Warning: DOMDocument::loadXML() [domdocument.loadxml]: Start tag expected, '<' not found in Entity, line: 1 in /home/jalandakwah/public_html/wp-content/plugins/premium-seo-pack/modules/title_meta_format/init.social.php on line 481
Senin , November 20 2017
Beranda » Kajian » Gaya Hidup Muslim » Harta di Tangan Orang yang Shalih

Harta di Tangan Orang yang Shalih

Dari Amru bin Al’Ash, ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku.” Maka akupun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Beliau kemudian mendatangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya), Beliau lalu bersabda, “Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapatkan harta yang baik.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka beliau bersabda, “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih.” (HR. Ahmad 197, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

Pertama: Yang dimaksud orang yang shalih adalah orang yang memperhatikan dan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama.

Kedua: Harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan untuk maslahat dunia dan akhirat. Ini tentu saja yang pintar mengolahnya adalah hamba Allah yang shalih yang mengerti kedua masalah ini.

Ketiga: Harta yang tidak digunakan di jalan kebaikan dan melupakan kewajiban, harta seperti ini bisa jadi hilang berkah dan kebaikan di dalamnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menginfakkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no.1433 dan Muslim no.1029, 88). Oleh karena itu, harta tersebut sudah sepantasnya disalurkan pada hal-hal yang wajib, mulai dari menafkahi keluarga serta menunaikan zakat jika sudah mencapai nishob dan haul. Setelah itu, barulah disalurkan pada hal-hal lain yang bermanfaat.

Keempat: Hadits ini merupakan pertanda bolehnya seseorang mngumpulkan harta yang halal yang nantinya akan ia gunakan untuk memunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan pada dirinya. Ibnu Hibban membawakan hadits ini dalam kitab Shahihnya pada Bab “Mengumpulkan harta yang halal”.

Kelima: Tidak apa-apa seseorang itu kaya, asalkan bertakwa dan memiliki sifat qona’ah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69, shahih kata Syaikh Al Albani).

Al Baihaqi dalam kitab Adabnya membawakan hadits yang kita bahas ini dalam Bab “Tidak mengapa seseorang itu kaya, asalkan ia bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan ia menyalurkan hak tadi serta menempatkannya pada tempat yang benar.”

Oleh karena itu kaya harta tidaklah tercela. Namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Sumber : muslimah.or.id

Tentang Tim Jalan Dakwah