Nawawi rahimahullahu didalam kitab Riyadhus Shalihin tlh menjelaskan banyak hadits Nabi SAW yg membolehkan ghibah2 tertentu sbg perkecualian dari hukum asal ghibah (haram).

Misalnya, hadits dari ‘A’isyah radhiyallahu ‘anha :

عن عائشة رضي الله عنها أن رجلاً استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رآه قال: (بئس أخو العشيرة، وبئس ابن العشيرة)

Artinya : “Seorang laki2 minta izin (untuk bertemu) Nabi SAW, kemudian Nabi SAW bersabda, Dia adl saudara yg paling jahat bagi keluarganya atau anak yg paling jahat di tengah2 keluarganya.”(HR. Bukhari no 5.685 & Muslim no.2.591).

Hadits ini menunjukkan Nabi SAW telah melakukan ghibah, yaitu menyebut seseorang di hadapan umum lantaran kejahatan orang itu.

Berdasarkan dalil2 semacam ini, para ulama tlh menjelaskan bhw ghibah di hadapan umum kpd orang yg jahat, termasuk jg penguasa yang zalim, hukumnya boleh. Imam Ibnu Abi Dunya rahimahullahu meriwayatkan pendapat Ibrahim An Nakha`i (seorang tabi’in) yg berkata :

ثلاث لا يعدونه من الغيبة : الامام الجائر والمبتدع والفاسق المجاهر بفسقه

Artinya : Ada tiga perkara yg tdk dianggap ghibah oleh mereka (para shahabat), yaitu; imam yg zalim, orang yang berbuat bid’ah & orang fasik yg terang2 an dgn perbuatan fasiknya.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata :

ثلاث ليس لهم غيبة : صاحبهوىوالفاسق المعلن بالفسق والامام الجائر

Artinya : Ada tiga orang yg boleh ghibah padanya, yaitu; orang yg mengikuti hawa nafsu, orang fasik yg terang2 an dgn kefasikannya & imam yg zhalim.” (Ibnu Abi Dunya, kitab Al-Shumtu wa Adabul Lisan, hlm. 337 & 343).

Memang ada ulama yg mengharamkan mengkritik pemimpin secara terbuka berdasar hadits Iyadh bin Ghanam, bhw Nabi SAW berkata

من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه له

Artinya : ”Barangsiapa hendak menasehati penguasa akan suatu perkara, janganlah dia menampakkan perkara itu secara terang2 an tp peganglah tangan penguasa itu & pergilah berduaan dengannya. Jika dia menerima nasehatnya, itu baik, kalau tdk, orang itu tlh menunaikan kewajibannya pd penguasa itu.” (HR.Ahmad, Al Musnad, Juz III no. 15369).

Namun hadits ini dha’if shg tdk boleh dijadikan hujjah krn 2 alasan : 1. Sanadnya terputus (inqitha’) & 2. Ada periwayat hadits yg lemah, yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Iyasy. (M. Abdullah Al Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm. 41-43).

Wallahu a’lam

ISTIGHFAR

ISTIGHFAR
••••••••••••••••••••••••••
Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;
Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain disini, syaikh?.”

Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan:
1⃣bisa untuk orang tua, 2⃣orang kaya ataupun 3⃣orang yg berilmu.
Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar & ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih & zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”
Kata marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

Imam Ahmad bercerita,
“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”

Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi syaikh?”_ Kata marbot.
“Mau tidur, saya musafir”_ kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata;
“Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.”_ Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, _”saya didorong-dorong sampai jalanan.”

Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat & menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.

Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yg sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan ISTIGHFAR. “Astaghfirullah”

Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur_astaghfirullah_ , mencampur gandum astaghfirullah . Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu imam Ahmad bertanya, “sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

Orang itu menjawab;
“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

Imam Ahmad bertanya;
“Apa hasil dari perbuatanmu ini?”

Orang itu menjawab;
“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah…., langsung diwujudkan.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda;
“Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya.”

Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yg belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya;
“Apa itu?”

Kata orang itu;
“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.”

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, _”Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan – sampai didorong-dorong oleh marbot masjid – Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU.”

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yg didepannya adalah Imam Ahmad.

Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

(SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

Saudaraku & Sahabatku tercinta….. Mulai detik ini – marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR – kapanpun dan di manapun berada

Amalan Ikhlas Tanpa Pujian

 

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Memberi & menolong tanpa pamrih adalah sikap yg mulia lagi terpuji. Terpujianya suatu sikap ataupun perbuatan tidak akan ada dgn sendirinya tanpa diuji oleh Allah SWT. Orang yg ikhlas memberi akan diuji bila pemberiannya itu tidak dibalas dgn pujian shg ia pun tdk akan mengungkit pemberiannya.

Orang yg ikhlas menolong akan diuji bila pertolongannya tdk diingat oleh orang yg pernah ia tolong shg ia juga tdk mau membalas memberi pertolongan kpd orang yg pernah menolong dirinya. Kebaikan apapun yg pernah diberikan kpd orang lain maka tdk perlu di ingat & diharapkan balasannya bahkan segera lupakan saja agar tetap terjaga keikhlasannya. Sebab kita berbuat kebaikan bukan utk mengharapkan balasan dari manusia tetapi balasan dari Allah SWT.

