Warning: DOMDocument::loadXML() [domdocument.loadxml]: Start tag expected, '<' not found in Entity, line: 1 in /home/jalandakwah/public_html/wp-content/plugins/premium-seo-pack/modules/title_meta_format/init.social.php on line 481
Rabu , Desember 13 2017
Beranda » Kajian » Kisah Pemuda Penantang Allah dan Sepiring Makanan

Kisah Pemuda Penantang Allah dan Sepiring Makanan

KERAGUAN yang dimiliki oleh seorang pemuda membuat dirinya tak percaya bahwa Allah maha menguasai dan maha mengatur hambanya. Pemuda itu menantang Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan bisa membuatnya makan jika dirinya tidak mau makan. Untuk itu, ia membiarkan dirinya dalam keadaan lapar seharian.

Melihat tingkah anaknya, sang ibu berusaha membujuk agar pemuda itu mau menyantap masakannya. Bukannya menuruti apa yang dipinta sang ibu, pemuda itu justru mengisolasi dirinya dengan memanjat pohon yang berada depan rumahnya. Dengan penuh kasih sayang, ibunya meninggalkan makanan lezat di bawah pohon. Tujuannya agar anaknya menyerah dan kembali untuk makan.

Hingga larut malam, pemuda itu masih bersikeras tidak mau makan. Lalu, lewatlah sekelompok perampok. Mereka melihat sepiring makanan lezat ditempatkan di bawah pohon. Para perampok itu saling memandang keheranan. Mereka berpikir, mungkin ada seseorang yang hendak menjebak mereka dengan menaruh racun di dalam makanan yang disimpan di bawah pohon itu.

Tak ada siapapun di sekeliling pohon itu. Lalu, tatkala salah satu perampok melihat pemuda penantang Allah tadi berada di atas pohon, dipaksalah pemuda itu turun. Dengan wajah ketakutan ia turun mendekati para perampok. Setelah berada di bawah bersama mereka, para perampok itu menyuruh si pemuda untuk mencicipi makanan. Mereka ingin mengetahui apakah sepiring makanan lezat itu ditaruh racun atau tidak.

Pemuda itu menolak. Ia tak mau memakan makanan itu. Para perampok semakin curiga bahwa makanan tersebut adalah jebakan untuk mereka. Lalu dipukullah pemuda tadi agar mau menyantap makanan itu. Karena kesakitan, pemuda tersebut akhirnya menyerah dan mulai makan. Melihat bahwa makanan itu tidak beracun, para perampok meninggalkannya dan berlalu begitu saja. Akhirnya, pemuda itu mengakui bahwa “Allah Maha Menguasai dan Mengatur atas segala sesuatu!”

Tentang Agus Waldiono