Warning: DOMDocument::loadXML() [domdocument.loadxml]: Start tag expected, '<' not found in Entity, line: 1 in /home/jalandakwah/public_html/wp-content/plugins/premium-seo-pack/modules/title_meta_format/init.social.php on line 481
Jumat , September 22 2017
Beranda » Kajian » Jangan Mencela Kebenaran yang Belum Bisa Kita Terima

Jangan Mencela Kebenaran yang Belum Bisa Kita Terima

ADA satu quote mengena sekali—setidaknya bagi saya-pada cerpen yang juga sudah difilm-kan bagian pertamanya, “Ketika Mas Gagah Pergi”.

Saya lupa persisnya gimana bunyi quote tersebut, namun kurang lebihnya seperti judul di atas.

Ada begitu banyak kebenaran yang belum kita ketahui. Atau mungkin sudah kita ketahui, namun belum bisa kita terima, sehingga membuat kita belum tergerak untuk melaksanakan.

Sebelumnya saya pernah membahas, bahwa seringkali masalah kita hanya karena beda sudut pandang. Dan perihal sudut pandang ini tentunya nggak sekonyong-konyong muncul, melainkan ada sebab-akibat mengapa seseorang bersikap begini begitu.

Menurut pengamatan saya, ada tiga faktor utama yang membuat seseorang mengambil sikap terhadap suatu kebenaran. Entah itu yang sifatnya perintah atau larangan.

1. Ilmu
2. Kondisi yang tengah dihadapi
3. Tingkat Keimanan

Itu mengapa dalam Al-Qur’an, ketika Allah melarang beberapa jenis makanan dan minuman untuk dikonsumsi oleh orang beriman, Allah memberikan keringanan.

“…tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya ….” (Al-Baqarah : 173)

Tiga faktor di atas adalah kombinasi paling paripurna ketika seseorang memutuskan untuk menjalankan suatu perintah atau justru mengingkarinya.

#

Saya tidak sedang ingin mengambil contoh orang lain, tapi ini tentang apa yang sudah saya alami.

Misalnya tentang perintah berhijab.

Ayah saya sudah meminta saya untuk berhijab sejak saya hendak masuk SMP. Namun saat itu, saya merasa belum siap dan berjanji, “Nanti saja, kalau sudah SMA.”

Dan beliau tidak memaksakan hal tersebut selama 3 tahun saya berseragam putih-biru.

Ketika sudah lulus SMP dan hendak memasuki Sekolah Menengah Atas, yang memotivasi saya untuk berhijab bukanlah karena ilmu. Bukan karena saya sudah tahu apa bunyi ayat dalam Al-Qur’an yang menjadi dalil perintah menutup aurat bagi seorang muslimah. Bukan sama sekali. Saya tidak peduli dan tidak mau tahu soal itu. Tapi karena satu hal … Saya SUDAH BERJANJI pada ayah saya. Dan yang saya tahu saat itu, janji adalah sesuatu yang harus dipenuhi, karena manusia itu yang dipegang adalah ucapannya. Saya tidak mau, suatu hari di lain kondisi, ayah saya menjadi tidak percaya lagi terhadap janji atau ucapan putri sulungnya. Ya, hanya sebatas itu alasan saya berhijab 12 tahun lalu.

Hal lain tentang masalah interaksi dengan lawan jenis. Sebelum hari ini, beberapa teman mengenali saya sebagai orang yang memilih untuk tidak berpacaran. Di masa lalu, saya ini bahkan pernah bercita-cita punya pacar 4-5 kali dulu, baru nanti menikah.

Di masa itu, punya pacar bagi remaja putri seperti saya, seperti sebuah prestasi yang membanggakan. Semakin banyak punya mantan pacar, itu tandanya seseorang semakin menarik bagi lawan jenisnya. Ya, itu kesimpulan yang ada dalam benak saya beberapa tahun silam. Dan mungkin sedang tumbuh subur di benak remaja putra-putri saat ini.

Hingga seiring berjalannya waktu, dipertemukannya saya dengan ilmu yang tak mampu lagi saya berkelit dari kebenarannya, kondisi demi kondisi yang membuat saya menyimpulkan hal lain; pacaran itu tak se haha-hihi dan tak se-membanggakan apa yang saya pikirkan di masa lalu. Pacaran itu urusan perasaan. Dan dari perasaan itu, muaranya bisa ke mana-mana. Bukan hanya perzinahan, tapi bahkan bisa sampai di insiden menghabisi nyawa orang lain. Jika kalian menganggap ini lebay, agaknya kalian harus lebih sering update berita kriminal yang seringkali diawali dari perasaan cemburu dan sebagainya deh.

Hijab dan pacaran, hanya dua dari banyak perkara di masa lalu yang saya abaikan kebenarannya. Dan ketika kini, ilmu sudah sampai, kondisi sudah mendukung, tinggal tingkat keimanan sajalah penentunya; saya mau taat, atau mau cari seribu satu alasan lagi untuk membangkangnya?

Belajarlah untuk menghargai pilihan hidup orang lain, apalagi kalau hati kecil kita sebenarnya sadar bahwa apa yang ia lakukan atau ia sampaikan bukanlah sesuatu yang buruk.

Siapa yang merendahkan siapa?
Siapa yang mencibir siapa?
Siapa yang mengolok-olok siapa?

Tak ada yang memaksa kita untuk tidak berpacaran, harus berhijab, harus begini begitu, apalagi hanya lewat kata-kata. Kalau kita belum bisa menerima sebuah kebenaran, sebaiknya diam saja dulu. Jangan lantas menolak, kemudian mencari-cari titik kelemahan apa dari si ‘penyampai kebenaran’, yang bisa kita serang.

Satu hal yang saya yakini, kalau benar kita menginginkan kebenaran dan sudah memohon dilapangkan hati untuk mengenali dan menerimanya, cepat atau lambat, Allah pasti akan memberikan hidayah-Nya pada kita. Pasti!

Sebaliknya, kalau dari awal hati kita emang cuma diniatkan untuk menyebarkan kebencian dan permusuhan, maka hal-hal buruk itu pula yang akan membinasakan kita dengan jalannya sendiri.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tentang Agus Waldiono