Balasan dari manusia tak seberapa tetapi balasan dari Allah SWT luar biasa tanpa ada batasannya baik ketika ia msh hidup didunia apalagi kelak diakhirat. Pemberian & pertolongan akan terjaga keikhlasannya bila tetap dirahasiakan serta dilupakan. Sebagaimana tangan kanan memberi sementara tangan kiri tdk pernah melihatnya.

Allah SWT berfirman, “Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut nya & menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yg menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia & dia tidak beriman kepada Allah & hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yg di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tdk bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yg mereka usahakan & Allah tidak memberi petunjuk kepada orang2 yg kafir.(QS.Al-Baqarah:264).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Hukum orang Islam yg menghadiri proses pemakaman orang yg beragama Kristen di Gereja

Assalamu’alaikum wr.wb,

Ustadz Saya mau bertanya tentang hukum orang Islam yg menghadiri proses pemakaman orang yg beragama Kristen di Gereja. Syukran

Dari Ibu Dyah – Kota Bandung

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb,

Ibu Dyah yg dirahmati Allah SWT. Proses pemakaman jenazah dgn disemayamkan didlm Gereja adl bagian dari rangkaian ibadah ummat Nashrani.

Bila seorang mukmin bersengaja mengikuti proses ibadah mrk maka hukumnya adl Haram, bahkan bila sampai kpd tataran i’tiqodi (keyakinan) maka jatuh hukumnya murtad. Terkait dgn mengikuti kebiasaan orang2 Yahudi & Nashrani Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya : “Barangsiapa yg menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.”(HR. Ahmad).

Adapun bila mengikuti mrk krn disebabkan oleh ketidak fahaman maka jatuh hukumnya kejahilan krn melakukan suatu amal perbuatan tanpa dasar ilmu agama Islam. Allah SWT berfirman,

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء : 36]

Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS.Al-Isra’:36).

Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas, Qatadah mengatakan bhw makna yg dimaksud adl janganlah kamu mengatakan bhw kamu melihatnya, padahal kamu tdk melihatnya atau kamu katakan bhw kamu mendengarnya, padahal kamu tdk mendengarnya atau kamu katakan bhw kamu mengetahuinya, padahal kamu tdk mengetahui. Krn sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal tersebut secara keseluruhan.

Jd termasuk melakukan suatu perbuatan wajib mengetahui status hukum perbuatan sebab seluruh perbuatan & ucapan akan dimintai pertanggung jawaban.

Sementara seseorang yg melakukan sesuatu yg terlarang krn tdk faham maka hal ini termasuk perbuatan yg dimaafkan. Tp dia berdosa krn tdk mau belajar agama Islam. Rasulullah SAW bersabda,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ. حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَـا

Artinya : Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma bhw Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda, ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memaafkan kesalahan (yang tanpa sengaja) dan (kesalahan karena) lupa dari umatku serta kesalahan yg terpaksa dilakukan.(HR.Ibnu Majah).

Wallahu a’lam

Keteladanan Pemimpin

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar segala isi hati dan Maha Mengetahui segala rahasia, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Keterampilan dari seorang pemimpin bukanlah hanya terampil memberikan instruksi saja kepada bawahannya, bukan hanya terampil memberi hukuman saja pada yang dipimpinnya, bukan pula hanya keterampilan membakar semangat bawahannya untuk kerja, kerja dan kerja.  Melainkan ada yang jauh lebih penting yaitu keterampilan memberi keteladanan, memberi contoh yang baik secara nyata.

Ada seorang pemimpin yang berorasi mengajak yang ia pimpin untuk bekerja disiplin, sedangkan dirinya sendiri berleha-leha di kantornya. Ada pemimpin yang menggebu-gebu berteriak agar semua orang menjauhi perbuatan korupsi, akantetapi malah dia yang digiring polisi karena memanipulasi anggaran. Ada pemimpin yang dengan fasihnya mengajak yang ia pimpin untuk menjaga kebersihan, akantetapi dirinya malas menyapu mejanya sendiri.

Alloh Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shoff [61] : 2-3)

Saudaraku, jikalau Alloh menakdirkan kita sebagai seorang pemimpin, maka marilah kita ikuti apa yang telah Rosululloh Saw. contohkan kepada kita. Beliau senantiasa menjadi orang yang pertama mengamalkan kebaikan sebelum mengajak orang lain untuk melakukannya. Keberhasilan seorang pemimpin adalah berbanding lurus dengan sebaik apa ia memimpin dirinya sendiri. Kegagalan seorang pemimpin dalam memimpin sesungguhnya disebabkan kerapuhan ia dalam memimpin dirinya sendiri.

Setiap pemimpin mendambakan orang-orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang yang jujur, disiplin, bertuturkata baik dan bersikap baik. Maka semua itulah yang perlu ia lakukan sebelum orang-orang yang ia pimpin melakukannya. Kepemimpinan adalah amanah dari Alloh Swt. Semoga kita yang sedang diamanahi kepemimpinan, termasuk para pemimpin yang senantiasa memberi keteladanan dan mendapat ridho Alloh Swt. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.

 

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung

Uwais Al-Qarni Terkenal Di Langit Tapi Tidak Terkenal Di Bumi

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Subhanallah